Martapura, Anda Salah Memilih Lawan

Martapura FC. Foto: Joko Kristiono/EJ

Seperti seorang wanita yang sedang (maaf) datang bulan, yang bawaannya sering uring-uringan gak jelas, mungkin itu yang terjadi pada Martapura FC.

Sejak awal pertandingan, tim ini sudah menyajikan permainan yang kurang sportif bahkan cenderung kasar dan berujung pada satu kartu merah pada babak pertama. Di babak kedua bukannya introspeksi malah lebih sering memperagakan jurus-jurus karate (padahal seharusnya mereka bermain sepak bola, kan?).

Gol-gol dari Irfan Jaya dan Oktafianus Fernando pada menit ke-67 dan 85 semakin menambah panas tensi kepala para pemain Martapura FC yang sejak menit ke-72 sudah bermain dengan 9 orang. Seakan-akan bingung harus berbuat apa untuk mengejar ketertinggalan atau mungkin takut kebobolan lagi, akhirnya memilih cara dengan mencederai pemain Persebaya seperti Abu Rizal dan Rishadi Fauzi. Entah apa maksud sebenarnya tapi yang jelas dari awal partandingan yang saya lihat niat pemain Martapura FC ini bukan bermain sepakbola.

Pertandingan ini menurut saya seharusnya bisa jadi bahan evaluasi buat PSSI, kalau para pemain sebuah klub mentalnya belum siap main di liga, ya jangan diikutkan liga (ikut Tarkam atau Gala Desa lebih pas buat para pemain Martapura FC). Atau kalau minat para pemain sebuah klub sepakbola lebih ke karate ya jangan boleh direkrut klub sepakbola.

Hampir kelewatan, kiper Martapura FC Ali Budi Raharjo sebenarnya skilnya bolehlah, cuma kelakuan kampungan janganlah dibawa waktu bertanding. Sorry bro provokasimu gak mempan gawe Bonek. Mungkin ia ingin nunut tenar dengan mendompleng nama besar Persebaya dan Bonek. Caranya seperti apa? Ya seperti itu. Coba ia sudah lahir dan bermain lawan Persebaya di Stadion G10N sekitar 10-15 tahun lalu dengan kelakuan seperti itu (gak iso moleh, keturutan).

BACA:  Prosesi Mengheningkan Cipta Persebaya untuk Ricko Andrean

Benar yang dikatakan @officialpersebaya kemarin, You mess with the wrong city. Bonek sudah berubah, bukan untuk jadi yang terbaik tapi untuk selalu menjadi lebih baik. Terlepas dari lemparan botol dari tribun suporter, coba bandingkan dengan Bonek yang dulu, dengan provokasi seperti itu kita pasti tahu seperti apa jadinya. Salut buat kalian Bonek, karena sudah bisa menjaga nama baik Bonek, Persebaya dan menjaga rumah kalian Stadion Gelora Bung Tomo. (*)