Football Conditioning Untuk Jaga Kondisi Fisik Pemain Persebaya, Efektifkah?

Pendinginan yang dilakukan pemain Persebaya dipandu tim dari FIK Unesa. Foto: Joko Kristiono/EJ

Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya, Fisik Pemain Persebaya Drop di Pertengahan Babak Kedua, Kok Bisa?

Sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana buruknya daya tahan (endurance) pemain-pemain Persebaya pada babak kedua jelang pertandingan berakhir, tepatnya ketika sudah memasuki menit 70 keatas. Pada bagian kedua ini, kita akan membahas bagaimana staf pelatih Persebaya me-maintain kondisi fisik Rendi Irwan dkk.

Periode pertengahan babak kedua merupakan periode yang sangat rawan bagi Persebaya. Dalam periode ini, permainan Persebaya cenderung menurun. Hal ini bisa dilihat dari tiga game yang sudah dimainkan Persebaya. Permainan yang cenderung menurun di babak kedua membuka kesempatan bagi lawan untuk mengeksploitasi celah di pertahanan Persebaya. Jika menghilangkan faktor nonteknis, laga melawan Martapura FC adalah contoh paling kentara bagaimana lawan bisa memanfaakan stamina pemain-pemain Persebaya yang menurun jelang akhir laga. Pada pertandingan itu, Persebaya kemasukan dua gol melalui skema serangan balik di penghujung laga. Faktor stamina dan konsentrasi jelas memegang peran penting atas dua gol yang bersarang ke gawang Persebaya.

Sepengetahuan penulis, staf pelatih Persebaya saat ini menerapkan model football  conditioning sebagai cara untuk menjaga kondisi fisik pemain. Beberapa materi yang ada dalam football conditioning antara lain physical conditioning dan maintenance. Football conditioning sendiri merupakan salah satu materi dalam periodisasi latihan yang cukup populer diterapkan di Eropa. Laman Kick Off! Indonesia pernah mengulas apa itu periodisasi latihan dengan acuan materi latihan yang diterapkan di Feyenoord Academy (tulisan lengkapnya bisa dibaca disini).

Intinya, football conditioning day dilakukan untuk mengembalikan kondisi fisik pemain usai menjalani pertandingan liga. Biasanya, football conditioning day dilakukan dua hari setelah pertandingan liga. Materi latihan dalam football conditioning pun juga berbeda-beda tiap pekannya. Seperti misalnya, persiapan daya ledak dan game besar di dua minggu pertama. Lalu sprint sepakbola dengan rest pendek dan game sedang di dua minggu kedua. Terakhir sprint sepakbola dengan rest panjang dan game kecil di dua minggu akhir. Minggu pertama, ketiga dan kelima adalah untuk pengulangan. Sedangkan minggu kedua, keempat dan keenam untuk peningkatan volume.

Tujuan dari diterapkannya football conditioning dengan materi latihan berbeda adalah untuk mencapai daya ledak pemain di hari H pertandingan. Dalam penerapannya, football conditioning juga sangat memperhatikan aspek-aspek psikologis pemain. Untuk itulah, dalam periodisasi latihan ala Feyenoord Academy mengenal istilah Social Day dan School Day. Lalu, apakah football conditioning seperti ini cocok diterapkan di Persebaya?

Football Conditioning dengan Tambahan Menu Latihan Fisik dan Perhatikan Asupan Nutrisi Pemain

BACA:  Satu Poin Berharga dan Pelajaran dari Ngawi

Ketika melihat penampilan Persebaya yang selalu loyo jelang pertandingan usai, banyak suara yang menyarankan agar tim merekrut pelatih fisik guna membenahi stamina pemain. Seperti yang sudah pernah dilakukan oleh Jacksen F. Tiago ketika menangani Persebaya pada tahun 2004.

Opsi merekrut pelatih fisik memang bisa diambil. Namun merekrut pelatih fisik tidak boleh sembarangan. Pelatih fisik yang dibutuhkan sebuah tim sepakbola berbeda dengan pelatih fisik pada umumnya. Pelatih fisik sepakbola harus menguasai perihal dasar sepakbola. Itulah mengapa kala itu Jacksen mendatangkan sorang pelatih fisik langsung dari Brazil yang memang spesialis menangani kondisi fisik pemain sepakbola. Tentunya pembaca tahu siapa pelatih fisik yang dimaksud.

Namun jika Persebaya tetap keukeuh untuk tidak menggunakan pelatih fisik, maka solusinya kembali pada materi football conditioning yang harus diaplikasikan secara benar dan harus ditaati oleh pemain. Sebenarnya football conditioning yang diterapkan di Persebaya sendiri sudah mencakup latihan fisik itu sendiri, meski latihan fisiknya tetap berkorelasi dengan kebutuhan tactical.

Untuk menambah optimalisasi football conditioning, menu latihan fisik di luar jam latihan taktik bisa ditambah. Namun latihan fisik di luar taktik tidak bisa sepenuhnya diforsir, karena kondisi fisik seorang pemain ada batasnya. Jika terlalu dipaksakan untuk menggenjot fisik secara berlebihan, bisa-bisa pemain-pemain justru malah kehilangan daya ledaknya pada saat pertandingan yang sesungguhnya. Salah satu kunci dari football conditioning adalah disiplin. Pemain-pemain harus memiliki kedisiplinan tinggi saat berlatih, dan harus bisa menjaga kondisi fisik diluar lapangan.

Hal lain yang sedikit banyak berpengaruh kepada kondisi fisik pemain adalah asupan nutrisi. Sebaik apapun materi latihan yang diterapkan, semua akan percuma jika pemain-pemain tidak mendapatkan asupan nutrisi yang sesuai dengan standar olahraga, khususnya sepakbola. Sepengetahuan penulis juga, saat ini Persebaya belum memiliki staf khusus yang mengurusi asupan nutrisi dan gizi pemain. Asupan nutrisi dan gizi pemain pastinya berhubungan dengan makanan untuk pemain. Di belahan bumi yang sepakbolanya sudah maju, seorang pemain sepakbola tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan. Semua harus sesuai aturan dan sudah ada takarannya. Dan pemain pun juga sangat menyadarai betapa pentingnya asupan nutrisi untuk menjaga kondisi dan daya tahan fisik.

Muara dari diterapkannya materi latihan yang terstruktur rapi serta diperhatikannya asupan nutrisi kepada pemain adalah untuk menjaga daya tahan pemain agar tetap bisa bermain spartan selama 90 menit di lapangan. Untuk mendapatkan kualitas fisik serta endurance yang maksimal, pastinya butuh kedisiplinan tinggi dan kerja keras dari pemain serta staf pelatih. (habis)