Surat Terbuka untuk Calo Tiket

Calo beraksi di Jalan Karanggayam. (Foto: EJ)

Kepada:

Calo Tiket
Di manapun berada

Assalamu’alaikum, Salam sejahtera, Hom swastiastu

Dengan datangnya surat ini, kami atas nama Bonek Jogja ingin memberitahukan beberapa hal terkait tindakan kalian yang terlampau kurang ajar. Bukan tanpa alasan stigma demikian kami berikan, melainkan tidak lain karena naluri manusiawi dan atas dasar menjaga generasi (hifdzun nasl) pecinta sepak bola ke depan. Surat ini kami anggap sangat vital untuk disampaikan di tengah kekacauan yang membuat ‘urgensi wani berubah’ menjadi tampak sia-sia. Tulisan ini kami rasa perlu kalian baca disebabkan kami masih peduli dan menganggap kalian sebagai saudara. Seperti sajak ‘Syahadat Pembebasan’ yang terkenal itu berkata:

Kita Menerima siapapun orangnya dan dari manapun asalnya.
Asalkan bisa menjadi saudara bagi sesamanya

Sebelum bertambah isi surat ini, kami ingin mengajukan pertanyaan reflektif kepada kalian semua untuk dipikirkan secara saksama, itu pun jika kalian mengaku sebagai manusia dengan segala nalar pikir yang menyamudera, dan kami percaya bahwa kalian masihlah menjadi manusia, sebab terlampau suci jika umpatan ‘syaithan’ disematkan, oleh karena urusan itu merupakan milik Tuhan, bukan kami yang cukup melakukan segalanya atas dasar kemanusiaan, semoga.

Pertama, tak terpikirkah di benak kalian bahwa praktek mencari keuntungan yang kalian lakukan adalah bentuk pemerasan sesuai pasal 263 ayat 2 KUHP?

Kedua, tak sadarkah bahwa percaloan yang kalian amini merupakan bentuk dari merugikan tim yang katanya kalian cintai?

Ketiga, tak mengaku tercelakah kalian atau malu saat tindakan kalian dilihat oleh para pecinta sepak bola yang masih kecil, padahal merekalah calon generasi yang diharapkan mampu membenahi kebobrokan sistem birokrasi terutama sepak bola?

Keempat, sadarkah kalian bahwa terdapat mereka yang tak memiliki uang lebih tetapi tetap berusaha mendapatkan tiket kalian meski dengan berhutang ke tuan dana, hingga akhirnya terpaksa menjual barang berharganya?

Kelima, bodohkah kalian dengan asal muasal calo sebagai tindak kaum kolonial, penjajah, yang dikutuk dan ditentang oleh pahlawan sepanjang masa bernama Bung Tomo dari Surabaya? Dengan nada memaksa, jawab pertanyaan kami, saudara!

Sembari menunggu hidayah menyapa kalian, baiklah kami teruskan tulisan ini. Jujur dengan penuh keinsyafan kami bukanlah suporter yang istimewa tetapi cukup dibilang berkewajiban saling mengingatkan sesama rakyat jelata. Tak pernah terbersit jika kami harus menantang dan mengumpat kalian dengan nada penuh kebencian, sekali lagi tak pernah. Justru karena kalian sama dengan kami adalah manusia penuh alpa, lupa, dan salah, maka kami membenci tindakan kalian belaka, sekali lagi tindakan kalian saja. Oleh karena tindakan merupakan tingkah laku sosial, dan bagi kami tidak ada tingkah laku yang konyol, maka penting kiranya kita berdialog terkait apa yang melatari perbuatan kalian. Sebagaimana Koentjaraningrat mengingatkan tentang sistem nilai budaya, kami pun menyadari bahwa perbuatan kalian diakibatkan ketidakpahaman tentang nilai di masyarakat, atau mungkin kalian amnesia dengan kesepakatan yang dibuat erat itu. Kalau sebabnya itu, baiklah kami akan memperjelas dan mengingatkan.

