Ketika Sebelas Conor McGregor Bertamu Ke GBT

Foto: Joko Kristiono/EJ

Jauh hari sebelum pertandingan Persebaya melawan Martapura FC yang berlangsung Kamis (27/7) lalu memang telah panas. Psywar-psywar sudah dilakukan beberpa Bonek di dunia maya. Tak hanya itu, semangat pembalasan terhadap kekalahan ‘tidak wajar’ skuad Bajul Ijo saat bertandang ke kandang Maratapura FC di putaran pertama lalu juga didengungkan akun resmi media sosial Persebaya Surabaya. Tak heran, 50 ribu tiket pertandingan tersebut pun terjual habis. Seperti klaim dari Chairul Basalamah, manajer Persebaya.

Panasnya pra-laga tersebut pun tidak apa-apanya. Saat pertandingan antara dua tim teratas Grup 5 Liga 2 itu berlangsung, kedua tim sama-sama bermain ngotot guna meraih hasil terbaik. Menit ke menit, tensi pertandingan makin meninggi selayaknya menonton film semi.

Martapura FC bukanlah tim yang jelek. Organisasi permainan mereka rapi nan solid. Terbukti serangan-serangan Persebaya selalu berhasil dimentahkan oleh pemain Martapura FC. Sejak pertengahan babak pertama, saya pun yakin bahwa pertandingan ini tak akan mudah bagi Persebaya. Cause it’s gonna be a very long long night for Alfredo Vera’s army

Belum lagi permainan kasar yang diperagakan tim tamu. Tekel-tekel horor, hingga professional foul acapkali dilakukan oleh para pemain Martapura FC sejak pertandingan dimulai. Wasit yang memimpin pertandingan pun seakan lupa jika memiliki kartu di sakunya. Saya mencatat, hingga lima kali pelanggaran keras pemain Martapura yang pantas berbuah kartu, hanya diberi peringatan oleh wasit.

Wasit baru ingat bahwa saku dalam baju dan celananya menyimpan kartu saat pemain Martapura FC, Erwin Gutawa, menanduk Abdul Aziz di menit 37. Kartu merah langsung merupakan jawaban paling rasional atas aksi tersebut. Dan wasit pun berpemikiran sama.

BACA:  Panpel Martapura FC Sediakan Tribun Selatan untuk Bonek

Kehilangan satu pemainnya tak membuat Martapura FC bermain lebih tenang. Permainan agresif diselingi aksi kasar yang jauh dari kata sportifitas terus diperagakan oleh mereka. Kaki-kaki pemain Persebaya ditebas habis. Gelora Bung Tomo yang saat itu sedang menjadi tempat pertandingan sepakbola, seolah-olah berganti menjadi arena Ultimate Fighting Championship (UFC).

Permainan kasar yang terus diperagakan oleh Martapura FC sendiri kemudian juga berbuah kartu merah kembali. Adalah Marshel Huwae yang kini menjadi aktornya. Sikutannya terhadap Abu Rizal Maulana pun berbuah kartu kuning kedua yang membuatnya harus meninggalkan lapangan pada menit 74.

Kehilangan dua pemain, lagi-lagi tak mengendurkan permainan kasar Martapura FC. Entahlah apa yang sebenarnya yang mereka pikirkan saat bermain di GBT. Sekali lagi, saya melihat mereka adalah tim yang cukup bagus. Secara teknis tentunya. Namun ulah mereka sendirilah yang memilih bermain kasar hingga berujung pada dikeluarkannya dua pemain mereka dan membuat mereka pulang dengan tangan hampa dari Surabaya.

Jika Iwan Setiawan, mantan pelatih Persebaya, pernah berkata bahwa Madiun Putra adalah tim kampung yang bermain grusa-grusu tanpa organisasi, atau Chairul Basalamah, yang mengatakan bahwa Persinga Ngawi adalah tim pencak silat karena permainan kasarnya, maka entahlah tim Martapura FC ini sendiri pantas dijuluki apa. Namun saya yakin, jika berkesempatan menonton, Conor McGregor akan sangat bangga terhadap sebelas pemain Martapura FC yang berada di lapangan ini.

Itupun kalau channel TV One di televisi McGregor tidak dipenuhi ‘semut’…