Ruang dan Waktu Persebaya

Mural by @ProjectMural

Sebuah judul rare yang akan penulis bawa di-essay yang super singkat ini. Pemanifestasian utuh tentang kerelaan, kesetiaan, loyalitas, dan martabat harga diri bangsa yang berhimpun dalam warna yang beridentik berwarna hijau dengan tugu, sura serta buaya-nya.

Baiklah, akan saya coba. Bismillah. Terlalu linear untuk mengatakan bahwa Persebaya adalah sembilan huruf sederhana yang terlapis oleh fanatisme tanpa arah. Terlalu sederhana pula jika menganggap Persebaya adalah linear dengan Surabaya-nya kendati hakikinya adalah jawaban iya.

Dalam segi masa lalu, Persebaya yang dengan mbah Paijo dan sejawatnya di awalannya bernama SIVB (Soerabhaiaische Indonesische Voetbal Bond) merupakan penggalan puzzle sejarah bangsa yang turut andil dalam melengkapi perjuangan Indonesia 1945. Sembarang orang kala itu, kemarin, detik ini, esok, lusa hingga selamanya, Persebaya akan tetap menjadi utopia bagi siapapun yang berhasrat melenyapkannya. Sebuah titik penegasan bahwa sejatinya perjalanan Persebaya adalah perjalanan sepak bola Indonesia. Hal absurd andaikata artefak itu lenyap dalam palung laut yang menghempaskan bangsa Indonesia dari sejarah, asal-usul, riwayat, dan silsilah bangsa nya.

Membangkitkan Imajinasi

Adalah sebuah pencerminan dari kenyataan yang menjadi pelecut untuk bangkit, bergerak, dan mengubah keadaan. Jika pembaca masih ingat dengan album music SGT Peppers Lonlie Heart’s Club Band-nya The Beattles. Di tahun 60-an, The Beattles melihat bahwa musik menjadi mainstream karena tuntutan industri. Jika pun disebut pionir, tapi mereka juga nurut mengikuti kemauan pasar industri dimana scene musik era 60-an lalu warnanya sama. Jenuh dengan warna yang itu-itu saja, The Beattles sempat memutuskan vakum konser dan meramu warna baru yang jadinya adalah album tersebut. Pengaruh besar hingga merubah style, cover album, lirik dan apapun itu menjadikan The Beattles menjadi episentrum musik dunia.

Beda The Beattles, beda Persebaya, dengan latar yang tak jauh berbeda. Upaya penghapusan dan penghilangan paksa tentang adanya Persebaya di negara sebesar dan seremaja Indonesia tengah mereka lakukan. Puncaknya sekitar 5-8 tahun kebelakang. Mereka muak dengan muaknya Persebaya ke otoritas yang juga turut Persebaya lahirkan.

Okelah, secara raga memang sukses memasukkan virus-virus yang menidurkan sejenak Persebaya di arungan laga. Tapi ada yang mereka tinggal, yang mereka lupakan atau justru yang tak pernah mereka fikirkan sesungguhnya Persebaya sangat-sangat jauh lebih dulu merasuk, menyatu dan bergejolak di hati yang mencintai. Sebab pergejolakan hati yang berakibat pelbagai pergerakan yang bertajuk #SavePersebaya #SurabayaMelawan seolah adalah refleksi Persebaya yang bertarung di arungan laga.

Guyuran simpatik yang membanjiri Surabaya meninggi lipat gandakan semangat untuk meramu formula untuk melemahkan virus peniduran yang lebih dulu masuk ke setiap titik, garis, sudut, liku, dan sisi bidang raga Persebaya. Berhasil, antivirus itu ditemukan, dan antibodi baru juga berproses di-install-kan. Persebaya perlahan bangkit. Kontradiktif dengan apa yang mereka gencarkan, Persebaya justru serempak tumbuh subur di desa-desa, di gang-gang kampung, sudut-sudut perkotaan, di liak-liuk tinggi rendahnya dedaerahan dan tengah menjadi Persebaya yang hadir setiap dataran di Indonesia tercinta.

BACA:  Cinta Abadi Itu Bernama Persebaya

Ruang dan waktu

Siapa yang bisa menyekat bahwa Persebaya harus hanya rakyat Surabaya yang memiliki rasa cinta? Siapa yang bisa membatasi bahwa Persebaya hanya hidup di 2×45 menit plus tambahan waktu? Siapa? Siapa? Dan siapa yang lainnya?

Tidak ada. Tidak ada yang menyekat, membatasi, dan sampai-sampai mengharamkan siapa pun untuk mem-Persebayakan dirinya dalam lingkup sederhana. Terbentang di timur barat selatan utara cinta-cinta yang tumbuh subur di belantika tanah air. Mereka yang memutuskan menjadikan bagian dari Persebaya menjadi dari bagian hidupnya adalah sesuatu yang bukan lagi tekad, tapi nekat, dengan segala resiko konsekuensinya.

… Tak pernah kuragu dan selalu kuingat kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna, tumbuhkan rasa yang sesakkan dada
Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu …

Jika mengutip sedikit karya musik nya grup band Letto dengan Ruang Rindu-nya, tersua semacam variabel ruang yang waktu “sekarang” di dalam sebuah guliran lingkaran dengan rindunya yang akan selalu setia mengiringi ruang-ruang yang selama itu saling menyatu. Di sisi sudut pandang akademisnya Mbah Einstein, ruang dan waktu adalah dimensi kontinum yang eksistensinya adalah relatif saling terkait.

Mengolaborasikan bahwasanya Persebaya adalah ruang dan waktu nan sebenarnya belum menjadi sesuatu yang bisa dikatakan bernilai mutlak. Persebaya adalah satu perwujudan kecil tentang itu semua, yang cikal bakal nya menjadi sebuah keutuhan dan integritas.

Menganalogikanya sesederhana mungkin, bukanlah selusin sendok garpu, meja, ranjang, kursi, almari, sabun, gayung, dan se rekannannya itu, tetapi Persebaya adalah “Payung Teduh” dengan interior eksteriornya yang diiringi oleh pagi, sore, siang, malam, panas, hujan dan bahkan hembusan semilir angin yang mengarung dan mengaliri dimensi-dimensi. Engkau tak mampu menilai Persebaya dengan berlaku sebagai arsitek yang memperhitungkan setiap sendi-sendi yang tampak. Persebaya adalah 4 dimensi yang belum kau sadari, pelajari, dalami, resapi dan kau hayati.

Hampir 9 dekade engkau menemani kami di lintas generasi, mampu menyatukan tangis dan bangga dalam satu saat yang sama. Terima kasih telah berkenan menjadikan bagianmu menjadi bagian perjalanan hidup kami yang selalu berusaha setulus dan seikhlas-ikhlasnya mencintaimu, merawatmu, menjagamu, hingga satu per satu dari kami pada akhirnya akan selesai dan menutup mata untuk yang selama-lamanya.

Mohon maaf jika penulis kurang lebih dalam menggali lebih dalam lagi, meski juga berharap akan ada yang menggali jauh lebih dalam lagi tentang kebanggaan kita. Mungkin semacam ini yang baru mampu ku persembahkan untukmu Persebaya.

Salam hangat, salam kenal dan salam persaudaraan dariku, Rifi Hadju, seorang pemuda bujangan yang terkadang melingkar di forum maiyahan dan bersamaan kini juga belajar berkonsisten bersama saudara-saudara yang terhimpun di keluarga besar Gate 17 Persebaya.

Salam satu nyali, Wani!

*) Penulis bisa ditemui di @rifi.hadju atau @rifihadju_