Dalam hal ini, saya ceritakan kepada kalian intisari obrolan kami dengan sedulur Bonek Campus. Mereka adalah kelompok yang melihat langsung gerak-gerik kalian, tetapi masih cukup sabar memendam kemarahan. Hal itu tampak dari pengakuan mereka saat kami tanya tentang sepak terjang kalian, “percuma jika kita berkoar-koar memperbaiki sistem penjualan, jika calo saja masih diberi kesempatan untuk mengelabuhi petugas lewat KTP, KK, dan lain sebagainya, termasuk juga manajemen arena penjualan tiket laga” begitu intisari pendapat mereka.

BACA:  Kepolisian Langsung Tindak Calo Tiket di Area Mess Persebaya

Kami memberikan penekanan dari diksi tersebut, yakni bahwa sudah banyak masyarakat yang mengetahui tipu muslihat kalian, akan tetapi terlihat diam bukan karena takut melainkan sedang mencari cara memenggal praktek kolonial tersebut. Mereka memahami betul strategi ‘kosongkan benteng’ ala tokoh terkenal sejarah, agar kalian merasa aman padahal jebakan telah menanti korban. Kami katakan ini bukan karena bodoh seperti anggapan ‘memberi tahu kepada maling terkait kondisi barang berharga’. Sekali lagi tolong dipahami pun diyakini, bahwa tulisan ini adalah peringatan sekaligus harapan agar kalian sadar tentang keberadaan kontrol masyarakat dan aparat. Apakah perlu kami analogikan semisal keluarga kalian yang terkena tipuan? Lagian kami pun masih mengamini Yin Yang, bahwa seburuk tindakan pasti bisa dihentikan lewat sisi kebaikan yang ada pada diri atas sumbu kemanusiaan. Berulang lagi, itu pun jika kalian manusia tanpa dua tanduk di kepala.

Selanjutnya, kami menyadari serangan kalian ada di dua hal, yakni adanya kesempatan untuk memanfaatkan medan dan oknum dalam, serta membuat gaduh agar kami terlena dengan perilaku kalian padahal transaksi sedang kalian lakukan. Mungkin kalian sedang menerapkan strategi ‘Memancing di air keruh’, agar menggunakan sebuah kekacauan untuk memperlemah persepsi dan pertimbangan masyarakat dan aparat. Kalian dengan sengaja membuat sesuatu yang tidak biasa, aneh, dan tak terpikirkan sehingga menimbulkan kecurigaan dan kekacauan pikiran agar kami lebih mudah untuk diserang.

Atau kaitannya dengan oknum dalam yang sengaja kalian manfaatkan agar mau dijadikan basis pendapatan, tampaknya kalian paham betul untuk ‘Jauhkan kayu bakar dari tungku masak’, yakni cara penggerogotan kekuatan langsung dari sumber daya pengelola. Sungguh betapa cerdas, tepatnya liciknya, kalian.

Mengenai dua tingkah kancil kalian, kami tak begitu menganggapnya sebagai tanda kejelian, melainkan kebebalan. Perlu diingat, kami bisa saja melakukan langkah ‘Gantikan balok dengan kayu jelek’, yakni mangacaukan formasi kalian dengan mengganggu metode operasi, mengubah aturan-aturan yang kalian gunakan, dan membuat sebuah hal yang berlawanan dengan latihan standar kalian. Namun tampaknya tindak preverentif dan resistensi dari kami bisa ditempuh lewat surat terbuka ini, tetapi jika kalian tak kunjung menyadari alarm atau sirine hantaman, tunggu saja waktu menampakkan wajah keadilannya, fantadhiris sa’ah.

Akhirnya, atas nama kesehatan generasi yang mencakup anak turun kalian, dan atas dasar kemanusiaan agar tak terlihat lagi tangisan derita sebab dana tak seberapa yang kalian paksa, maka kami mengatakan: kalian benahi dan hentikan keburukan tangan kalian atau terpaksa kehancuran akan menerobos masuk dalam masalah ini dengan wajah garang. Kami meyakini, tindakan penuh pemujaan terhadap penipuan suatu saat akan binasa karena kolaps menahan banyaknya laknat dari masyarakat

Wassalamu’alaikum

Tertanda,
Bonek Jogja