Menilai Kinerja Lini Belakang Persebaya

Lini belakang Persebaya melakukan blokade terhadap tendangan bebas pemain PSIM. (Foto: Dimas Garisbiru for EJ)

EJ – Empat pertandingan Liga 2 sudah dijalani Persebaya. Dari empat pertandingan tersebut, Bajul Ijo masih tercecer di peringkat ke-7 klasemen sementara Grup 5. Persebaya tertinggal tiga poin dari pemuncak klasemen sementara Grup 5, Persatu tuban. Persaingan di Grup 5 sendiri memang sangat ketat, karena masing-masing klub bisa saling mengalahkan. Meski kini berada di peringkat kedua dari bawah, Persebaya masih berpeluang merangsek naik ke papan atas jika mampu memenangi satu partai tunda menghadapi PSBI Blitar.

Berada di peringkat ketujuh dengan koleksi lima poin tentu bukan sebuah prestasi yang patut dibanggakan untuk klub sebesar Persebaya. Lima poin yang dikoleksi Persebaya merupakan hasil dari satu kali menang, dua kali imbang dan satu kali kalah. Persebaya sendiri sempat mengalami kesulitan di dua pertandingan awal, dimana Rendi Irwan dkk. ditahan imbang Madiun Putra di kandang, lalu takluk dari Martapura FC di Stadion Demang Lehman. Skuad Green Force baru bangkit pada pertandingan ketiga ketika mampu mengalahkan Persepam MU dengan skor 3-1, kemudian bisa mencuri satu poin dalam lawatan ke kandang PSIM Jogja.

Dari empat laga yang sudah dijalani Persebaya, sektor belakang menjadi salah satu lini yang paling disorot karena gawang Bajul Ijo tidak pernah cleansheet. Bahkan, Persebaya sudah kemasukan lima gol hanya dalam empat partai saja. Rapor buruk lini belakang Persebaya ini membuat bek-bek Green Force mendapat kritikan keras dari suporter. Banyak yang menilai bahwa lini belakang Persebaya selalu tampil di bawah form dalam empat pertandingan terakhir. Sorotan paling tajam tentu ditujukan pada duet center back Persebaya, Rachmat Latief dan Andri Muliadi.

Sebagai nama senior di lini belakang Persebaya, Latief dianggap belum bisa tampil sesuai ekspektasi. Mantan pemain Borneo FC itu kerap kalah dalam duel sprint dengan striker lawan. Sementara Andri masih lemah dalam me-marking lawan sehingga kerap kewalahan saat terjadi serangan balik cepat. Selain dua pengisi pos bek tengah, sorotan juga tertuju pada dua full back Persebaya. Dari empat pertandingan yang sudah dijalani Persebaya, ada tiga nama yang dipercaya mengisi posisi full back. M. Syaifudin turun sebagai starter di pos bek kanan pada pertandingan pekan pertama. Selanjutnya, pada laga tandang ke Martapura hingga terakhir menghadapi PSIM, posisi bek kanan selalu ditempati oleh Abu Rizal Maulana. Sedangkan di posisi full back kiri, Abdul Azis selalu menjadi pilihan pertama dalam empat pertandingan.

Gagal Total di Dua Pertandingan Awal

Dua pertandingan awal menghadapi Madiun Putra dan away ke Martapura FC benar-benar menjadi ujian bagi lini belakang Persebaya. Pada partai pembuka menghadapi Madiun Putra di Gelora Bung Tomo, kuartet bek Persebaya seolah-olah di-bully oleh duet penyerang Madiun Putra, Nanang Wahyudi dan Purniawan. Posisi bek tengah yang kala itu diisi duet Rachmat Latief dan Andri Muliadi tak berdaya menghadapi eksplosivitas dan kecepatan penyerang-penyerang Madiun Putra. Pun demikian dengan dua full back Persebaya yang diisi oleh Syaifudin dan Abdul Azis.

