Angel Alfredo Vera dan Pesan Implisit Manajemen

Alfredo Vera. Foto: Joko Kristiono/EJ

Angel Alfredo Vera diperkenalkan oleh manajemen sebagai pelatih baru Persebaya tepat di hari pertama bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah, rahmat, ampunan dan pahala bagi umat Islam.

Pilihan manajemen akhirnya jatuh ke Vera. Pelatih yang namanya terangkat di Persipura saat gelaran ISC 2016 tersebut akhirnya berlabuh ke Persebaya. Bagi sebagian pihak mungkin senang bukan main dengan keputusan manajemen memilih dia. Namun sebagian yang lain juga mengernyitkan dahi dengan langkah berani manajemen.

Vera datang ke Persebaya tentu tidak datang dengan harga murah, karena ia membawa serta titel juara ISC 2016 dalam CV nya. Meski begitu ia sejatinya memiliki track record kepelatihan yang cenderung biasa saja. Jika ditarik ke belakang, hasil kerjanya sebelum mengarsiteki Persipura memang kurang begitu menjual. Namun, pengalaman mengarungi kompetisi yang sejatinya bertajuk turnamen tanpa degradasi dengan klub-klub kasta tertinggi yang entah mengapa hampir seluruhnya serius untuk jadi juara ini, sudah cukup membuktikan kapabilitasnya.

Ramadhan, bulan kemenangan

Vera diperkenalkan ke publik oleh manajemen tepat di hari pertama bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam. Bulan ini sarat makna karena penuh berkah, rahmat, ampunan, juga pahala bagi mereka yang beragama Islam. Satu bulan lamanya kita diwajibkan berpuasa dan diberikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri ke Tuhan. Muaranya adalah perayaan Idul Fitri, hari bahagia atau hari kemenangan yang patut disambut dengan kegembiraan bagi kita semua yang menjalankannya.

Pesan itu pula mungkin yang ingin dikirimkan oleh manajemen Persebaya ke Bonek. Jeda kompetisi Liga 2 pada bulan puasa lalu adalah periode aktualisasi dan adaptasi diri antara jajaran pelatih, manajemen dan juga pemain. Mereka mendekatkan diri dengan strategi dan cara pikir Vera dan jajaran tim pelatih. Memperbaiki kekurangan-kekurangan yang selama ini terlihat memang ada mulai dari taktik, posisi antar pemain, fisik hingga mungkin komunikasi. Tujuan mereka tentunya sama, kemenangan demi kemenangan yang bisa mengantarkan mereka ke hari bahagia. Naik kelas ke Liga 1 di akhir musim ini. Tujuan besar ini tentu sejalan dengan tujuan klub membahagiakan Bonek yang tanpa lelah terus menemani perjalanan Persebaya di setiap laga.

Perkenalan Vera ke publik cenderung spesial. Tak hanya dilakukan pada awal Ramadhan, Ia juga diperkenalkan di Wisma Persebaya dan diajak pula melihat Lapangan Karanggayam. Saksi bisu sejarah Persebaya. Kondisi seperti ini bahkan tak terjadi kala Persebaya menunjuk pelatih sebelumnya, Iwan Setiawan sebagai arsitek tim. Bisa jadi sejak awal manajemen sudah berharap besar dengan kehadiran Vera. Mengharapkannya mengerti pesan implisit yang ingin disampaikan oleh manajemen kepada dirinya.

Sentuhan Awal Kemenangan

Laga melawan Persatu Tuban, Kamis malam lalu adalah debut Vera dan jajaran tim pelatih baru Persebaya. Laga perdana yang kebetulan dilakoni di kandang tersebut, membuktikan kapabilitas Vera dan bagaimana ia mampu belajar dari pengalaman menukangi Persipura saat ISC lalu.

Penulis cukup kagum dengan pendekatan Vera ke pemain, dan bagaimana komunikasi yang dibangun olehnya ke pemain di sela-sela pertandingan (yang tertangkap oleh kamera). Tak dipungkiri karena penulis adalah salah satu orang yang berharap Persebaya tak memilih Vera, karena rekam jejak kepelatihannya dengan Gresik United dan Persela Lamongan yang biasa saja. Ketika tahun lalu memegang Persipura pun, penulis masih berpikiran bahwa ia lebih banyak tertolong oleh dua hal. Pertama, pondasi sistem permainan Persipura yang telah lama dibuat oleh Jacksen F. Tiago, serta kualitas para pemain Papua yang memang diatas rata-rata. Namun pikiran itu buyar saat melihat bagaimana Vera di pinggir lapangan dan cara bermain Persebaya saat melawan Persatu.

Persatu bukan klub sembarangan. Saat melawan Persebaya, posisi mereka ada di pucuk klasemen grup. Cara mereka bermain pun, sangat rapih dan terorganisir. Bahkan lebih baik dari beberapa klub Liga 1. Mereka tahu kapan dan kemana bola harus dialirkan dan dengan cara apa bola tersebut diberikan ke rekannya. Terlihat jelas bahwa klub ini diisi oleh pemain-pemain yang punya tingkat kecerdasan tinggi dan pelatih yang mumpuni.

