Hasil Pramusim Persebaya dan Bagaimana Respons Iwan Setiawan

Pemain Persebaya memberi hormat kepada Bonek usai pertandingan terakhir rangkaian tur pramusim di Stadion GBT melawan PSIS. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

EJ – Persebaya menyelesaikan tur pramusim edisi pertama dengan cukup baik. Sleman dan Semarang menjadi pilihan Persebaya untuk melakukan pertandingan uji coba. Di Sleman, tim asuhan pelatih Iwan Setiawan mengikuti serangkaian pertandingan dalam turnamen bertajuk Dirgantara Cup 2017. Sedangkan di Semarang, Persebaya meladeni tantangan tuan rumah PSIS Semarang di Stadion Jatidiri.

Secara total, dalam tur pramusim ke Sleman dan Semarang, Persebaya melakoni 6 pertandingan, dengan rincian 5 pertandingan di Sleman (Dirgantara Cup) dimana Green Force menjadi juara, serta 1 pertandingan di Jatidiri melawan PSIS. Jika ditambahkan dengan 1 laga kandang berlabel Homecoming Game di Gelora Bung Tomo melawan PSIS, maka total Persebaya bermain 7 kali dalam sesi pramusim edisi pertama.

Dari total 7 pertandingan pramusim yang sudah dilakoni Persebaya, Mat Halil cs. mencatatkan rekor 5 kemenangan dan 2 kekalahan, tanpa hasil seri. Catatan 5 kemenangan tentu merupakan rekor yang sangat baik untuk sebuah tim yang persiapan resminya bahkan tak sampai 2 bulan. Secara permainan, Persebaya pun juga mencatatkan rekor impresif selama pramusim jilid 1 dengan mencetak 12 gol, dan kemasukan 5 gol.

Formasi Tim dan Skema Permainan Sudah Terbentuk

Selama melakoni tur pramusim di Sleman dan Semarang, kemudian berakhir dengan laga kandang di GBT, coach Iwan Setiawan hampir selalu memainkan formasi tim yang sama, yaitu 4-2-3-1. Meski diselingi dengan rotasi pemain, coach Iwan tetap mempertahankan formasi yang sama.

Proyeksi starting eleven inti Persebaya

Dari tabel formasi di atas, poros permainan Persebaya dikendalikan oleh lini tengah yang diisi oleh Sidik Saimima (DMF), Misbakhus Solikin (CMF) dan Rendi Irwan (AMF). Sidik berperan sebagai gelandang “angkut air” yang tugasnya adalah memotong serangan lawan. Sementara Solikin merupakan seorang holding midfielder yang bertugas untuk memulai serangan serta membantu pertahanan. Sedangkan Rendi Irwan dengan eksplosivitas dan kecepatannya berfungsi sebagai perusak pertahanan lawan.

Kemampuan Solikin dalam men-delay bola juga sangat dimaksimalkan karena memiliki peran penting saat tim melakukan transisi dari menyerang ke bertahan, atau sebaliknya. Transisi permainan menjadi sangat penting bagi Persebaya karena coach Iwan mengedepankan skema umpan-umpan pendek.

Skema pergerakan tiga gelandang tengah Persebaya sebagai poros permainan.

Selain mengandalkan serangan dari lini kedua, Persebaya juga kerap menggunakan sayap mereka sebagai opsi membongkar pertahanan lawan. Serangan sayap Bajul Ijo memang cukup berbahaya karena memiliki pemain-pemain sayap yang cepat. Kecepatan sayap-sayap Green Force diwakili oleh Oktavianus Fernando dan Thaufan Hidayat yang menjadi pilihan pertama untuk menempati posisi flank.

Seperti yang sudah sempat EJ ulas sebelumnya, Iwan Setiawan merupakan pelatih yang tidak terlalu mendewakan ball posession. Kombinasi umpan-umpan pendek dan direct pass atau serangan balik cepat kini menjadi identitas permainan yang coba ditanamkan coach Iwan di Persebaya. Oleh sebab itu, pemain-pemain yang bagus dalam transisi menyerang ke bertahan sangat di andalkan oleh coach Iwan.

BACA:  Sosok Alfredo Vera, Pelatih Yang Jago Angkat Moral Tim

Deretan Pekerjaan Rumah Masih Harus Diselesaikan Coach Iwan

Meski mampu meraih hasil bagus dalam tur pramusim di Sleman dan Semarang plus satu kemenangan di laga kandang, bukan berarti skema permainan yang dijalankan Iwan Setiawan sudah berjalan sempurna. Beberapa masalah teknis yang dihadapi Persebaya selama melakoni pertandingan pramusim pun masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan coach Iwan.

Dari dua kekalahan yang diterima Persebaya, yakni dari Cilegon United (fase grup Dirgantara Cup) dan PSIS (laga away ke Semarang), keduanya terjadi ketika coach Iwan menurunkan tim lapis dua. Hal tersebut berarti bahwa masih ada gap antara pemain utama dan pemain lapis dua. Kondisi ini tentunya harus segera diperbaiki karena jika kemampuan pemain cadangan tidak sebaik kemampuan pemain utama, maka akan sangat riskan jika penghuni skuad utama cedera atau harus absen.

Masalah lain yang juga tidak kalah gentingnya adalah lini depan Persebaya yang mandul dalam dua pertandingan terakhir melawan PSIS. Saat melawan PSIS di Jatidiri, coach Iwan menurunkan Irfan Jaya sebagai striker. Kemudian di laga home melawan tim yang sama di GBT, coach Iwan menurunkan striker seleksi Bijahil Chalwa sebagai penyerang tunggal. Keduanya sama-sama tidak bisa mencetak gol. Bahkan Bijahil hanya bermain 43 menit sebelum digantikan oleh Rachmat Afandi.

Tak hanya masalah lini depan saja, transisi permainan serta reaksi pemain Persebaya terhadap strategi lawan juga belum berjalan sebagaimana mestinya. Pemain-pemain Persebaya kerap kesulitan menghadapi lawan yang menerapkan pola permainan defensif disertai serangan balik cepat. Hal ini bisa dilihat dari hasil saat laga melawan PSIS, baik di Jatidiri maupun di GBT. PSIS yang bermain sangat disiplin tak bisa ditembus oleh anak-anak Green Force. Ketika Sidik Saimima cs. sedang menguasai bola kemudian bisa direbut oleh pemain PSIS yang kemudian melancarkan serangan balik cepat, pemain-pemain Persebaya kerap kewalahan.

Untungnya, Iwan Setiawan cepat tanggap dengan masalah-masalah yang dihadapi timnya. Usai laga kandang melawan PSIS, coach Iwan langsung menggeber latihan untuk meningkatkan ketajaman lini depan serta kreativitas pemainnya. Berkali-kali dalam latihan, coach Iwan menekankan kepada pemainnya betapa pentingnya koordinasi antar lini dalam transisi permainan. Evaluasi yang sudah dilakukan coach Iwan sangat patut untuk dilihat hasilnya di pertandingan uji coba Persebaya berikutnya. (rvn)