Lima Menit di Martapura Yang Tak Terlupakan

Kompetisi Liga 2 yang dioperatori oleh PT Liga Indonesia Baru saat ini tengah memasuki pekan ke-8 putaran kedua. Regulasi di Liga 2 yang membatasai jumlah pemain di usia tertentu menjadikan persaingan mendapatkan kemenangan di setiap laga menjadi ketat dan skill yang merata.

Persebaya adalah satu diantara tujuh klub yang memperebutkan dua posisi teratas untuk mendapatkan tiket sebagai syarat menuju 16 besar. Sementara, Persebaya kini sedang berada di urutan 2 klasemen dari 8 pertandingan dengan mengemas 15 poin dari hasil 4 kali menang, 3 kali seri dan sekali “dipaksa” kalah saat away berhadapan dengan Martapura FC. Persebaya kini hanya terpaut satu angka dari Martapura yang sementara berada di puncak klasemen.

Pola permainan Persebaya yang mulai terlihat jelas. Irama dan tempo permainan yang mulai tertata, juga fighting spirit, ngeyel, wani, dan pantang menyerah mulai keluar dari para pemain. Ini menjadi senjata ampuh untuk kembali mendulang 3 poin di pertandingan selanjutnya demi merebut kembali puncak klasemen. Tiga poin berharga saat mengalahkan Madiun Putra di kandangnya sendiri menjadi modal manis untuk mensukseskan misi revans di matchday ke 9 menghadapi Martapura pada Kamis, 27 Juli 2017 di Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Namun ada yang tak mungkin terlupakan ketika mendengar nama Martapura. Ya, itu adalah saat dimana Persebaya “dipaksa” kalah 2-1 di kandang Martapura yang secara garis besar disebabkan oleh faktor non teknis yang mempengaruhi hasil akhir. Kepemimpinan pengadil lapangan yang sama sekali tidak menunjukkan peran fungsinya, permainan yang menjurus kasar, gol kedua Martapura yang diperdebatkan apakah melewati garis atau tidak, hingga official Martapura yang tertangkap kamera salah satu penonton terlihat tengah mempengaruhi wasit cadangan dari pinggir lapangan untuk memberikan tambahan waktu lebih banyak menjadi lima menit.

BACA:  Kalah dari PSIM, Pelatih Martapura Alihkan Fokus pada Persebaya

Tindakan-tindakan tidak fair play yang dilakukan Martapura akan terus diingat oleh Persebaya dan Bonek. Punggawa Persebaya tidak akan begitu saja melupakan kejadian menyakitkan itu. Mereka akan menunjukkan kepada Martapura bagaimana sepakbola yang sebenarnya. Juga dengan Bonek, suporter fanatik dan kritis ini tentu tak akan tinggal diam untuk membiarkan begitu saja Martapura bermain nyaman di Gelora Bung Tomo.

Menjadikan Surabaya beratmosfir “neraka” bagi Martapura adalah keharusan untuk menebus apa yang mereka lakukan di Martapura. Membuat malu Martapura di hadapan puluhan ribu Bonek yang bakal me-neraka-kan stadion adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh punggawa Persebaya demi menjaga harga diri Persebaya, menunjukkan kultur Arek Suroboyo sebenarnya dan mengajarkan kepada Martapura tentang cara yang fair untuk meraih kemenangan. Beri ucapan selamat datang kepada Martapura. Selamat datang di neraka!

Ini Surabaya Bung!