Pendekatan permainan Vera juga amat baik. Sadar mereka bermain di kandang, Persebaya langsung tancap gas untuk mencetak gol cepat. Cara bermain Persebaya juga terlihat lebih baik dan rapih dari era caretaker Ahmad Rosyidin. Boleh dibilang, Vera bisa merapihkan pekerjaan Ahmad Rosyidin sebelumnya. Tak hanya itu, tak lupa Vera juga memberikan tambahan-tambahan sentuhannya.

BACA:  Alfredo Vera Ingin Persebaya Main Lebih Menyerang

Melihat Persebaya bertanding Kamis lalu, persis seperti melihat duplikasi cara bermain Persipura saat ISC lalu. Keberadaan Boaz yang lebih sering digunakan sebagai decoy atau saya menyebutnya sebagai penipu pembuka ruang diperlihatkan dengan matang oleh Oktafianus Fernando kemarin. Menariknya decoy run tersebut dilakukan terus menerus justru di posisi dimana Persatu kuat, bek kanan mereka.

Persatu dipaksa bekerja keras di posisi terkuat mereka agar 3 posisi pemain Persebaya lainnya lowong di beberapa sisi lainnya untuk membuka kesempatan mencetak gol. Ada 3 pemain menurut pandangan penulis yang bergerak mengikuti decoy yang terus dilakukan oleh Oktafianus, yaitu Rendi Irwan sebagai perusak dan pengumpan, Rishadi Fauzi sebagai goal getter, dan menyiapkan Kurniawan Karman di sisi kanan sebagai pencetak gol atau pengumpan terakhir ke Rishadi Fauzi. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan Vera di Persipura lalu meski tak terlalu sempurna karena tak memiliki pemain semodel Rishadi Fauzi kala itu.

Rishadi Fauzi jadi pembeda. Kepala pemain ini seperti radar yang tahu kemana arah bola. Dulu, Persipura tak punya pemain semodel dia pada era Vera. Jadi ini merupakan kelebihan yang harus dimanfaatkan. Beruntungnya, Persebaya juga memiliki 2 pemain dengan skill ketepatan umpan dan crossing diatas rata-rata lewat Misba dan Rendi Irwan. Berulang kali umpan keduanya menyasar kepala sang striker dan cukup sukses dimanfaatkan.

Tidak berhenti disana, Persebaya juga mampu memperlihatkan aliran bola kaki ke kaki dari sisi kiri ke kanan dan beberapa kali juga mampu build-up play dari belakang ke samping. Bahkan bermain bola dari kaki ke kaki di belakang pun mereka sudah sedikit percaya diri. Berulang kali pula tertangkap kamera, bagaimana Vera terus bicara ke pemain. Memanggil Oktafianus dan Rendi berulang kali setiap ada jeda. Bahkan di awal-awal pertandingan terlihat jelas bahwa ia bisa memarahi pemainnya karena salah memanfaatkan peluang. Artinya, pelatih dan pemain kini sadar betul dengan taktik dan strategi. Tanpa itu, mereka akan sulit menang. Mereka kini terlihat sudah sejalan dan sadar betul kemauan sang pelatih. Dari hal terakhir tersebut cukup menjadi bukti bahwa Vera pelatih yang bagus.

Banyak Pekerjaan Menanti

Pertandingan melawan Persatu kemarin baru satu pertandingan dari banyak pertandingan yang akan dilalui oleh Vera dan jajaran tim pelatih juga pemain. Masih banyak pekerjaan menanti. Dari pertandingan kemarin terlihat transisi dari menyerang ke bertahan yang belum terlalu baik. Meninggalkan lubang yang cukup mudah dan enak untuk dimaksimalkan oleh siapapun lawan Persebaya nantinya untuk membuka kesempatan menjadi gol. Beruntung kemarin dua skema cutback Persatu gagal menjadi gol. Tentu Persebaya tak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan untuk laga-laga ke depan.

Di sektor depan, memberi porsi latihan menembak dari dalam dan luar kotak penalti untuk Oktafianus dan pemahaman posisi ketika menyerang untuk Kurniawan Karman juga bisa jadi opsi. Karena kedua pemain ini diharapkan dapat menyumbang keran gol jika sang striker Rishadi Fauzi dimatikan oleh lawan. Pada bursa transfer tengah musim nanti, Persebaya juga perlu memperkuat kedua posisi full back mereka dengan tambahan 1-2 pemain dan 1 pemain defensive midfielder nakal dengan fisik mumpuni sekelas permainan Hargianto atau Hariono. Mungkin mencermati regulasi dan statistik pemain di Liga 1 dapat menjadi kunci kekuatan Persebaya menuju Liga 1.

Semoga pesan implisit manajemen Persebaya melalui penunjukan Vera pada awal Ramadhan lalu bisa diterjemahkan dengan baik oleh Vera dan jajaran tim pelatih dan pemain, serta Bonek. Sehingga muara Ramadhan yang berujung pada hari kebahagiaan dan kemenangan tersebut benar-benar terwujud pada akhir musim. Terus menang dan naik kelas ke Liga 1. Wani!

*) Adipurno Widi Putranto, tinggal di Surabaya 7 hari setiap bulannya. Bisa ditemui di akun @analisiscetek atau analisiscetek@gmail.com