Dua Hal Yang Perlu Dievaluasi Panpel Pasca Home Pertama

Pemeriksaan pertama bagi penonton bertiket. (Foto: Iwan Iwe/EJ)

Pertandingan antara Persebaya melawan Madiun putra pada Kamis (20/4) malam, memberikan beberapa catatan untuk seluruh komponen tim Persebaya. Tak terkecuali manajemen. Beberapa catatan, saya berikan untuk manajemen Persebaya. Baik itu catatan positif maupun negatif.

Saya sangat mengapresiasi manajemen Persebaya yang telah berhasil menyelenggarakan pertandingan home pertama liga 2 musim ini. Apresiasi saya berikan karena jika dibandingkan dengan homecoming game melawan PSIS Semarang pada 19 Maret lalu, pertandingan home melawan Madiun putra ini terlihat lebih rapi. Sudah tidak ada lagi kemacetan horor seperti saat homecoming game lalu. Parkir-parkir pun tertata rapi.

Masalah ticketing juga pelan-pelan sudah mulai teratasi. Calo tiket pun pelan-pelan sudah mulai berkurang. Saya apresiasi manajemen yang mau belajar dari pengalaman. Sedikit demi sedikit permasalahan yang muncul di homecoming game mulai ada solusinya, walaupun belum semua masalah terpecahkan.

Beberapa masalah yang masih dicarikan solusi untuk diselesaikan yaitu, pertama terkait sterilisasi area stadion dari penonton tak bertiket. Kebijakan ini baik menurut saya, karena bisa meminimalisir aksi oknum suporter yang nekat ingin masuk stadion tanpa tiket. Namun perlu dipertimbangkan juga akses pintu masuk pemeriksaan tiket untuk pemegang tiket fans (ekonomi).

Jalan masuk yang harus dilalui penonton dengan tiket kategori fans. (Foto: Iwan Iwe/EJ)

Dari pengamatan saya, pintu masuk pemeriksaan tiket ekonomi dibuat melingkar dengan pagar-pagar pembatas (seperti antri mau naik rollercoaster di wahana hiburan). Menurut saya, ini sangat menyengsarakan Bonek. Antriannya sangat panjang. Terjadi penumpukan massa di sini. Saling dorong mendorong pun tak terhindarkan. Apalagi banyak anak kecil juga dan perempuan yang mengantri. Banyak anak kecil yang menangis saat mengantri. Hendaknya ini bisa menjadi bahan evaluasi manajemen terkait pintu masuk pemeriksaan bagi pemegang tiket kategori fans (ekonomi).

BACA:  Laga Tanpa Penonton Bukan Jawaban

Permasalahan yang kedua, yang banyak dikeluhkan Bonek adalah terkait sikap panpel pertandingan. Para Panpel dalam melaksanakan tugasnya dirasa banyak merugikan Bonek. Beberapa barang bawaan Bonek seperti roll paper, kertas untuk aksi koreo serta joran stick untuk giant flag banyak yang disita oleh Panpel. Padahal sudah tertera jelas di banner pintu masuk gate barang-barang apa saja yang tidak boleh dibawa masuk kedalam stadion, yaitu flare, laser, smoke bomb, buzzer (terompet gas), botol, korek api, peluit dan pisau (Sajam). Artinya roll paper, joran, dan kertas koreo tidak dilarang, karena tidak termasuk dalam list barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk kedalam stadion. Lantas siapa yang disalahkan? Toh, roll paper, kertas koreo dan joran digunakan Bonek untuk kreativitas mendukung Persebaya.

Dua jempol layak diberikan kepada Bonek. Komitmen mereka dengan tidak membawa flare atau hal-hal yang bisa merugikan Persebaya layak diapresiasi. Mereka percaya bahwa mendukung Persebaya tidak harus dengan flare, smoke bomb, terompet atau barang “terlarang” lainnya. Mereka mendukung dengan kreativitas melalui roll paper, kertas untuk koreo, serta giant flag.

Selain itu, adanya pemeriksaan barang bawaan dengan mengharuskan melepas sepatu juga agak mengherankan. Terlalu berlebihan bahkan menurut saya. Dan bisa menghambat antrian masuk gate.

Ayolah manajemen, saling percaya dengan Bonek. Duduk bersama dengan Bonek, cari solusi permasalahan diatas bersama-sama. Dengarkan aspirasi Bonek, agar tidak ada prasangka di antara kita.

Tulisan ini pendapat pribadi penulis. Kritikan membangun yang berharap didengar manajemen Persebaya. Tidak mewakili siapapun, hanya seorang Bonek yang ingin melihat klub Pujaannya kembali berjaya di persepakbolaan nasional.

Salam nyali! Wani!

*) M. Faishal Rizky A., pemilik akun Twitter @FaishalRizkyA

Facebook Comments