Masuknya Duo Striker Baru, Lini Depan Persebaya Tampil Impresif

Starting eleven Persebaya pada pertandingan menghadapi Persepam MU. (Foto: Ervan Tria/EJ).

EJ – Persebaya akhirnya mampu meraih kemenangan perdana di Liga 2 2017. Tampil buruk di dua pertandingan awal, Persebaya membayar lunas pada pertandingan ketiga melawan Persepam Madura Utama. Kemenangan atas Persepam MU di Gelora Bung Tomo, Kamis (11/5) malam kemarin membuat Persebaya bisa beranjak meninggalkan posisi juru kunci Grup 5.

Kemenangan dengan skor meyakinkan 3-1 seolah menjadi pelepas dahaga yang sangat melegakan bagi Persebaya. Dua pemain baru, Mardiono dan Rishadi Fauzi langsung memberikan impresi yang bagus bagi Persebaya. Keduanya mampu mencetak gol pada partai debutnya berseragam Bajol Ijo. Sementara gol ketiga yang dicetak Misbakhus Solikin semakin menunjukkan bahwa pemain bernomor punggung 6 itu kini telah menjadi “nyawa” baru Persebaya, sekaligus melanjutkan rekor mencetak gol di tiga pertandingan beruntun.

Terlepas dari kecolongan satu gol di akhir-akhir pertandingan, pemain-pemain Persebaya memang telah menunjukkan peningkatan permainan dibandingkan dua laga sebelumnya. Dinakhodai asisten pelatih Ahmad Rosyidin dari pinggir lapangan, Rendi Irwan cs. nampak terlihat lebih enjoy sehingga permainan yang ditampilkan Persebaya menjadi lebih cair. Pada laga melawan Persepam MU kemarin, Ahmad Rosyidin menurunkan komposisi terbaik, termasuk dua muka baru di lini depan, Rishadi Fauzi dan Mardiono. Sedikit perubahan ada di lini belakang. Abu Rizal “Rodeg” dipercaya main sejak menit pertama mengisi posisi bek kanan. Selebihnya, Persebaya tampil dengan skuad terbaik.

Fleksibilitas Pemain Jadi Kunci Kemenangan Persebaya

Masuknya dua penyerang anyar Rishadi Fauzi dan Mardiono benar-benar memberikan opsi baru pada departemen penyerangan Persebaya. Selain mencetak gol debut, Fauzi dan Nono mampu tampil impresif dan banyak merepotkan lini belakang Persepam MU.

Pada laga kemarin, coach Ahmad Rosyidin menerapkan formasi 1-4-2-3-1. Dengan komposisi: Dimas Galih (GK); Abu Rizal, Andri Muliadi, Rachmat Latief,Abdul Azis (DF); Misbakhus Solikin, Sidik Saimima (CMF); Kurniawan Karman (RMF), Rendi Irwan (AMF) Mardiono (LMF); Rishadi Fauzi (CF). Formasi ini memang masih sama dengan formasi awal Persebaya di dua laga sebelumnya. Namun dalam penerapan di atas lapangan, coach Ahmad Rosyidin ternyata melakuan pendekatan berbeda.

Kurniawan Karman yang bermain di posisi sayap kanan diinstruksikan untuk bergerak lebih ke dalam untuk membantu kerja Misba dan Saimima, sekaligus mem-back up Abu Rizal “Rodeg”. Dengan pergerakan Kurniawan yang lebih ke dalam, maka Rizal Rodeg menjadi punya banyak ruang untuk berkreasi di sisi kanan. Rodeg sendiri memang bermain sangat baik pada laga kemarin. Sementara Rendi Irwan dan Mardiono dipersilakan bergerak bebas di belakang Rishadi Fauzi. Skema ini pun membuat Persebaya seperti bermain dengan formasi 4-3-2-1 saat menyerang. Hal ini sesuai dengan instruksi coach Ahmad Rosyidin yang membiarkan pemain-pemainnya bebas berkreasi di lapangan, asal masih tetap sesuai dengan pakem permainan.

