Persebaya Sebagai Ikon Surabaya dan Wisata Olah Raga, Pemkot Wani?

Foto: Aldoholiday.com

Manchester, sila asosiasikan kata itu dengan apapun yang muncul di benak anda. Saya yakin yang pertama kali muncul adalah Manchester United, kemudian (mungkin) Oasis. Liverpool pun demikian. Kita akan mengasosiasikan kata itu dengan Liverpool FC dan tentunya dengan band yang juga tidak kalah legendaris, The Beatles. Tentunya tidak menafikan keberadaan Manchester City, Everton, Simply Red, dll, tapi tanyakanlah pada orang awam di seluruh dunia maka nama-nama yang saya sebutkan sebelumnyalah yang akan muncul terlebih dahulu.

Dalam khasanah keilmuan branding, mengasosiasikan sebuah kata dengan brand adalah sebuah hal yang jamak dilakukan dalam proses membentuk karakter dari brand tersebut serta menentukan strategi promosionalnya. Itulah kenapa kita akan melihat iklan-iklan keren dari Apple karena mereka identik dengan kreatifitas. Atau kita akan melihat bagaimana Coca-Cola selalu menggunakan nada-nada gembira dalam kegiatan promosionalnya karena mereka memang mengasosiasikan diri dengan kebahagiaan.

Kalau saya meminta orang awam yang berasal dari luar Surabaya untuk menuliskan 10 kata entah itu nama, merek, atau apapun yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan Surabaya, saya percaya kata Persebaya dan Bonek akan masuk dalam daftar tersebut. Selain tentunya Bu Risma, Sego Bebek, Jembatan Suramadu, Panas, Dolly, dan Tunjungan Plaza. Surabaya Snowcake? Patata? Ah itu hanya akan diucapkan generasi milenial dan atau mereka yang kebanyakan mem-follow akun sosial media gosip selebritis.

Disadari atau tidak, keberadaan Persebaya sudah mengakar di Surabaya dan Indonesia. Orang tidak bisa menutup mata akan keberadaan tim yang identik dengan warna hijau dan militansi suporternya ini. Jika menyimak pemberitaan terakhir mengenai keinginan manajemen Persebaya untuk kembali ke G10N, maka ada potensi sebesar minimal 20.000 orang yang bisa menghasilkan dampak ekonomi bagi Kota Surabaya. Hitungan sederhananya adalah saat menonton pertandingan home Persebaya maka seseorang akan mengeluarkan uang rata-rata Rp 50.000,- untuk membeli tiket, akomodasi, dan konsumsi. Secara perhitungan kotor ada perputaran uang sebesar Rp 1.000.000.000 (1 miliar rupiah) di Kota Surabaya saat pertandingan berlangsung. Silahkan hitung berapa perputaran uang dari Surabaya North Quay atau dari Urban Culture Festival sebagai perbandingan.

Sekedar informasi, jumlah penonton Persebaya saat pertandingan Homecoming Game melawan PSIS Semarang diperkirakan mencapai 50.000 orang sesuai jumlah tiket yang terjual(1), dan itu jelas lebih banyak dari kunjungan ke Kebun Binatang Surabaya saat peak season yang hanya mencapai 28.000-an pengunjung(2).

Potensi Surabaya Sebagai Kota Wisata Olahraga

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sekaligus akses masuk ke wilayah Indonesia Timur, Surabaya tidak memiliki sebuah konsep pariwisata andalan yang bisa menjadi salah satu sektor pendukung perekonomian. Kota ini memiliki kawasan kota tua yang eksotik dengan cerita sejarahnya yang luar biasa tapi itu tidak dijual sedemikian rupa sehingga mampu menarik banyak pengunjung bahkan dari warga kota sendiri. Mari bertanya pada pemilik atau penjaga gedung-gedung tua yang terbengkalai di sana bagaimana mereka berjuang untuk mengurus aset tersebut. Kampung-kampung yang demikian cantik pun tak ubahnya pemukiman biasa yang tak dioptimalkan potensinya. Keberadaan mall-mall dan tempat wisata modern pun bukanlah sebuah sektor wisata yang bisa diandalkan karena lebih menonjolkan kegiatan perniagaannya.

Entah apakah Pemkot lupa, abai atau pura-pura tidak tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki “modal” dengan potensi dan prestasi luar biasa. Persebaya Surabaya, CLS Knight, Surabaya Samator, DBL, begitu semaraknya suasana olah raga di kota ini tapi entah kenapa tidak pernah satu kalipun terlontar tentang promosi “Pariwisata Olahraga/Sports Toursim” meski hanya sekedar wacana. Pemkot malah berpromosi tentang wisata kesehatan dengan tajuk Surabaya Health Season (saya mohon maaf apabila ada pihak Dinkes yang tersinggung), sebuah hal yang menurut saya aneh. Promosi masif tentang diskon biaya berobat di rumah sakit(4), atau tentang fasilitas kesehatan lainnya. Saya pribadi kalau bisa lebih baik gak masuk rumah sakit deh, dan lagipula kalau berpromosi tentang kesehatan bukankah lebih tepat kalau menceritakan tentang bagaimana usaha Pemkot mendorong pola hidup sehat warganya? Misal dengan penjaminan mutu makanan milik pedagang kaki lima, mendorong warga untuk berpartisipasi mengurangi polusi dengan berganti dari kendaraan bermotor ke sepeda. Ah iya lupa, lajur sepeda di kota ini masih seadanya, yang penting Undang-Undang dipatuhi.

