Adaptasi Taktik Sartono Anwar Bungkam Mulut Besar Iwan Setiawan

Rendi Irwan berusaha melewati pemain Madiun Putra. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

EJ – Persebaya gagal meraih poin penuh pada laga perdananya di Grup 5 Liga 2 musim 2017, Kamis (20/4). Bermain di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya ditahan imbang sang tamu Madiun Putra dengan skor akhir 1-1.

Bermain di hadapan pendukung sendiri, Persebaya justru tertinggal lebih dulu kala Purniawan berhasil memanfaatkan bola muntah hasil sontekan Nanang Wahyudi pada menit 15. Terus menekan sepanjang babak pertama, Green Force baru berhasil menyamakan kedudukan pada menit 27 melalui tendangan keras Misbakhus Solikin di dalam kotak penalti. Usai menyamakan kedudukan menjadi 1-1, pemain-pemain Persebaya terus melancarkan serangan ke lini pertahanan Madiun Putra.

Di babak kedua, Persebaya menambah daya gedor dengan memasukkan Yogi Novrian menggantikan M. Syaifudin, dan Abu Rizal Maulana menggantikan Misbakhus Solikin. Namun masuknya Yogi dan Rizal tak bisa mengubah keadaan karena lini belakang Madiun Putra terus bermain disiplin hingga pertandingan usai. Tak bisa menambah gol di sisa pertandingan, Persebaya harus puas berbagi 1 poin dengan tamunya, Madiun Putra FC.

“Sepak Bola Kampung” Ala Sartono Anwar Berhasil Redam Agresivitas Persebaya

Ketika Iwan Setiawan melontarkan psywar dengan menyebut Madiun Putra memainkan “sepak bola kampung”, mungkin yang  berada di pikiran Sartono Anwar adalah sebuah kampung modern yang berada di sudut kota Turin, Italia sana. Sebuah kampung yang diisi penduduk bermental baja yang tidak gentar menghadapi serangan pemuda-pemuda dari kota yang dipimpin oleh orang yang “sok jago” dan banyak omong, yang mencoba mengusik kedamaian kampungnya.

Alih-alih menanggapi psywar yang dilontarkan Iwan, Sartono lebih memilih melakukan mind games dan beradu strategi di atas lapangan. Iwan mungkin lupa kalau yang ia hadapi adalah seorang Sartono Anwar, pelatih kawakan yang punya daya magis membuat tim yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Pada laga kemarin, Sartono Anwar hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit untuk mendikte permainan Iwan Setiawan bersama Persebaya. Menyadari timnya kalah materi pemain dari sang lawan, Sartono menerapkan garis pertahanan rendah dan menutup half space (ruang antara center back dan full back) untuk mengisolir penyerang dan sayap-sayap Persebaya. Sartono menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain rapat dan disiplin di area sepertiga akhir pertahanan sendiri.

Mengetahui Persebaya menitikberatkan poros serangan di area kiri (area kanan pertahanan Madiun Putra), Sartono menginstruksikan Nanang Wahyudi (penyerang tengah) untuk bertukar posisi dengan Purniawan (winger kanan). Pergeseran dua pemain ini dilakukan karena Sartono melihat celah di sektor kiri pertahanan Persebaya, dimana Abdul Azis (bek kiri Persebaya) terlalu asyik membantu penyerangan. Nanang Wahyudi yang punya kecepatan dan body balance bagus diharapkan mampu mencecar sektor kiri pertahanan Persebaya yang kerap ditinggalkan Abdul Azis.

Benar saja, kejelian Sartiono Anwar berbuah manis ketika Nanang Wahyudi menerima umpan dari lini tengah Madiun Putra. Kecepatan Nanang berhasil melewati Rachmat Latief, yang bermain tidak maksimal sepanjang laga. Nanang memenangi duel dengan Latief dan berhasil menyontek bola ke arah gawang Persebaya. Sempat mengenai Dimas Galih, bola liar yeng bergulir ke depan gawang berhasil disambar Purniawan yang berdiri bebas. Gol pembuka oleh Madiun Putra lewat peluang bersih pertama mereka.

Persebaya Bermain Monoton dan Strategi Iwan Digagalkan oleh Sang Guru

BACA:  Fisik Pemain Persebaya Drop di Pertengahan Babak Kedua, Kok Bisa?