Pada laga melawan Madiun Putra, sangat kentara bahwa lini belakang Persebaya tampil gugup. Selain itu, kondisi fisik bek-bek Persebaya pun juga sangat buruk. Level kebugaran mereka tampak berada di bawah pemain-pemain lawan. Di paruh akhir babak kedua, praktis lini belakang Persebaya sudah kehabisan tenaga dan tak berdaya lagi mengejar lari penyerang-penyerang Madiun Putra. Beruntung Persebaya tidak kebobolan lagi jelang pertandingan usai.

Usai gagal menang di partai pembuka, Persebaya harus melakoni away berat ke Martapura. Green Force melawat ke Stadion Demang Lehman dalam kondisi compang camping akibat badai cedera. Di luar faktor non teknis, laga melawan Martapura FC menjadi bukti bahwa kondisi lini belakang Persebaya sangat memprihatinkan. Sempat unggul di babak pertama, Persebaya harus kebobolan dua gol yang terjadi di paruh akhir babak kedua. Lagi-lagi masalah stamina menjadi kendala. Karena stamina yang drop, maka koordinasi pertahanan Persebaya pun menurun sehingga mudah ditembus lawan.

Dari dua hasil minor tersebut, nampak bahwa Persebaya masih mencari komposisi terbaik di lini belakang, terutama di pos bek kanan dan kiri. Untuk bek tengah, pilihan terbaik untuk saat ini memang Rachmat Latief dan Andri Muliadi. Meski belum menemukan performa terbaiknya, namun Latief adalah bek paling berpengalaman yang dimiliki Persebaya. Atmosfer liga tentu  berbeda dengan pertandingan uji coba. Untuk itu, lini belakang tetap membutuhkan pengalaman seorang Rachmat Latief. Dipilihnya Andri Muliadi sebagai pendamping Latief juga bukan tanpa pertimbangan matang. Andri yang masih segar dan lebih bertenaga dibutuhkan untuk mengimbangi Latief yang belum menemukan puncak permainan.

Kualitas Bek Tengah Perlahan Meningkat, Pekerjaan Rumah untuk Posisi Full Back

Babak belur di dua partai awal, lini belakang Persebaya mulai terlihat bermain nyaman pada pertandingan ketiga. Menghadapi Persepam MU dimana Persebaya menang dengan skor 3-1, lini belakang Bajul Ijo tampil lebih baik dibanding pertandingan-pertandingan sebelumnya. Terlepas dari lawan yang hari itu bermain tidak terlalu baik, lini belakang yang diisi oleh Abu Rizal, Rachmat Latief, Andri Muliadi dan Abdul Azis sebenarnya mampu tampil baik dan adaptatif dengan gaya main lawan. Latief-Andri semakin kompak menggalang lini pertahanan Green Force. Abu Rizal juga terlihat nyaman bermain di posisi bek kanan, meski posisi ini bukan posisi naturalnya. Sorotan mungkin hanya tertuju kepada Abdul Azis di pos bek kiri.

Tak sedikit yang mengkritik mengapa Abdul Azis terus dipercaya sebagai pilihan pertama posisi bek kiri. Ketika melawan Persepam MU, walaupun Persebaya menang namun posisi bek kiri tetap mendapat sorotan. Azis dinilai memiliki kelemahan dalam hal stamina. Selain itu Azis juga kerap terlambat membantu pertahanan dan sering kalah ketika beradu fisik dengan lawan. Namun keraguan terkait posisi Abdul Azis mulai menemukan jawaban pada laga tandang menghadapi PSIM Jogja.

Melawan tuan rumah yang punya rekor 100 persen kemenangan jika bermain di Stadion Sultan Agung, Persebaya kembali menurunkan komposisi lini belakang seperti kala jumpa Persepam MU. Abu Rizal tetap mengisi posisi bek kanan. Duet jantung pertahanan dipercayakan kembali kepada Rachmat Latief dan Andri Muliadi. Sementara Abdul Azis tetap diturunkan sebagai pengisi posisi bek kiri meski tengah dalam sorotan.

