Tak Ada Salahnya Belajar Dari Jogja

Suporter PSIM. Foto: EJ

Pada bulan Mei 2017 yang lalu, saya away ke Stadion Sultan Agung Bantul untuk menyaksikan Persebaya melawan tuan rumah PSIM Yogyakarta. Di tengah-tengah isu berseliweran tentang penolakan warga sekitar Bantul pada Bonek, toh kenyataannya Bonek tetap membanjiri stadion sekaligus penerimaan yang hangat dari warga Bantul dan Jogja pada kedatangan Bonek. Pertandingan yang berakhir seri itu pun menyisakan cerita yang menarik untuk saya bagikan.

Saya berada di tribun VIP yang 99,9 persen adalah suporter setia tuan rumah PSIM. Syal hijau yang saya bawa dari Surabaya itu setia melingkar di leher saya dengan nyaman meski saat itu saya mungkin satu-satunya suporter Persebaya di tribun itu. Memasuki babak kedua, mulai ada Bonek yang datang di tribun seperti yang saya tempati. Praktis teriakan dukungan setiap pemain Persebaya dapat bola, hanya kami yang bersuara dan mungkin suara kami tenggelam pada nada kekecewaan saat pemain PSIM kehilangan bola maupun nada dukungan saat mereka mendapat bola. Ya, di tribun yang penuh dengan caci maki, dukungan, dan kekecewaan dari tuan rumah itu, kami sangat nyaman di situ.

Ada satu hal yang hingga kini berkesan, yaitu saat mulai banyak aksi-aksi yang keras dari semua pemain maupun keputusan wasit yang menyulut emosi suporter tuan rumah. Pada suatu menit (saya lupa persisnya) ada kejadian yang menyulut emosi mereka. Caci maki pada wasit maupun pada kiper Persebaya, Dimas Galih, yang mereka anggap mengulur-ulur waktu dengan seringnya jatuh di area penalti sangat memuncak. Ada supporter samping saya yang “sibuk” menenangkan suporter lainnya untuk tidak bereaksi berlebihan. Saya ingat teriakannya yaitu: “Uwis! Uwis! Ojo didowo-dowo!…”. Ada juga yang teriak: “Santai!…Slow wae!”.

Praktis pula, saat itu sumpah serapah, pisuhan, caci maki, dan kepal tangan meninju ke langit adalah reaksi maksimal mereka. Tidak lebih dari itu. Saya hanya terdiam dan senyam-senyum sendiri melihat pemandangan itu yang otomatis sebenarnya juga mengarah pada kami. Yang lebih “asyik” lagi adalah saat ada anak usia kurang lebih 11 tahun melemparkan botol minuman ke lapangan, seluruh tribun meneriakinya. Anak kecil tadi kemudian hanya ingah-ingih dan mulai mundur untuk duduk kembali. Penonton di tribun itu seperti mengajari anak kecil tadi tentang bagaimana bersikap. Saya yakin anak itu telah mendapat pelajaran yang berarti untuk menjadi suporter sejati.

BACA:  Jambore Bonek Nasional yang "Berhasil"

Pertandingan kemudian berakhir dengan menyisakan banyak pelajaran. Rupanya telah banyak suporter yang mulai menyadari harus ada perubahan. Reaksi berlebihan apalagi yang dilarang dalam regulasi mereka pahami sebagai kerugian bukan saja bagi klub yang didukung namun juga bagi suporter sendiri. “Auman” dukungan lebih diperlukan oleh klub. Selebihnya, jika ada keputusan wasit maupun aksi pemain lawan yang mencederai sportivitas pertandingan kita bisa mengingatnya dan bukan justru menambah ketidak-sportivitasan itu sendiri. Justru dengan reaksi yang sangat berlebihan (meski maksudnya adalah membela klub) maka tujuan lawan dalam memancing stigma buruk akan tercapai.

Ingatlah, bahwa saat pemain lawan memprovokasi pemain Persebaya termasuk memprovokasi suporter maka tujuan mereka sebenarnya adalah ingin menenggelamkan perjuangan Bonek yang selama bertahun-tahun ini dibangun demi kejayaan Persebaya. Cukup mengingat itu saja, saat ada kehendak kita untuk bereaksi dengan sangat berlebihan apalagi dengan melanggar regulasi. Seperti kata Presiden klub Persebaya, Azrul Ananda, tak perlu memaksakan masyarakat untuk percaya bahwa Bonek telah berubah, kini giliran kita untuk membuktikan bahwa Bonek memang bisa dipercaya. Proses memang menyakitkan, dulur, tetapi pelan-pelan kita pasti bisa. Salam satu nyali wani!

*) Dosen DKV UK Petra Surabaya

  • Glamvian

    wani