Antara Conte, Iwan Setiawan, dan Lambang Persebaya di Dada

“Mencoba kembali menghayati arti lambang di dada pada jersey Persebaya.”

Hari semakin larut, suasana sudah mulai hening menyusul hilangnya kumandang adzan Isya’ yang samar terdengar dari pemukiman warga yang semakin jauh kami tinggalkan perlahan. Ya, penulis memang sedang mencoba menghibur diri karena gagal berangkat mengawal kebanggaan berjuang di Martapura dengan melakukan camp ceria di lereng Gunung Pundak, Desa Claket, Mojokerto.

Begitu susahnya untuk mengacuhkan segala perkembangan tentang tim kebanggaan pun membuat saya tergerak untuk membuka handphone sembari mengharapkan ada beberapa bar sinyal yang mampu dijangkau.

Dengan segala keterbatasan sinyal yang ada, saya melihat melalui akun media sosial Persebaya, rupanya tim harus kehilangan poin (lagi) di perjalanan ke Martapura yang memang dikenal berat. Persebaya gagal mencuri poin dari kandang tim Laskar Sultan Adam meskipun sempat unggul di babak pertama melalui gol yang dicetak Misbakhus Solikin.

Tapi apakah kiranya yang membuat teman-teman Bonek begitu kecewa sehingga di hampir lini masa sosial media banyak bermunculan tagar #IwanOut?

Setelah saya coba telusuri tagar tersebut, rupanya, disamping berita kekalahan tim, ada sebuah insiden yang memang cukup membuat berang para pendukung Persebaya. Dan ini adalah pengalaman pertama seumur hidup penulis sebagai suporter Persebaya, untuk menyaksikan secara tidak langsung pelatih Persebaya Surabaya saat ini yaitu Iwan Setiawan jadi aktor utama insiden tersebut. Sang pelatih tertangkap kamera sedang mengacungkan jari tengah kepada kerumunan suporter yang melakukan protes di depan bus pemain yang akan meninggalkan stadion seusai laga.

Tentunya ini bukan suatu sikap yang tepat bagi Pelatih, yang mental dan ketenangan dirinya sangat dibutuhkan oleh tim, untuk terlibat konflik dengan suporter.

Lalu, Siapakah Iwan Setiawan? Sebaik apakah resume-nya sebagai pelatih profesional? Saya rasa kita semua sudah mengetahui tentang kontroversi yang mengiringi perjalanan karir sosok pelatih yang satu ini. Iwan Setiawan memang dikenal sebagai pelatih yang bermulut besar, beragam komentar kontroversial tentang wasit, tim lawan, ataupun tentang sistem persepak bolaan Indonesia ia utarakan selama berkarir di dunia kepelatihan.

Memang Iwan Setiawan adalah pelatih dengan lisensi yang sebetulnya cukup bagus untuk menangani tim sekelas Persebaya, dengan sebelumnya telah mengantongi lisensi kepelatihan A AFC dan Lisensi KNVB (Federasi Persepak Bola an Belanda). Celakanya, meskipun lisensi yang dimiliki cukup bagus, tidak banyak prestasi yang dia miliki dalam sejarahnya menangani klub-klub Indonesia. Sejauh ini prestasi terbaiknya hanya lah mengantarkan Persija finish di 5 besar ISL dan membantu Pusamania Borneo FC promosi ke ISL (Yang sekarang berubah nama menjadi Liga 1).

Dengan statistik tersebut, tentunya menghadirkan sebuah pertanyaan besar: Apakah dasar pertimbangan manajemen untuk memilih Iwan Setiawan sebagai nahkoda baru Persebaya yang sedang memulai kampanyenya untuk mampu promosi ke liga 1 di tahun berikutnya, Alasannya? Baca selengkapnya di Jawa Pos hari ini *eh.

Antara Conte dan Iwan Setiawan

Yang terjadi di tubuh Persebaya saat ini kurang lebih hampir sama seperti yang terjadi pada Juventus di tahun 2007-2011. Dari medio tersebut, Juventus kesulitan untuk bersaing dengan AC Milan, Inter Milan, AS Roma, SSC Napoli dan beberapa tim lainnya yang tengah stabil performanya.

