Fisik Pemain Persebaya Drop di Pertengahan Babak Kedua, Kok Bisa?

Muhammad Hidayat saat melawan Madiun Putra. Foto: Joko Kristiono/EJ

EJ – Persebaya sukses mengalahkan tamunya Persepam Madura Utama pada laga lanjutan Liga 2, Kamis (11/5) lalu. Sebuah kemenangan dengan skor meyakinkan, 3-1, yang membuat Persebaya untuk sementara meninggalkan posisi juru kunci Grup 5. Dibanding dua laga sebelumnya dimana Persebaya gagal menang, laga melawan Persepam MU seolah menjadi titik balik penampilan Rendi Irwan dkk.

Persebaya berhasil menekuk Persepam MU dengan penampilan yang rancak, terutama pada babak pertama. Di babak pertama, Persebaya sudah unggul dua gol lewat sepakan Mardiono dan Rishadi Fauzi. Di awal babak kedua, Misbakhus Solikin menambah keunggulan Bajul Ijo memanfaatkan situasi bola mati. Unggul tiga gol hingga menit ke-50, permainan Persebaya tiba-tiba menurun setelah masuk menit 70 keatas. Situasi yang hampir sama seperti dua pertandingan sebelumnya, dimana pemain-pemain Persebaya terlihat kehabisan tenaga pada 20 menit akhir pertandingan.

Stamina punggawa Persebaya yang mulai mengendur berhasil dimanfaatkan tamunya untuk mencuri gol. Melalui skema tendangan penjuru, Persepam MU berhasil mencetak gol lewat sepakan M. Kasim Botam pada menit 73. Sebuah gol yang seharusnya bisa diantisipasi pemain-pemain Persebaya karena saat terjadi tendangan penjuru ada sekitar delapan pemain yang berada di dalam kotak penalti. Sedangkan dari lawan, hanya menempatkan tiga peman di area penalti Persebaya.

Proses terjadinya gol balasan yang dicetak Persepam MU. Gol terjadi dalam situasi 8v3.

Buruknya stamina pemain-pemain Persebaya memang terlihat nyata pada proses gol balasan yang dicetak Persepam MU. Ketika ada sepakan penjuru dan bola mengarah ke kotak penalti, pemain-pemain Persebaya hanya melihat datangnya bola. Tak ada blok atau marking kepada lawan, sehingga lawan pun dengan mudahnya mencetak gol. Persepam MU memang tidak bisa menambah gol lagi di sisa waktu. Namun satu gol yang berhasil mereka sarangkan ke gawang tuan rumah seolah memberikan warning kepada Persebaya bahwa skuad Green Force harus meningkatkan stamina dan daya tahan fisik di atas lapangan.

Korelasi Kekuatan dan Daya Tahan Fisik dengan Aplikasi Taktik di Lapangan

Sepakbola sebagai salah satu cabang olahraga yang membutuhkan gerak tubuh kompleks pastinya membutuhkan kekuatan fisik para pelakunya. Dari kekuatan fisik yang bagus, maka pemain sepakbola akan memiliki daya tahan (endurance) untuk bisa tampil prima selama 90 menit, plus extra time jika memang diperlukan. Jika tim sudah memiliki pemain-pemain yang memiliki kekuatan fisik dan daya tahan yang bagus, maka pelatih pun akan mudah menerapkan taktik sesuai yang diinginkan. Sebaliknya, jika daya tahan fisik pemain jelek, maka taktik yang sudah diinstruksikan oleh pelatih pun tidak akan berjalan lancar.

BACA:  Sosok Alfredo Vera, Pelatih Yang Jago Angkat Moral Tim

Di Eropa, kekuatan dan daya tahan fisik sangatlah penting untuk menilai seorang pemain siap diturunkan bertanding atau tidak. Oleh karena itulah, kebanyakan klub-klub sepakbola Eropa memiliki staf khusus yang menangani persiapan fisik pemain. Bahkan, tak sedikit pesepakbola klub-klub Eropa memiliki pelatih fisik sendiri. Pemain pun juga secara suka rela mau menerima program latihan fisik yang diberikan klub.

Fernando Llorente, mantan pemain Juventus yang kini merumput di Liga Inggris bersama Swansea City, pernah mengatakan bahwa model latihan fisik yang ia jalani sewaktu di Juve sangatlah “barbar”, saking beratnya.

“Kami melatih kekuatan (fisik) dengan sangat berbeda. Saya belum pernah melakukan ini, menggunakan mesin-mesin yang sebelumnya saya tidak tahu. Dan ada juga latihan-latihan fisik lain yang membuat Anda kelelahan,” tutur Llorente, seperti dikutip dari Football Italia.

“Latihannya lebih menuntut. Ini barbar, latihan fisiknya brutal. Tapi ini punya sisi baik, Anda berada di bentuk yang lebih baik,” lanjut pemain asal Spanyol tersebut.

Pernyataan Llorente tersebut menyiratkan betapa pentingnya latihan fisik, terutama untuk mengarungi liga yang memiliki banyak pertandingan. Dengan materi latihan fisik yang sudah disusun secara terstruktur oleh klub, maka daya tahan pemain untuk bermain spartan selama 90 menit pun akan lebih terjaga. Selain itu, pemain pun juga akan tetap dalam kondisi fisik yang bugar.

Di Persebaya saat ini, latihan fisik secara khusus sepertinya bukan menjadi prioritas tim pelatih. Hal tersebut bisa dilihat dari staf kepelatihan Persebaya dimana tidak ada satupun yang menangani urusan fisik, semuanya merupakan pelatih teknik.

Sejak pertandingan pertama menghadapi Madiun Putra, payahnya daya tahan fisik pemain-pemain Persebaya sudah sangat kentara. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pemain Persebaya yang mengalami kram pada menit di atas 70. Kemudian pada laga melawan Persepam MU kemarin jelas bahwa pemain-pemain Persebaya mulai loyo jika pertandingan memasuki menit 70. Jika sudah masuk ke menit 70, Persebaya seolah bermain tanpa arah. Berbeda pada awal pertandingan dimana pemain-pemain Persebaya tampil menggebrak dengan intensitas serangan cukup tinggi.

Jika terus-terusan bermain dengan kondisi fisik rendah, maka pemain-pemain Persebaya pun akan cepat kehilangan stamina, terutama jelang berakhirnya pertandingan. Kondisi ini tentunya membuat Persebaya memiliki potensi untuk dijadikan bulan-bulanan oleh tim yang memang lebih agresif di menit-menit akhir laga. Lalu bagaimana cara mengatasi masalah rendahnya endurance pemain-pemain Persebaya? Ikuti seri tulisan ini di sini. (Bersambung)