Tak Ada Alasan Manajemen Mempertahankan Iwan Setiawan

Iwan Setiawan di Stadion GBT. (Foto: Joko Kristiono/EJ)

Saya akan mencoba memberikan pendapat pribadi, mengapa Iwan Setiawan sudah tidak layak lagi menahkodai Persebaya. Ada dua hal utama yang membuat mengapa Iwan sudah harus lengser dari jabatannya sebagai pelatih Persebaya. Yaitu kurang nyetelnya strategi Iwan dan attitude buruknya selama menukangi Persebaya. Berikut penjelasannya.

  1. Kurang nyetelnya strategi Iwan Setiawan di Persebaya

Total sudah 15 pertandingan Persebaya dijalani dengan Iwan Setiawan sebagai pelatih, termasuk pertandingan melawan Martapura FC Minggu (30/4) sore. Dari segi permainan tim, strategi yang diterapkan Iwan di Persebaya saya kira tidak mengalami progress yang signifikan, bahkan cenderung menurun.

Terlepas dari keberhasilan Persebaya menjuarai Dirgantara cup beberapa waktu lalu, dari segi permainan tim, Persebaya terbilang monoton dan kurang bisa dinikmati para penggemar. Pada saat itu, saya beranggapan, mungkin tim ini masih beradaptasi dengan strategi Iwan. Waktu demi waktu berjalan semakin cepat, pertandingan melawan PSIS Semarang di Jatidiri pun tiba. Persebaya menderita kekalahan dalam pertandingan tersebut. Dari pola permainan tim, tim ini tidak banyak berubah. Masih monoton dan kurang menghibur. Kultur suroboyoan tak terlihat sama sekali.

Tapi saya masih mencoba berpikir positif, mungkin tim ini masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan strategi Iwan. Laga kedua melawan PSIS Semarang di Surabaya pun tiba, laga yang bertajuk homecoming game ini berhasil dimenangi Persebaya dengan skor 1-0. Namun, lagi-lagi, permainan tim ini masih monoton. Tidak ada kengototan yang menjadi ciri khas permainan Persebaya selama ini. Dan puncaknya ketika Persebaya hanya mampu bermain imbang melawan Madiun putra di laga pembuka liga 2 beberapa waktu lalu.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menjelaskan beberapa faktor penyebab Persebaya gagal meraih poin penuh pada saat melawan Madiun putra. Salah satu faktor yang saya tulis adalah filosofi defense counter Iwan. Setelah laga melawan Martapura, saya semakin yakin dengan analisias saya bahwa Persebaya memang tidak cocok dengan strategi defense counter. Dari hari ke hari, Minggu ke Minggu tim ini tidak mengalami progress permainan yang positif. Iwan juga terbukti tidak mampu mengangkat mental para pemainnya ketika terpuruk, terbukti Iwan malah menyalahkan pemainnya ketika mental pemain down pada saat laga melawan Madiun putra lalu.

  1. Attitude buruk Iwan Setiawan

Kontroversi selalu akrab dengan Iwan Setiawan. Kontroversi dilakukan Iwan setiap dia mengeluarkan psywar yang ditujukan kepada tim lawan. Sudah banyak terjadi kontroversi saat Iwan mengeluarkan psywar-nya. Dimulai dengan mengatakan bahwa Persib Bandung bukanlah tim yang istimewa, lalu mengatakan bahwa PS TNI merupakan tim amatir,dan berujung pada pengunduran dirinya sebagai pelatih Borneo FC karena timnya tidak mampu mengalahkan PS TNI.

Ketika Persebaya memutuskan untuk mengontrak Iwan sebagai pelatih, banyak kalangan terutama dari Bonek yang menanyakan keputusan manajemen tersebut. Mengingat track record Iwan ketika melatih. Iwan terkenal sebagai pelatih yang hanya jago psywar saja tanpa hasil di lapangan. Apa yang diucapkan Iwan, tidak sesuai dengan apa yang dia tampilkan di lapangan.

