Masihkah Anda Bangga Berteriak Rasis?

Foto: Joko Kristiono/EJ

Apa reaksi anda ketika ada yang meneriakkan kata-kata pembunuhan di depan umum? Anda pasti menganggap orang itu mempunyai masalah mental. Apalagi jika kemudian ia mengaku bangga melakukannya.

Apa jadinya jika ada ribuan orang secara serentak meneriakkan kata-kata pembunuhan dan bangga melakukannya?

Mungkin terdengar aneh. Tapi faktanya hal semacam itu ada. Pada pertandingan Persebaya melawan Persatu di GBT, Kamis (6/7) lalu, sebagian kecil Bonek meneriakkan yel-yel pembunuhan kepada suporter rival. Memang tak lama kemudian, yel-yel itu berhenti. Karena mayoritas Bonek kemudian meneriaki “huuu…” kepada mereka.

Sontak saja, banyak pro kontra terkait masalah tersebut. Menurut manual liga, kata-kata pembunuhan digolongkan dalam kata-kata rasis yang tidak boleh dilontarkan suporter. Ada sanksi berupa denda kepada klub yang suporternya berteriak rasis.

Ada yang beralasan jika kata-kata pembunuhan tidak masuk dalam kata-kata rasis. Memang betul. Kata-kata itu lebih tepatnya diklasifikasikan sebagai kata-kata yang mengandung kekerasan dan ancaman. Namun penyelenggara tentu berhak membuat aturan. Penggunaan kata “rasis” mungkin lebih enak untuk mengkomunikasikannya kepada khalayak. Jadi hak operator untuk mengelompokkan kata-kata pembunuhan sebagai kata-kata rasis.

Terlepas dari itu, sungguh aneh jika kita punya hobi meneriakkan kata-kata pembunuhan dan menganggapnya sebagai sebuah kebanggaan. Bangga terhadap sesuatu sah-sah saja. Namun mengapa harus bangga terhadap teriakan “suporter ini dibunuh saja”? Apa tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan selain itu? Atau kita sudah tidak bisa berpikir hal-hal yang lebih kreatif dibanding meneriakkan yel-yel itu? Atau dengan meneriakkannya, kita serasa punya panggung yang dikelilingi ribuan fans yang memuja kita?

Setiap orang yang datang ke stadion untuk menonton sebuah pertandingan tentu bisa disebut suporter. Artinya mereka adalah orang-orang yang memberi dukungan kepada timnya. Tentu aneh jika bukan yel-yel dukungan yang diteriakkan tapi malah yel-yel pembunuhan kepada suporter yang bahkan tak ada dalam stadion.

Lantas, di mana peran kita sebagai suporter jika lebih memilih melontarkan yel-yel pembunuhan dibanding menyanyikan lagu-lagu untuk tim kebanggaan? Apakah para pemain akan lebih bersemangat dalam bermain saat mendengar yel-yel pembunuhan?

BACA:  Persebaya Sebagai Ikon Surabaya dan Wisata Olah Raga, Pemkot Wani?

Ada juga yang mengatakan “Bonek lek gak rasis gak sangar”. Orang yang mengatakan ini tentu tidak mengerti sejarah. Saat awal kemunculan Bonek di tahun 1988, Bonek tidak meneriakkan kata-kata rasis sebagai bentuk dukungan kepada Persebaya. Mereka tertib berangkat ke Jakarta mendukung Persebaya berlaga. Dari situlah, Bonek disegani suporter lain. Tak perlu kata-kata rasis, Bonek sudah sangar.

Maka patut dipertanyakan jika masih ada orang-orang yang mendukung kampanye semacam itu. Atau bahkan menjadikan kata-kata itu sebagai foto profil facebook. Apakah dengan memasangnya kita lantas disebut paling Bonek di antara Bonek-Bonek lain? Ingat, tak ada Bonek yang paling Bonek!

Dalam sejarahnya, Bonek mengalami transformasi dari yang awalnya baik kemudian menjadi suporter yang identik dengan hal-hal negatif. Masa-masa kelam yang bisa kita sebut sebagai jaman kegelapan sempat membuat nama Bonek bergerak ke titik terendah. Imbasnya masih kita rasakan hingga saat ini. Namun perlahan-lahan Bonek sudah mulai berubah. Muncul kesadaran agar Bonek bisa berubah lebih baik. Tak hanya dalam stadion tapi di luar stadion.

Upaya Bonek untuk berubah lebih baik tentu patut didukung. Sayangnya masih ada orang-orang yang masih dengan gaya lamanya ingin kembali ke jaman kegelapan. Orang-orang ini sibuk mengampanyekan sesuatu yang sebetulnya tak pantas dilakukan.

Kita perlu mengingat semboyan Bonek “Seduluran Saklawase”. Semboyan ini bukan hanya kata-kata pajangan di dinding kamar kita namun harus diterapkan di dunia nyata.

Mari mengingat jika persaudaraan bagi Bonek adalah hal yang utama. Menganggap saudara tentu tidak hanya kepada sesama Bonek, namun juga kepada suporter lain. Kita harus membiasakan diri respek kepada siapa pun. Karena dengan itu, respek akan datang dengan sendirinya kepada kita.

Tak perlu rasis untuk menjadi sangar. Semua juga tahu jika Bonek sudah sangar dari pertama kali muncul.

Jadi, apakah anda tetap rasis pada pertandingan-pertandingan selanjutnya atau memilih beralih meneriakkan yel-yel dukungan kepada tim kebanggaan? Saya memilih meneriakkan dukungan langsung kepada Persebaya karena itulah yang dibutuhkan tim, bukan teriakan rasis!

*) Opini ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab emosijiwaku.com.

  • Hamzah Pratama

    Merasa bangga dan gagah mengeluarkan satu kata yang diikuti banyak orang disekelilingnya, didukung oleh leader yang memancing menggunakan chant yang akhirannya sudah diketahui ditujukan untuk menghujat. Mungkin sedang cari perhatian.