Mlempem Lawan Madiun Putra, Apa yang Salah dengan Persebaya?

Starting line up Persebaya saat lawan Madiun Putra. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

EJ – Persebaya gagal memanfaatkan momentum untuk memulai Liga 2 dengan kemenangan. Bermain di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Madiun Putra FC.

Hasil imbang melawan Madiun Putra bisa dibilang sebagai hasil yang buruk bagi Persebaya. Pasalnya, tim sudah melakukan persiapan sejak jauh hari. Semua kebutuhan pemain dan pelatih pun juga sebisa mungkin dipenuhi oleh manajemen. Namun nyatanya, menghadapi tim yang di atas kertas bisa dikalahkan pun Persebaya kewalahan. Lalu apa yang salah dengan Persebaya di laga melawan Madiun Putra kemarin?

Iwan Setiawan Memaksakan Strategi Defense Counter

Selama menjalani tur pramusim, Persebaya mampu tampil baik dengan hanya menderita 2 kekalahan pada pertandingan uji coba. Sepanjang pramusim, Iwan Setiawan selaku pelatih Persebaya menerapkan pola permainan cepat dengan umpan-umpan pendek. Skema permainan seperti ini terlihat sangat cocok dengan pemain-pemain Persebaya, seperti terlihat selama mengikuti gelaran turnamen Dirgantara Cup. Namun entah apa yang ada di dalam pikiran coach Iwan ketika menerapkan strategi defense counter ketika melawan Madiun Putra.

Tim-tim yang memilih strategi defense counter biasanya memiliki sepasang bek tengah, atau minimal satu bek tengah, yang bisa berperan sebagai ball playing defender. Tugas seorang ball playing defender adalah mem-build up serangan dari belakang. Butuh seorang bek dengan insting dan akurasi umpan bagus untuk menjalankan taktik ini. Contoh paling mudah untuk melihat bagaimana sebuah tim bermain dengan ball playing defender adalah Juventus dengan Leonardo Bonucci sebagai aktor utamanya.

Pada laga melawan Madiun Putra kemarin, Iwan Setiawan mencoba menerapkan strategi defense counter untuk memecah konsentrasi lini belakang lawan yang bermain dengan garis pertahanan rendah. Taktik ini sangat tidak efektif untuk menghadapi lawan dengan gaya main seperti Madiun Putra. Kerap kali, serangan Persebaya dibangun langsung dari belakang, kemudian diumpan langsung ke sektor depan atau sayap. Rachmat Latief yang kerap menjadi inisiator serangan tidak bisa berperan sebagai ball playing defender karena umpan-umpanya tidak akurat. Madiun Putra yang sudah terlanjur menumpuk pemain di belakang pun dengan mudah mematahkan setiap serangan Persebaya.

Sepertinya coach Iwan lupa kalau dia memiliki Misbakhus Solikin di lini tengah. Selain mencetak satu gol, Solikin sebenarnya tampil baik sebagai pengendali permainan Persebaya sebelum ia digantikan oleh Abu Rizal Maulana. Solikin yang punya kemampuan men-delay bola kerap berhasil menarik perhatian lini belakang Madiun Putra untuk lebih naik. Sayangnya, karena coach Iwan menerapkan taktik defense counter, Solikin pun tidak bisa berkreasi lebih banyak di lini tengah. Hasilnya, lini tengah Persebaya pun tidak sepenuhnya berfungsi karena serangan terkonsentrasi ke area sayap.

Finishing Buruk Imbas dari Krisis Penyerang

Absennya Rachmat Afandi pada laga kemarin benar-benar membuat Persebaya menderita. Memang, kahadiran Fandi belum tentu menggaransi kemenangan. Tapi, sosok Fandi yang merupakan target man setidaknya bisa membuat Persebaya memiliki pemain yang tahu bagaimana caranya mencetak gol.

BACA:  Imbang di Pamekasan, Hasil yang Seharusnya Jadi Evaluasi

Irfan Jaya yang diplot menggantikan Fandi sebagai penyerang tunggal terlihat belum memiliki kualitas finishing sebaik mantan pemain Persib dan Persija tersebut. Tiga peluang bersih Irfan di depan gawang Madiun Putra gagal dia konversi menjadi gol. Yogi Novrian yang dimasukkan di awal babak kedua pun juga belum bisa memberikan penampilan terbaik. Tak banyak mendapat bola, Yogi terisolasi oleh rapatnya lini belakang Madiun Putra.

Dengan situasi terkini di lini depan Persebaya, tentunya sosok Rachmat Afandi sangat dirindukan. Meski merupakan seorang striker bertipe poacher, Fandi juga piawai membuka ruang. Fandi pun juga memiliki efektivitas yang tinggi dalam hal penyelesaian peluang. Semoga saja Rachmat Afandi bisa pulih sesuai jadwal karena pekan depan Persebaya harus menghadapi lawan berat, Martapura FC.

Stamina Pemain Payah

Laga melawan Madiun Putra kemarin menunjukkan bahwa pemain-pemain Persebaya memiliki masalah besar terkait stamina. Rendi Irwan cs. mampu bermain kencang di babak pertama. Namun di babak kedua, terutama pada menit 70 ke atas, stamina pemain-pemain Persebaya habis. Jika tidak dinaungi Dewi Fortuna dan Dimas Galih tidak tampil sigap, Madiun Putra bisa saja menambah dua gol di 10 menit terakhir pertandingan.

Mau tidak mau, siap tidak siap, pemain-pemain Persebaya harus meningkatkan kualitas fisiknya. Atmosfer liga tentu berbeda dengan suasan pertandingan uji coba. Ketahanan fisik pemain akan lebih cepat terkuras pada pertandingan liga yang sesungguhnya. Manajemen pun ada baiknya mempertimbangkan untuk merekrut pelatih khusus fisik guna meningkatkan stamina pemain di lapangan.

Pemain Kehilangan Karakter “Suroboyoan”

Selain masalah stamina, problem lain yang kini dihadapi oleh Persebaya adalah hilangnya karakter tim. Bagaimanapun juga, Persebaya adalah tim besar dengan karakter kuat. Karakter khas arek Suroboyo yang berani, ngotot dan ngeyel harus bisa diimplementasikan oleh pemain-pemain Persebaya ketika berada di atas lapangan. Persebaya boleh saja dihuni dari pemain yang berasal dari luar Surabaya. Namun pemain-pemain harus mengenal dan menjiwai karakter tim. Ketika seorang pemain mengenakan jersey Persebaya, maka dia harus benar-benar menyatu dengan logo hiu dan buaya yang berada di dadanya. Pada laga melawan Madiun Putra kemarin, kengototan permainan khas arek-arek Suroboyo yang sudah menjadi karakter Persebaya sama sekali tidak terlihat.

Pemain dan pelatih Persebaya tidak membutuhkan pembelaan atas kegagalan menang atas Madiun Putra. Alasan pemain grogi di atas lapangan juga merupakan alasan yang tidak masuk akal. Gagal menang atas Madiun Putra adalah sebuah pelajaran sangat berharga bagi pemain dan pelatih. Kritik tentunya akan terus ada, karena sebuah tim tidak akan pernah menjadi besar bila hanya terus-terusan disanjung. Laga kemarin baru sebuah permulaan. Laga-laga berat berikutnya sudah menanti skuad Green Force. Untuk saat ini, justifikasi atas pemain dan pelatih mungkin belum saatnya. Namun evaluasi tim mutlak diperlukan untuk pertandingan berikutnya. (rvn)

Facebook Comments