Namun ketika itu, Iwan berujar bahwa ia akan berusaha memperbaiki sikapnya ketika melatih Persebaya. Dengan semangat membangun kembali Persebaya dan dengan waktu persiapan yang juga mepet, Bonek berusaha untuk bisa menerima Iwan dengan optimisme dan keyakinan. Bonek mempercayakan tim kebanggaan mereka dinahkodai oleh Iwan Setiawan.

BACA:  Perjuangan Bonek Bakal Jadi Filosofi Permainan Persebaya

Sayangnya, apa yang terjadi kemudian seperti di luar harapan Bonek. Dengan congkaknya Iwan menyindir PSIS Semarang sebagai tim banci karena menerapkan strategi bertahan kala menghadapi Persebaya. Lalu dengan lantangnya, Iwan mengatakan bahwa Madiun Putra adalah tim kampung, karena memeragakan sepakbola ala kampung yang tidak ada konsep permainannya alias grusa-grusu dalam bermain sepakbola. Pada akhirnya, tim kampung inilah yang membungkam mulut besar Iwan karena Persebaya yang dilatihnya tidak mampu mengalahkan Madiun Putra. Persebaya ditahan Madiun Putra pada laga pembuka liga 2 lalu. Bahkan Persebaya beruntung tidak kalah, mengingat banyaknya peluang yang gagal dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain Madiun Putra.

Kekecewaan Bonek kepada Iwan sampai pada puncaknya setelah pertandingan Persebaya melawan Martapura di stadion Demang Lehman. Bonek yang kecewa lantaran Persebaya dipecundangi Martapura, setelah sempat unggul terlebih dahulu berusaha melakukan protes terhadap seluruh personel Green Force yang hendak masuk bus menuju hotel tempat tim menginap. Bonek melancarkan protes di depan bus tim. Namun, apa yang terjadi sungguh diluar perkiraan. Iwan terpantik emosinya melihat protes Bonek. Dengan berani Iwan berusaha menantang para bonek tersebut, bahkan Iwan Setiawan sempat mengacungkan jari tengahnya ke arah Bonek. Beruntung pihak keamanan dan ofisial Persebaya yang lain langsung sigap mengamankan Iwan Setiawan masuk kedalam bus.

Protes yang dilancarkan Bonek adalah hal yang lumrah terjadi. Setiap suporter pasti menginginkan yang terbaik bagi timnya, tak terkecuali dengan kemenangan, atau minimal permainan yang menghibur. Kalah atau menang dalam suatu pertandingan adalah hal yang biasa, dan suporter dalam hal ini khususnya Bonek, tahu akan hal itu. Tapi respon yang ditunjukkan Iwan sungguh di luar batas kewajaran. Tidak ada respek dan nilai sportivitas sama sekali. Padahal di dalam olahraga, nilai-nilai sportivitas dan respek kepada sesama adalah hal yang utama.

***

Dari dua hal yang saya tuliskan di atas, hendaknya bisa menjadi bahan evaluasi manajemen untuk menentukan sikap. Liga 2 musim ini sangat berat. Lebih dari 50 persen peserta yang akan terdegradasi ke Liga 3. Dan hanya tiga tim yang akan promosi ke Liga 1. Tidak ada waktu lagi bagi manajemen untuk tidak segera mengambil sikap. Dari pola permainan, strategi Iwan kurang nyetel dengan Persebaya. Dari sisi psikologis, attitude buruk Iwan secara tidak langsung mengganggu mental pemain.

Keharmonisan tim juga terganggu. Manajemen juga harus memperhatikan brand image Persebaya, dan sponsor yang secara tak langsung juga tercoreng akibat attitude buruk Iwan Setiawan.

Di akhir tulisan ini, penulis juga ingin menggemakan tagar #IwanOut yang sempat menjadi trending topic beberapa saat lalu. Sudah tidak ada waktu lagi manajemen. Memberhentikan Iwan adalah pilihan yang logis untuk saat ini dan menggantinya dengan pelatih yang benar-benar mampu menyatu dengan Persebaya seutuhnya. (*)

*) Penulis: M. Faishal Rizky A, pemilik akun Twitter @FaishalRizkyA