BACA:  Kosong-kosong Yo Rek

Yang dimaksud dengan Pariwisata Olahraga/Sports Tourism sendiri adalah kegiatan pariwisata yang di dalamnya terdapat keterlibatan wisatawan sebagai penonton atau partisipan kegiatan olahraga dan berbagai hal yang terkait dengannya. Pada 2011 di Amerika Serikat, wisatawan di sektor ini mengeluarkan uang sebesar US$ 7,68 Miliar(3). Di negeri Paman Sam kita tahu bersama bahwa olahraga yang diandalkan adalah Basket, Baseball dan American Football. Sepak bola sendiri masih menjadi olah raga nomer sekian di sana meskipun peminatnya selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Potensi mendorong olah raga sebagai sektor pariwisata tentu akan lebih dapat menghadirkan dampak bagi kehidupan sosial dan ekonomi kota Surabaya. Kehadiran Persebaya tentu mendorong bergulirnya kompetisi internal, keberadaan DBL mendorong iklim kompetisi basket di kota ini, bahkan saya pernah baca bahwa keberadaan liga basket ini mampu membuat seseorang hidup layak di kota Surabaya hanya dengan menjadi wasit pertandingan basket karena memang jumlahnya cukup banyak (di luar liga resmi). CLS Knight pun punya daya tarik tersendiri, begitupula dengan tim voli sarat prestasi Surabaya Samator. Bahkan dulu orang akan membicarakan Lapangan Tenis legendaris Pores yang ada di Embong Sawo sebagai kawah candradimuka petenis handal nasional seperti Yayuk Basuki.

Saat kita berbicara tentang pariwisata tentunya banyak hal terkait di dalamnya, industri perhotelan, transportasi, kuliner misalnya. Semua akan mendapatkan dampak baik apabila sektor pariwisata diurus dengan sangat baik. Jika DBL Arena saja bisa penuh karena kedatangan bintang NBA, apa kabar GBT jika kedatangan bintang Liga Inggris? Stadion yang merupakan aset pemkot itu pun bisa dihidupkan dengan berbagai pertandingan olahraga dan bukan hanya jadi tempat berlangsungnya konser musik semata. Selama ini bukankah pintu gerbang itu lebih banyak tertutup? Tribun itu lebih sering kosong? Padahal membangunnya tentu menggunakan dana yang sebisa mungkin pada prosesnya bisa kembali? Kalau jarang dipakai bagaimana mau mendapat penghasilan?

Persebaya Sebagai Ikon Kota

Dibanding ketiga nama lainnya, Persebaya tentunya memiliki posisi tersendiri dalam kaitannya dengan brand Kota Surabaya. Sejarahnya yang panjang dan tercatat jelas merupakan hal yang tak bisa disangkal. Fanatisme suporternya pun tak lagi perlu dipertanyakan, bahkan saat sang kebanggaan tertidur pun dia masih mampu menghidupi banyak anak manusia lewat penjualan non official merchandise-nya.

Okelah jika Pemkot tidak mau ikut campur tentang masalah Persebaya, bahkan mungkin tidak memberikan izin untuk memakai Gelora 10 November. Bahkan juga tidak mengapa jika Pemkot tidak melihat Persebaya sebagai investor. Tapi seandainya ada sedikit keluasan pandang maka cobalah melihat dari sudut yang berbeda, pandanglah keberadaan Persebaya sebagai modal berharga pendorong pariwisata kota Surabaya.

Mungkin akan berat jika Pemkot memberikan potongan harga sewa stadion, atau menyediakan transportasi untuk suporter. Tapi bantulah Persebaya berpromosi, ajaklah manajemen berembuk bagaimana untuk menjadikan tim kesayangan Bonek ini sebagai ikon kota, lebih detailnya sebagai ikon pariwisata olah raga kota (jika ini jadi diterapkan nantinya). Lakukan riset mendalam bagaimana dampak sosial ekonomi yang dihasilkan oleh Persebaya. Bagaimana besarnya perputaran uang saat ada laga kandang, bagaimana tumbuhnya peluang kerja, juga perkembangan sektor UMKM yang timbul karenanya. Jangan hanya melihat luka masa lalu di mana banyak kejadian tidak menyenangkan yang terjadi tapi tataplah masa depan yang cerah apabila semua bisa terencana dengan baik.

Surabaya dan Persebaya akan menjadi kombinasi yang luar biasa untuk mendorong tumbuh kembangnya Sports Tourism di Indonesia. Modal yang ada jelas akan lebih kuat dari kota lain, Jakarta akan selalu diasosiaikan dengan kemacetan, Monas dan Si Doel, Malang lebih dikenal dengan Bromo dan Semerunya, mungkin yang paling dekat untuk mengembangkan Sports Tourism adalah Bandung dengan Persib-nya yang sukses menggaet Michael Essien. Persebaya sebagai ikon Sports Tourism tentunya tidak hanya akan berkutat dengan kegiatan sepak bola tapi juga menjadi jati diri dan kebanggaan sesungguhnya dari Surabaya. Pertanyaannya tinggal Pemkot Wani opo gak?

Sumber data:

(1) http://www.bola.com/indonesia/read/2889050/50-ribu-tiket-persebaya-vs-psis-ludes-terjual
 

(2) http://jatim.tribunnews.com/2017/04/24/liburan-akhir-pekan-jumlah-pengunjung-kbs-meningkat-pesat




(3) https://www.sportscommissions.org/Portals/sportscommissions/Documents/About/NASC%20Sports%20Travel%20Industry%20Whitepaper.pdf




(4) https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3488029/risma-ingin-jadikan-surabaya-sebagai- destinasi-wisata-kesehatan

*) Opini ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab emosijiwaku.com.