Suporter, Cukrik, dan Rasa Paseduluran

Apa yang ada di benak anda tentang alkohol? Tidak-tidak, di sini saya tidak akan membahas alkohol yang digunakan untuk membersihkan dan menyembuhkan luka lecet di kulit, apalagi menyembuhkan luka masa lalu dari mantan (tapi mungkin bisa juga).

Tulisan ini tentang alkohol (re-cukrik) yang dalam tradisi orang-orang, khususnya dalam dunia suporter merupakan simbol kebersamaan. Meski dicap negatif, tetapi masih banyak suporter yang suka mabuk-mabukan.

Di balik bayang-bayang cap negatif dari masyarakat, meminum alkohol bersama dengan duduk melingkar terdapat rasa paseduluran (persaudaraan) yang erat. Banyak obrolan yang tertuang dari malam sampai pagi, dari guyonan sampai serius saat “mabuk” bersama.

Minuman cukrik.

Di Eropa nan jauh disana, mereka dari kalangan suporter tentu akrab dengan dengan bir. Bukan tanpa sebab, udara di sana bahkan sampai minus 4 derajat celcius tetapi pertandingan masih tetap berjalan kecuali terjadi badai salju. Ya, bir di sana sebagai penghangat badan sembari menikmati jalannya pertandingan. Bahkan banyak fanzone di luar area stadion yang bebas menjual bir kepada suporter tuan rumah ataupun suporter tamu. Terkadang suporter di Eropa, khususnya Hooligans Inggris terdapat semacam tradisi yaitu mereka berkumpul di suatu cafe/pub untuk bertemu dan minum bir bersama lalu berjalan bergerombol sambil bernyanyi suka cita menuju stadion.

Menonton bola sambil minum bir.

Lalu di negeri kita tercinta Indonesia, apakah sebebas itu? Jawabannya yaitu jelas tidak! Tetapi entah siapa yang memulai tentang tradisi ini yaitu ada sambutan dari suporter tuan rumah kepada suporter tamu. Mereka menyediakan minuman khas dari daerah asalnya masing-masing. Misal lusa akan ada pertandingan Persebaya vs Persis Solo yang akan diadakan di Surabaya. Pasoepati (sebutan suporter Solo) pasti berbondong-bondong datang ke Kota Pahlawan untuk menonton tim kebanggaannya berlaga. Tak lupa Bonek (sebutan suporter Persebaya) dengan tangan terbuka menyambut kedatangan Pasoepati di Surabaya.

BACA:  Orde Baru, Ingatan, Visualitas Bonek, dan Agama Baru

Tentu sebagai tuan rumah yang akan menjamu tamunya, Bonek pasti mempersiapkan jamuannya, tak terkecuali cukrik. Ya, minuman beralkohol yang sudah banyak diketahui menjadi minuman keras favorit dari Surabaya ini ada semacam “kewajiban” dihidangkan selain camilan ataupun tempat singgah untuk suporter tamu. Pasoepati juga tidak mau ketinggalan, mereka juga “pasti” membawa oleh-oleh yang berasal dari Kota Solo yaitu tidak lain dan tidak bukan bernama Ciu. Kurang lebih sama seperti Cukrik, minuman ini juga beralkohol dan mempunyai khas tersendiri di daerahnya.

Lalu, malam hari sebelum pertandingan, mereka bertemu, bercengkrama, dengan sewajarnya tuan rumah bertemu tamunya. Mereka yang menjadi tuan rumah akan menghidangkan semuanya untuk si tamu. Cukrik sebagai inisial Bonek dan Ciu sebagai inisial Pasoepati. Duduk melingkar, bernyanyi bersama, gelas demi gelas cukrik dan ciu ditenggak. Mereka, Bonek dan Pasoepati, seakan lupa dengan sejarah yang dulu tidak akur dan kini duduk melingkar satu tempat. Tak salah orang semua ada yang menyebutnya “air perdamaian”. Faktanya memang juga dapat mendamaikan kedua belah pihak yang dulu pernah berseteru.

Coba anda bayangkan seandainya ada seorang tukang becak, tukang ojek, yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah berangkat lebih pagi untuk bekerja demi mendapatkan uang lebih guna membeli tiket pertandingan dan sebotol alkohol. Menikmatinya bersama dengan teman-temannya, bersulang, tertawa bersama menyambut tim kebanggaannya berlaga.

Cukup sekian. Mungkin dalam tulisan ini terdapat pro dan kontra. Penulis tidak bermaksud untuk mengajak pembaca bermabuk-mabukan. Hanya sedikit berbagi pengalaman yang nyata adanya di dunia suporter Indonesia. (*)

NB: Jika jumlah pemabuk meningkat setelah membaca tulisan ini, penulis tidak bertanggungjawab.