5 Alasan Mengapa Persebaya Harus Memecat Iwan Setiawan

Iwan Setiawan. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

EJ – Persebaya kembali memperoleh hasil buruk pada pekan kedua Liga 2. Bertandang ke kandang Martapura FC, Stadion Demang Lehman, Bajul Ijo harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 1-2. Dengan kekalahan ini, maka Persebaya pun menjadi satu-satunya tim di Grup 5 yang belum berhasil mencatatkan kemenangan. Hingga pekan kedua, Persebaya masih terpuruk di papan bawah klasemen Grup 5 dengan koleksi satu poin, hasil bermain imbang 1-1 dengan Madiun Putra di pekan pertama.

Meski baru memainkan dua pertandingan, namun tekanan berat langsung tertuju pada pelatih Persebaya, Iwan Setiawan. Dua laga tanpa kemenangan tentu merupakan hasil yang sangat minor bagi tim sebesar Persebaya. Apalagi, manajemen sudah memberikan fasilitas kelas satu kepada pemain dan pelatih. Tak bisa dipungkiri, sosok Iwan Setiawan merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas penampilan buruk Persebaya di awal musim. Sebagai nakhoda, Iwan dinilai gagal dalam membawa Persebaya mengarungi Liga 2 di awal musim ini.

Psywar yang tidak penting, kegagalan dalam rekrutmen pemain, strategi tim yang monoton, hingga permasalahan mental menjadi puncak masalah Iwan selama kurang  lebih tiga bulan menangani Persebaya. Usai ditaklukkan Martapura FC, tagar #IwanOut pun langsung menjadi trending topic di Twitter. Ya, suporter Persebaya, Bonek, sudah tidak bisa memberikan toleransi lagi kepada Iwan Setiawan. Suara mayoritas Bonek untuk meminta manajemen bertindak tegas kepada Iwan Setiawan pun semakin kencang terdengar. Lalu alasan apa yang membuat manajemen harus bertindak tegas dalam bentuk surat pemberhentian kepada Iwan Setiawan?

1. Iwan Setiawan Gagal Membangun Fondasi Tim

Diberi waktu sekitar lebih dari dua bulan untuk membentuk tim, nyatanya Iwan Setiawan gagal membangun fondasi yang kokoh bagi Persebaya. Persebaya sempat bermain cukup baik selama pramusim. Namun usai menjuarai turnamen pramusim Dirgantara Cup, tanda-tanda tren buruk yang menghinggapi Persebaya sudah mulai terlihat.

Dua kali melawan PSIS Semarang, permainan Persebaya sama sekali tidak spesial. Iwan terkesan memaksakan Persebaya untuk memainkan strategi defence counter. Padahal dari materi tim, Persebaya tidak cocok dengan strategi yang oleh Iwan disebut sebagai filosofi permainan ini. Iwan tidak berusaha mencari bek tengah yang bisa memainkan bola untuk memulai serangan. Ia pun malah menumpuk pemain di sektor sayap. Tak hanya itu, waktu satu bulan sebelum kick-off pun juga tidak dimanfaatkan oleh Iwan untuk mencari striker mumpuni guna melapis Rachmat Afandi.

Ketika ditahan imbang oleh Madiun Putra di pekan pertama, terlihat jelas bagaimana Persebaya bermain tanpa pola serangan yang terorganisir rapi. Skema permainan lewat umpan-umpan pendek-cepat yang sempat muncul di masa pramusim pun hilang entah kemana. Perubahan taktik dan adaptasi terhadap permainan lawan memang perlu. Tapi setidaknya, sebuah tim harus memiliki karakter permainan yang sudah menjadi pakemnya. Hal inilah yang gagal dimunculkan Iwan Setiawan selama menangani Persebaya hingga detik ini.

2. Rekrutmen Pemain yang Terkesan Like and Dislike dan Adanya IS Connection

Ketika resmi diangkat menjadi pelatih Persebaya, sebenarnya manajemen sudah memberikan hak mutlak kepada Iwan Setiawan dalam proses rekrutmen pemain. Manajemen, termasuk Presiden Klub, tidak pernah mau mencampuri urusan teknis. Semua urusan tentang rekrutmen dan pemilihan pemain diserahkan sepenuhnya kepada Iwan, dengan dibantu stafnya. Namun sayangnya, Iwan tidak memanfaatkan kepercayaan manajemen ini dengan baik.

Dalam proses rekrutmen pemain, baik kontrak langsung maupun harus lewat seleksi, ada kesan Iwan memilih pemain berdasarkan like and dislike. Sebagai contoh, Iwan menolak ketika ditawari penyerang Abdul Rahman “Abanda” dengan alasan tidak cocok dengan strategi tim. Iwan pun lebih memilih Yogi Novrian, pemain yang sudah ia kenal sewaktu menangani Persela Lamongan. Hasilnya, Abdul Rahman “Abanda” kini tampil gemilang bersama Persik Kediri, sementara Yogi malah menderita cedera engkel dan belum bisa menampilkan permainan terbaiknya.

