Bonek Melawan Karena Cinta Persebaya dan Sepak Bola

Bonek saat aksi Gruduk Bandung. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

Rasa cinta Bonek terhadap Persebaya sudah tidak bisa diukur lagi. Mendarah daging bahkan dari seorang bayi yang akan dilahirkan dari rahim seorang ibu di mana kedua orangtuanya adalah sepasang Bonek. Ya, jiwa Bonek sudah ada bahkan sebelum seorang manusia dilahirkan.

Regulasi Liga 2 yang akan memainkan pertandingan banyak di hari Senin sampai Kamis tentu saja sangat mengusik Bonek. Berjuang lama untuk kembalinya Persebaya tentu bukan waktu yang pendek. Begitu kompetisi mau mulai malah bertemu dengan rencana jadwal seperti itu.

Mengapa Bonek akan melawan keputusan jadwal main ini? Karena Bonek cinta sepak bola dan cinta dengan Persebaya. Mengapa?

Sepak bola adalah hiburan buat Bonek yang mayoritas adalah kelas pekerja. Kelas pekerja yang hari kerjanya Senin hingga Sabtu dengan rataan cuti yang hanya 12 hari per tahunnya. Jika sedikit pertandingan dimainkan di akhir pekan, maka sangat mungkin stadion akan sepi. Persebaya membutuhkan pemasukan dari tiket. Apakah operator liga memikirkan ini?

Dunia industri memang membutuhkan dana untuk memutar kompetisi, begitupun operator liga. Televisi sebagai pemegang hak siar juga membutuhkan iklan untuk tayangan bolanya. Tetapi inti dari sebuah kompetisi bukankah klub sepak bola dengan suporternya?

Faktor klub dan suporter harus lebih diutamakan. Ini inti sepakbola. Bonek akan memperjuangkan ini sampai ada titik temunya. Tentu akan lebih masif lagi jika suporter klub lain juga melakukan hal yang sama untuk membela klub masing-masing.

Jadwal resmi belum keluar, masih ada waktu sebelum kick off Liga 2 pada 19 April 2017. Ayolah para penguasa Liga Indonesia Baru. Berpikir ulanglah tentang jadwal yang sangat tidak manusiawi bagi Bonek.

BACA:  Rapat Akbar AB1927: Menpora Bersedia Bantu Selesaikan Masalah Persebaya

Salam Satu Nyali