Menghadapi tuan rumah yang agresif di sayap, lini belakang Bajul Ijo mampu tampil disiplin. Sadar kalah kecepatan dengan penghuni lini depan PSIM, Latief dan Andri memilih bermain taktis dan berorientasi pada positioning daripada melakukan man-to-man marking. Hal ini bisa dilihat dari catatan statistik Latief dan Andri yang sangat bagus pada duel melawan PSIM. Pada laga ini, Latief mencatatkan 6 clearance dan memenangi 4 aerial duels. Sementara Andri yang pada pertandingan melawan PSIM berperan sebagai “tukang jagal” mencatatkan 6 clearance dan 2 succesful tackles.

Statistik lini belakang Persebaya sewaktu menghadapi PSIM.

Meski akhirnya tetap kecolongan satu gol, namun peningkatan kualitas secara perlahan jelas terlihat di lini pertahanan Persebaya. Latief hampir selalu memenangi duel udara di area kotak penalti sendiri. Selain itu, kemampuan ball reading Latief pun juga mulai terlihat pada laga ini. Sementara sang partner, Andri Muliadi sukses menjalankan peran sebagai back-up di lini belakang. Di sisi kanan pertahanan, Abu Rizal mampu berkolaborasi apik dengan Kurniawan Karman dalam membendung agresivitas Rangga Muslim (sayap kiri PSIM). Gol PSIM pun terjadi setelah Rangga lebih sering beroperasi di area kiri pertahanan Persebaya, bertukar posisi dengan Dicky Prayoga (sayap kanan PSIM). Ini artinya, Rangga pun sebenarnya mengalami kesulitan ketika harus berhadapan dengan poros Rizal-Kurni. Oleh karena itu, Rangga pun menyerahkan urusan Rizal-Kurni kepada pemain yang lebih tricky, yaitu Dicky Prayoga. Kemudian, khusus untuk Abdul Azis, ia mulai menunjukkan peningkatan permainan pada laga ini. Kala menghadapi PSIM, Azis mencatatkan 3 clearance dan 2 tekel sukses. Catatan statistik yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Dari sini didapat jawaban bahwa tetap dipasangnya Abdul Azis di pos bek kiri semata-mata karena kebutuhan taktik.

Abdul Azis tetap menjadi pilihan pertama di pos bek kiri karena ia sesuai dengan kebutuhan taktik yang diterapkan Persebaya. Dalam dua laga terakhir, Persebaya selalu melakukan high pressing kepada lawan. Dengan cara ini Persebaya mampu menyudahi perlawanan Persepam MU dan bisa mematikan lini tengah PSIM. Azis memang belum memiliki kemampuan man marking yang bagus, karena lebih kerap melakukan man marking dengan cara “satu kali ambil”, dan cara itu lebih sering gagal untuk mematikan gerakan lawan. Namun diluar itu, Azis rupanya cukup baik dalam memberikan pressing kepada lawan. Karena karakternya yang cenderung agresif pula, Azis pun lebih cocok dalam penerapan zonal marking untuk menekan ruang gerak lawan. Jika terus dipercaya sebagai pengisi pos bek kiri utama, mau tidak mau Azis harus membenahi stamina dan daya tahan fisiknya. Selain itu, dia juga harus meningkatkan level permainannya, terutama saat bertahan.

Posisi full back memang menjadi pekerjaan rumah Persebaya di sektor pertahanan. Masih ada cukup waktu untuk berbenah. Jeda kompetisi di bulan Ramadhan bisa digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja lini belakang. Dengan situasi internal tim yang semakin kondusif, Persebaya hanya butuh konsistensi dalam bermain. Dan konsistensi itu bisa didapat dari kerja keras sejak dari latihan, untuk kemudian diaplikasikan dalam pertandingan yang sesungguhnya. (rvn)