Contoh lain, ketika ada kesempatan untuk memanggil kembali “Abah” Mat Halil ke dalam tim, Iwan malah tidak memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia justru berencana untuk mengisi satu lagi slot pemain senior di posisi lain. Meski proses kontrak ada di tangan manajemen, pelatih pastinya memiliki peran penting dalam men-suggest siapa saja pemain yang harus dikontrak dan siapa yang tidak.

BACA:  Mencari Penerus Abah Halil

Contoh lain kegagalan Iwan Setiawan dalam proses rekrutmen pemain adalah banyaknya mantan pemain yang pernah ditangani Iwan yang kini menghuni tim Persebaya. Sebut saja Rachmat Afandi, Muhammad Hidayat, Yogi Novrian hingga Rachmat Latief. Rata-rata nama pemain tersebut sudah dikenal oleh Iwan sebelumnya. Namun sayangnya, pengecualian untuk Rachmat Afandi yang belum turun di kompetisi resmi akibat cedera, pemain-pemain “bawaan” Iwan tersebut gagal memberikan penampilan terbaik bagi Persebaya.

3. Iwan Setiawan Tidak Mau Belajar

Kalah dari Cilegon United dan PSIS Semarang di masa pramusim, serta ditahan imbang oleh Madiun Putra di pekan pertama seharusnya memberi pelajaran bagi seorang Iwan Setiawan. Namun, Iwan seperti tidak peka dengan hasil pertandingan tersebut. Ketika dikalahkan Cilegon United, PSIS Semarang dan ditahan imbang Madiun Putra, ada dua hal yang mesti dicatat dan dipelajari oleh Iwan, yaitu Persebaya kesulitan menghadapi tim-tim yang bermain dengan garis pertahanan rendah dan juga pemain-pemain Persebaya tidak memiliki stamina yang cukup baik untuk bermain stabil selama 90 menit.

Waktu sembilan hari yang dimiliki oleh Iwan untuk membenahi taktik dan stamina pemain sebelum melawat ke Martapura tidak dimanfaatkan dengan baik. Pada pertandingan melawan Martapura FC, Minggu (30/4) kemarin, Persebaya harus kecolongan dua gol dalam 20 menit terakhir. Dua gol Martapura FC terjadi ketika stamina dan konsentrasi pemain-pemain Persebaya sudah mengendur. Sebuah kekalahan yang sebenarnya bisa diantisipasi jika Iwan Setiawan mau belajar dari pertandingan sebelumnya.

4. Iwan Setiawan Gagal Mengangkat Mental Tim

Selain urusan teknis, peran seorang pelatih kepala adalah untuk mengangkat mental tim dalam situasi buruk. Bukannya mengangkat mentalitas pemain-pemain Persebaya, apa yang dilakukan Iwan Setiawan selama ini justru malah lebih banyak merugikan tim.

“Ulah” Iwan yang merugikan tim sudah dimulai sejak sebelum kick-off Liga 2 dimulai. Sebelum melawan Madiun Putra, Iwan justru memancing kontroversi dengan menyebut Madiun Putra memainkan (maaf) “sepakbola kampung”. Akibat mulut besar Iwan tersebut, tentu kita sudah tahu bagimana ending-nya. Tidak selesai dengan mulut besarnya, Iwan pun malah menyalahkan pemain usai ditahan imbang Madiun Putra.

Daripada fokus pada pembenahan mentalitas pemain, Iwan lebih sibuk mencari kambing hitam atas kegagalannya. Hasilnya, dalam dua partai awal di Grup 5, Persebaya nyaris bermain tanpa karakter aslinya. Permainan Persebaya yang dikenal ngotot dan pantang menyerah pun menguap begitu saja dalam dua pertandingan awal ditangan Iwan Setiawan. Seorang pelatih sejatinya harus menjadi motivator bagi  tim. Menjaga moral tim agar tetap membumi, dan mengangkat mental tim ketika sedang terjatuh. Sayangnya, Iwan Setiawan tidak memiliki hal tersebut.

5. Iwan Setiawan Tidak Bisa Menghormati Bonek

Kejadian pasca pertandingan di Martapura kiranya sudah bisa menjelaskan mengapa mayoritas Bonek sudah kehilangan respect kepada Iwan Setiawan. Rasa cinta Bonek kepada Persebaya sudah tidak bisa diukur dengan hal apapun di dunia ini. Hubungan antara Bonek dengan Persebaya lebih dari sekedar hubungan antara klub dengan supoter, begitupun sebaliknya. Jika ada pelatih yang sudah melukai rasa cinta Bonek kepada Persebaya, apakah manajemen masih mau mempertahankan pelatih tersebut?

Dua dari total 14 pertandingan di fase grup sudah dilalui. Dengan lima poin yang sudah terbuang, dan lawan-lawan lebih berat sudah menanti, memang sudah saatnya memberikan justifikasi untuk Iwan Setiawan. Mengingat persaingan di Grup 5 sangatlah berat, sudah tidak ada waktu bagi manajemen untuk coba-coba lagi. Manajemen harus bersikap tegas. Menunjuk pelatih baru yang memahami dan bisa mengangkat moral tim mutlak diperlukan untuk menyelamatkan nasib Persebaya. Pergantian tampuk kepelatihan juga sangat penting guna menjaga keharmonisan tim dan meredam gejolak di kalangan suporter. Semua ini demi satu nama, yaitu Persebaya. (rvn)