Sosok Alfredo Vera, Pelatih Yang Jago Angkat Moral Tim

Alfredo Vera (kanan) saat diperkenalkan sebagai pelatih Persebaya. Foto: Iwan Iwe/EJ

EJ – Alfredo Vera secara resmi menjadi juru taktik anyar Persebaya. Sabtu, (27/5) sore ini, pelatih asal Argentina tersebut telah resmi menangani Rendi Irwan dkk. Diangkatnya Vera sebagai pelatih baru Persebaya tentunya akan menjadi tantangan tersendiri baik bagi sang pelatih maupun bagi Persebaya yang kini tengah terseok-seok di Grup 5 Liga 2 musim 2017.

Alfredo Vera bukanlah nama baru di sepakbola nasional. Pria bernama lengkap Angel Alfredo Vera tersebut sebelumnya pernah menangani beberapa klub Tanah Air seperti Persela Lamongan, Persegres Gresik dan terakhir Persipura Jayapura. Di Lamongan dan Gresik nama Vera memang tidak begitu terangkat. Baru ketika menangani Persipura di gelaran Indonesia Soccer Championship A tahun lalu, nama Alfredo Vera mulai melejit.

Datang ke Persipura sebagai pengganti Jafri Sastra di awal ISC A, Vera diserahi tugas berat untuk kembali mengangkat prestasi Mutiara Hitam yang terpuruk di periode awal ISC A. Namun berkat tangan dingin pelatih kelahiran Argentina, 18 Agustus 1972 tersebut, Boaz Solossa cs. kembali menemukan performa terbaiknya dan terus tampil menggila hingga akhirnya keluar menjadi kampiun ISC A. Usai mengantarkan Persipura menjadi juara ISC A, Vera pun dinobatkan sebagai pelatih terbaik ISC oleh FourFourTwo.

Kemampuan Vera dalam mengangkat moral dan mental pemain-pemain Persipura memang patut diacungi jempol. Sebelum Vera datang, Persipura hanya mampu meraih 5 kemenangan dan 4 kali kalah. Begitu Vera masuk, kepercayaan diri pemain-pemain Mutiara Hitam pun kembali terangkat. Sektor mental dan kepercayaan diri pemain memang menjadi salah satu aspek yang pertama kali dibenahi Vera ketika ditunjuk sebagai arsitek Persipura. Selain mampu mengangkat moral pemain, Vera juga piawai dalam membangun komunikasi di dalam tim. Vera pun juga cerdik memanfaatkan potensi anak-anak muda Persipura. Ketika itu, Vera mengubah formasi dasar 4-5-1 yang biasa dimainkan Jafri Sastra menjadi 4-3-3 dengan memaksimalkan darah muda Osvaldo Haay dan Ferinando Pahabol sebagai pendamping kapten Boaz Solossa atau Edward Junior Wilson di lini depan Persipura.

Di tangan Vera, Persipura hanya menderita dua kali kekalahan. Boaz Solossa dkk. hanya kalah saat menjalani derby melawan Perseru Serui dan ketika dijamu Persib Bandung di Bandung. Sisanya, Vera mampu menyulap skuat yang sempat lunglai di tangan Jafri Sastra menjadi perkasa dan menjadi peraih gelar juara ISC A.

BACA:  Pilihan Formasi Persebaya Pasca Datangnya Rishadi Fauzi dan Mardiono

Kemampuan dalam mengangkat moral tim sekaligus bisa memaksimalkan potensi pemain inilah yang menjadi dasar manajemen Persebaya menunjuk Alfredo Vera sebagai nakhoda baru Green Force. Persebaya sendiri hingga pekan ke-5 Liga 2 2017 masih terpuruk di posisi 7 klasemen sementara Grup 5. Persebaya baru mengoleksi lima poin hasil dari 1 kali menang, 2 kali imbang dan sekali kalah. Persebaya pun sempat dihinggapi masalah internal tim yang berujung pada pemecatan pelatih Iwan Setiawan.

Situasi Persebaya sebenarnya sudah mulai kondusif pada dua laga terakhir dimana skuad Bajul Ijo mampu meraup empat poin. Kini, tugas Vera sebagai arsitek baru Persebaya adalah mengembalikan mental bertanding para pemain. Selain itu, ia pun masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas fisik pemain yang selama ini dianggap sebagai masalah utama buruknya permainan Persebaya.

Kemampuan Vera dalam mengangkat moral tim yang tengah terpuruk memang sudah terbukti bersama Persipura. Namun, Vera belum sepenuhnya teruji dalam menangani tim dengan materi pemain non-bintang. Ketika menangani Persipura yang dianggap sebagai salah satu tim dengan materi pemain terbaik di Indonesia, Vera dengan mudah bisa mengutak-atik strategi yang sesuai dengan gaya main Mutiara Hitam. Berbeda kasus ketika ia tidak terlalu sukses saat menangani Persegres dan Persela. Di Persebaya, Vera akan menghadapi tantangan lebih besar karena saat ini di dalam skuad Persebaya nyaris tanpa pemain berlabel “kelas satu” dan kebanyakan merupakan pemain muda.

Selain harus mampu menaikkan mental bertanding dan mengaplikasikan strategi yang sesuai untuk pemain-pemain Persebaya, Vera juga dituntut harus bisa mengenal karakter serta kultur Persebaya. Tak bisa dipungkiri, saat ini pendukung Persebaya sangat merindukan permainan Persebaya yang ngotot, militan dan ngeyel. Karakter khas Suroboyoan inilah yang tidak ditemukan dalam empat pertandingan terakhir yang sudah dilakoni Persebaya.

Sementara itu, di luar urusan taktik dan mental pemain, Alfredo Vera pun seolah mengalami deja vu ketika ditunjuk sebagai pelatih anyar Persebaya. Ketika ditunjuk menangani Persipura di ISC A tahun lalu, Vera masuk sebagai pelatih ketika kondisi tim tengah terpuruk. Nah, situasi hampir sama pun juga Vera alami ketika resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Persebaya. So, mampukah Alfredo Vera mengembalikan kejayaan Persebaya dan bisa mengantar Persebaya promosi ke Liga 1 musim depan? Kita tunggu pembuktiannya. (rvn)