Pergerakan fleksibel pemain-pemain Persebaya bisa dilihat pada proses terjadinya gol pertama yang dicetak oleh Mardiono pada menit ke-16. Mardiono yang di awal laga sering beroperasi di sisi kiri pertahanan Persepam MU, tiba-tiba sudah berada di area kanan dekat kotak penalti lawan untuk menyambut umpan lambung dari Kurniawan Karman. Dengan footwork yang luar biasa baik, Nono berhasil mengelabuhi bek-bek Persepam MU sebelum akhirnya melepaskan tembakan yang tak bisa dijangkau kiper Deni Sepriyanto.

BACA:  Iwan Sebut Madiun Putra Mainkan Sepak Bola Kampung, Ini Faktanya!

Peran sebagai pemain fleksibel juga ditunjukkan oleh Rishadi Fauzi. Diplot menjadi penyerang tunggal, Fauzi tampil baik dengan banyak bergerak sedikit melebar dari area kotak penalti lawan untuk membuka ruang. Tak hanya itu saja, Fauzi pun juga berperan sebagai tembok pemantul dengan banyak memenangi duel udara dengan bek-bek Persepam MU.

Entah ada “faktor X” atau tidak, namun yang jelas permainan pemain-pemain Persebaya nampak berbeda dari laga-laga sebelumnya. Pemain terlihat lebih menikmati pertandingan dan tidak tergesa-gesa dalam membangun serangan. Di atas lapangan, Saimima dkk. pun juga lebih rajin untuk berlari mengejar bola. Meski secara permainan belum bisa dikatakan sempurna, namun kemenangan perdana ini tentunya sangat penting untuk memompa semangat tim yang kemarin sempat terpuruk.

Masalah Klasik Stamina dan Koordinasi Menurun pada 20 Menit Terakhir

Menang dengan skor meyakinkan, namun Persebaya bukannya tak punya pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Masalah klasik yang selalu menghampiri Persebaya dalam dua pertandingan terakhir, yakni menurunnya stamina dan konsentrasi pemain pada menit-menit akhir kembali muncul pada pertandingan kemarin.

Menurunnya stamina dan konsentrasi pemain-pemain Persebaya ketika pertandingan sudah mulai masuk menit 70 ke atas bisa dimanfaatkan oleh Persepam MU. Pada menit ke-72, sebuah serangan balik di area kanan pertahanan Green Force membuat Faris Aditama memiliki peluang melepaskan tembakan. Beruntung, sebuah shot on target Faris masih bisa dimentahkan oleh Dimas Galih yang bermain sangat baik malam itu. Setelah peluang tersebut, Persepam akhirnya berhasil mencuri gol. Melalui sebuah skema tendangan penjuru, M. Kasim Botan berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Persebaya untuk menceploskan bola ke gawang Dimas Galih.

Pada momen gol balasan Persepam MU, terlihat bahwa pemain-pemain Persebaya yang memenuhi kotak penalti sendiri hanya memperhatikan datangnya bola, tanpa ada usaha untuk memberikan blok atau melakukan penjagaan kepada pemain lawan. Padahal saat itu ada tujuh pemain Persebaya yang menjaga area penalti sendiri, sementara dari Persepam MU hanya ada tiga pemain yang berada di dalam kotak penalti.

Bahkan sebelum gawangnya kebobolan, Dimas Galih dipaksa bekerja keras mementahkan peluang-peluang Persepam MU. Termasuk pada menit 55 dimana ia secara sigap menghalau tendangan Ahmad Fatoni yang berada tepat di muka gawang Persebaya.

Masalah stamina dan daya tahan pemain untuk tetap bermain konsisten selama 90 menit memang menjadi masalah tersendiri bagi Persebaya yang hingga kini belum ditemukan solusinya. Apalagi, pekan depan Bajol Ijo harus melakoni partai away yang sangat berat ke kandang PSIM Yogyakarta. Menghadapi PSIM yang dikenal garang jika bermain home, permasalahan stamina yang masih menjadi PR bagi Persebaya harus cepat ditemukan solusinya. (rvn)