Tersengat oleh gol cepat lawan, Persebaya tetap mencoba mem-build up serangan dari belakang, sama seperti di awal laga. Iwan Setiawan masih saja memainkan taktik defense counter untuk membongkar pertahanan Madiun Putra. Strategi ini berhasil ketika umpan Okatafianus Fernando ke tengah kotak penalti Madiun Putra berhasil diselesaikan oleh Misbakhus Solikin melalui tendangan keras dan terarah pada menit 27. Gol Solikin memantik semangat pemain-pemain Persebaya untuk lebih agresif dalam menekan pertahanan Madiun Putra.

Sayangnya, pemain-pemain Persebaya bermain monoton. Sepanjang babak pertama, Persebaya terus-terusan menyerang ke area kanan pertahanan Madiun Putra. Total, di babak pertama pemain-pemain Persebaya membuat tujuh tembakan dari area kanan Madiun Putra, dimana kebanyakan tembakan tersebut dilakukan dari luar kotak penalti. Mereka tidak menyadari bahwa Madiun Putra justru memiliki celah di area kiri pertahanan, dimana dari sektor ini Kurniawan Karman dua kali sukses mengirim umpan matang ke area kotak penalti. Celah di sektor kiri pertahanan Madiun Putra pun baru disadari pemain-pemain Persebaya di babak kedua.

Arah shot on target Persebaya di babak petama dan kedua, dimana kebanyakan tembakan ke arah gawang di babak pertama berasal dari area kanan pertahanan Madiun Putra.

Tak hanya pola permainan yang monoton, strategi defense counter yang diterapkan Iwan pun juga tak berhasil membongkar pertahanan Madiun Putra. Build up serangan Persebaya hampir selalu dimulai dari bawah. Taktik ini sangat tidak efektif untuk membongkar pertahanan berlapis Madiun Putra. Sartono pun tak meladeni Iwan yang mengajak duel di lini tengah. Ia secara jitu lebih memilih memperkuat pertahanan Madiun Putra dengan menempatkan Ambitie Dolus Cahyana sebagai sweeper di belakang due bek tengah. Ambitie bertugas untuk menambal kebocoran pertahanan Madiun Putra yang terus-terusan dibombardir Irfan Jaya cs. Peran sebagai sweeper berhasil dijalankan Ambitie dengan sempurna. Bahkan, Yogi Novrian yang masuk babak kedua berhasil dimatikan Ambitie. Sepanjang babak kedua, Yogi hanya mampu melepas satu tembakan, itu pun tidak mengarah ke gawang.

Kemampuan Sartono Anwar dalam beradaptasi dengan pola permainan Persebaya menjadi kunci keberhasilan Madiun Putra mencuri poin di Gelora Bung Tomo. Sedangkan di kubu tuan rumah, Iwan Setiawan terlihat tidak responsif dengan situasi di atas lapangan. Pergantian yang Iwan lakukan di babak kedua hanya sebatas tactical, tidak berdampak pada perubahan strategi.

Masalah lain yang menjadi PR besar bagi Persebaya adalah masalah stamina. Bermain kencang di babak pertama, stamina pemain-pemain Persebaya langsung habis begitu pertandingan masuk menit 70. Bahkan, Madiun Putra hampir saja membuat pendukung Persebaya gigit jari andai saja Dimas Galih tidak melakukan save brilian dalam posisi one on one dengan Nanang Wahyudi di menit-menit akhir pertandingan. Bukan hanya stamina saja, pemain-pemain Persebaya pada laga tadi malam nampak bermain tanpa karakter. Serangan-serangan yang mereka lancarkan sepanjang laga pun hanya bersifat sporadis.

Kegagalan meraih poin penuh di laga kandang tentunya menjadi sebuah hasil yang bisa dibilang buruk untuk Persebaya. Evaluasi mutlak diperlukan. Untungnya, ini masih pertandingan pertama. Satu lagi yang harus menjadi perhatian. Iwan Setiawan sepertinya harus menghilangkan kebiasaan sesumbar dan menebar psywar di media. Omong besar Iwan nyatanya justru malah melipatgandakan motivasi lawan untuk mengalahkan Persebaya. Masih ada sembilan hari lagi untuk berbenah guna menyambut laga away ke Martapura. Hasil laga melawan Madiun Putra tentunya menjadi pelajaran berharga bagi pemain, pelatih dan manajemen Persebaya. (rvn)