Potensi Match Fixing di Balik Laga Tanpa Penonton

Foto: Firdaus Ade for EJ.

Football Without Fans is Nothing

Mungkin ungkapan kata itu lebih tepat ditujukan untuk Persebaya. Di mana saat dua laga away menghadapi PSBI Blitar dan Persinga Ngawi harus bergulir tanpa penonton.

Sangat disayangankan dua laga away ini harus tanpa penonton. Dengan alasan kapasitas stadion tidak mencukupi dan keamanan tidak siap. Padahal jika match kali ini dipenuhi oleh suporter, pemasukan pada panpel selaku tuan rumah juga akan besar.

Di sini kedua tim juga dirugikan dalam hal finansial. Selain itu, kondisi performa tim yang sudah dipersiapkan dapat berubah sewaktu-waktu. Mental para pemain perlu diperhatikan juga dalam hal ini karena melihat kondisi match yang dilakoni Persebaya pada bulan ini dikategorikan sangat padat.

Sebelumnya Persebaya pun tidak terkena sanksi oleh PSSI dengan laga tanpa penonton. PT LIB juga berperan penting mengapa dua laga away harus tanpa penonton. Ataukah mungkin di dalamnya ada match fixing karena Bonek saat ini merupakan kelompok suporter yang sangat kritis baik kepada manajemen dan federasi? Selain itu bukan rahasia lagi bahwasanya sepak bola Indonesia pada saat ini belum benar-benar bersih.

Sepak bola tidak pernah lepas dari suporter yang memberi dukungan kepada tim yang dibelanya. Sebuah klub sepak bola tak berarti apa-apa tanpa suporter yang memberi semangat ketika mereka bertanding. Kehadiran suporter di lapangan sangat penting bagi sebuah tim, di mana para pemain seperti mendapatkan energi dan tenaga tambahan untuk bertanding.

Para suporter akan terus mendukung tim kesayangannya, ketika tim itu dalam keadaan berjaya, seri, atau bahkan terpuruk sekalipun. Jadi, bisa dibayangkan, apa jadinya sebuah tim sepakbola tanpa suporter? Ibaratnya sayur tanpa garam, hambar tak terasa. Lalu, apakah kita masih ingin diam ketika ada sesuatu yang tidak benar terjadi?

Singkat kata. Selalu kawal kebanggaan kalian di mana pun mereka berada. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.

Salam Satu Nyali, Wani!