Perlunya Respek di Sepak Bola

Dalam sebuah laga sepak bola, klub yang kita dukung tentu membutuhkan klub lawan. Dua klub yang terlibat membuat sebuah laga bisa digelar. Bagaimanapun kita membenci klub lawan, mereka membuat sebuah pertandingan menjadi sah.

Berangkat dari sini, respek menjadi sangat penting. Sikap menghargai lawan baik di dalam maupun di luar lapangan wajib dipunyai oleh pemain, pelatih, ofisial, maupun suporter. Respek bukan berarti merendah di depan klub lawan namun menyadari jika klub kita dan klub lawan sama-sama klub sepak bola yang bertanding dalam koridor sportifitas.

Jika masing-masing pihak menganggap sportifitas di atas segalanya maka segala tindakan yang kita lakukan tidak akan mencederai sportifitas itu sendiri. Seorang pemain tidak mungkin dengan sengaja mencederai lawan. Karena hal itu sama saja membunuh karir seseorang. Apa arti kemenangan jika itu dicapai dengan cara menghilangkan karir pemain lawan?

Seorang pemain mungkin marah saat melihat pemain lawan berbuat kasar. Namun jika ia membalas kekasaran lawan dengan mengajaknya bertarung, ini sudah di luar koridor sportifitas. Seharusnya setiap pemain memasrahkan semuanya kepada wasit sebagai pengadil di lapangan. Pemain dibayar untuk bermain sepak bola bukan pencak silat.

FIFA dan UEFA selalu mengampanyekan “respect” dalam setiap pertandingan. Karenanya dua badan sepak bola dunia ini selalu memilih wasit-wasit yang adil. Mereka juga menerapkan sanksi bagi siapapun yang mencederai sportifitas seperti denda dan larangan bertanding. Ekosistem ini membuat kampanye “respect” berhasil di setiap pertandingan di bawah otoritas dua badan itu. Kita sering melihat bagaimana sebuah kompetisi atau turnamen berjalan baik tanpa insiden yang mencederai sportifitas seperti perkelahian antar pemain atau antar suporter, pemukulan wasit, pelemparan botol kepada tim tamu, dll. Karena masing-masing pihak mempunyai rasa respek.

Berbanding terbalik dengan di Indonesia, kata respek masih terlalu asing di telinga para pemain dan suporternya. Segala cara dilakukan untuk mencapai kemenangan. Biarpun cara-cara yang dilakukan jauh dari sportifitas, mereka tidak peduli. Yang penting menang.

Begitu juga dengan suporter. Tak ada ceritanya dua kelompok suporter yang saling membenci duduk bersama dalam satu stadion. Padahal membiarkan suporter mendukung klubnya merupakan hak masing-masing meski bukan di kandangnya. Dua kelompok suporter rival tidak boleh hadir dalam satu stadion karena potensi kekerasan akan muncul jika disatukan. Mengapa suporter kita seolah-olah menjadi binatang buas yang tidak boleh dilepas dalam satu kandang? Bukankah ini menyedihkan?

BACA:  Tewasnya Suporter dan Aksi Provokatif Martapura, Renungan Sepak Bola Indonesia

Kebencian kepada suporter lawan biasanya berbanding lurus dengan kebencian kepada klub lawan. Klub lawan dipandang sebagai musuh bersama yang harus dihancurkan. Pernah ada kejadian dimana pihak kepolisian  harus memasukkan para pemain klub lawan ke dalam mobil panser agar tidak diamuk suporter tuan rumah dalam perjalanannya menuju stadion. Sungguh miris jika sepak bola menjadi ajang pertempuran dan stadion menjadi medan perangnya.

Maka insiden kecil yang membuat tensi di lapangan meningkat langsung membuat suporter tuan rumah bereaksi secara negatif. Mereka mudah saja melempari para pemain lawan dengan benda-benda yang ada di dekatnya. Sebuah provokasi bisa membuat suporter tuan rumah bertindak brutal. Dan seperti lagu lama, suporter tuan rumah hanya sibuk mencari pembenar atas tindakan brutalnya. Sebuah tindakan memalukan yang anehnya tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Sepak bola bukan soal hidup mati namun soal bagaimana kita menegakkan sportifitas. Jika hadir ke stadion hanya berniat melempari pemain dan suporter lawan, sebaiknya tidak usah datang menonton pertandingan. Karena inilah yang biasa dilakukan kaum barbar. Kaum yang hanya bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Lupa jika ia punya kemampuan berpikir sebagai manusia. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana melukai lawan. Karena hanya dengan itulah egonya terpuaskan.

Orang-orang seperti ini bukanlah suporter namun orang-orang yang membajak nama suporter dan menggunakannya untuk menyalurkan hobi brutalnya. Mereka seharusnya malu mengaku sebagai suporter. Mereka adalah orang-orang yang tak mengerti arti kata respek.

Tak ada alasan untuk membenarkan setiap kekerasan. Karena kekerasan tetap salah apapun alasannya. Bermain dan menontonlah dengan rasa respek. Karena itu yang dibutuhkan agar sepak bola kita menjadi menyenangkan lagi. Bukan olah raga mencari mati. (*)