Sejak tahun pertama kebangkitan setelah adanya kontroversi dengan Federasi, hingga akhir tahun 2011, Juventus belum menemukan skema yang pas meskipun telah gonta-ganti pelatih dan pemain. Masalah grinta-lah yang jadi isu utama pada klub tersebut. Grinta yang diambil dari bahasa italia yang berarti daya juang hingga titik terakhir, yang sudah menjadi tradisi dan ciri khas klub semenjak era pertama Dinasti keluarga Agnelli, tidak nampak pada tahun-tahun tersebut. Sehingga pada awal musim 2011-2012 jajaran manajemen yang kembali dikelola oleh keturunan Agnelli yaitu Andrea Agnelli (setelah sebelumnya dipresideni oleh sosok diluar keturunan Agnelli).

Manajemen kemudian mendapuk Antonio Conte sebagai pelatih di tahun tersebut. Penunjukan Conte bukan tanpa alasan. Conte adalah mantan kapten Juventus yang selama masa bermainnya untuk klub, memiliki grinta yang kuat bersama dengan kolega lain nya di Juventus. Conte jugalah yang turut membantu Juventus merengkuh gelar juara UEFA Champions league pada kompetisi tahun 1995-1996.

Keputusan manajemen mendapuk Conte sebagai pelatih membuahkan hasil manis dengan memberi gelar juara pada tahun pertamanya melatih Juventus. Tahun 2011-12 merupakan tahun yang sensasional bagi Juventus. Mereka mampu juara dengan status unbeaten di tangan Conte. Dan prestasi yang paling utama menurut perspektif penulis adalah kembalinya daya juang dari pemain yang lama hilang pada medio 2007-2011 dan mampu membuat tim kembali menyadari arti lambang yang ada di dada mereka ketika mengenakan jersey tim.

Adapun fakta unik terkait kemiripan antara situasi Persebaya saat ini dengan Juventus adalah, sama-sama mempunyai pelatih yang setahun sebelumnya sama-sama mampu membawa tim yang dikomandoi nya promosi, Conte dengan Siena dari Serie B ke Serie A dan Iwan Setiawan dengan PBFC dari Divisi Utama ke ISL.

Akan tetapi, yang membedakan dari kedua sosok tersebut adalah, Conte mampu menjadi pelatih yang tidak terlalu banyak bicara pada media tetapi mampu untuk memberikan kontribusi nyata yaitu prestasi juara plus bonus memberi pondasi pada tim. Sedangkan Iwan Setiawan tidak mampu melakukan hal tersebut. Alih-alih mencoba untuk mencari skema yang pas dan mempelajari kultur sepakbola Arek-Arek Suroboyo yang mempunyai jiwa rendah hati di luar lapangan namun beringas di dalam lapangan, Iwan Setiawan malah meneruskan tabiatnya sebagai pelatih kontroversial dengan terlibat gesekan dengan suporter fanatik Persebaya yang khas dengan ceplas-ceplos ala Suroboy nya dalam mengkritik tim yang begitu mereka cintai.

Memang Bonek tidak lebih besar daripada nama Persebaya itu sendiri. Pun juga prestasi tidak mampu didapat secara instan. Namun alangkah baiknya jajaran manajemen mampu cepat dan tanggap membaca situasi tim (tanpa mengurangi rasa hormat kepada apa yang telah manajemen berikan untuk membantu menyelamatkan Persebaya).

Mau tidak mau harus diakui saat ini keseluruhan tim yang ada sedang mempermalukan wajah sepak bola Surabaya. Sekali lagi penulis bertanya, apakah berlebihan vonis yang penulis layangkan tersebut? Sebagai bahan perenungan, penulis kutip kan dari laman twitter @brajamusti_uny, klasemen Liga 2 saat ini.

Layar sudah terkembang, dan pantang untuk kembali. Harapan yang mungkin mewakili perasaan seluruh Bonek, semoga Persebaya dikembalikan trahnya sebagai tim yang ditakuti lawan seperti dahulu. Dan dikembalikan  pula jiwa juang yang sudah mendarah daging ada pada tubuh Persebaya sejak jaman dulu. Entah bagaimana baiknya, namun satu hal yang pasti: #IwanOut!

*) Segala statistik yang ada penulis ambil dari berbaga sumber, mohon dikoreksi apabila ada salah kutip.
*) Penulis dapat dihubungi di akun twitter : @mr_easy7

Facebook Comments