Asa Gruduk Jakarta Setahun Lalu

Bonek saat gruduk Jakarta lalu.

Akhir Juli awal Agustus yang sibuk bagi bentangan 800 kilometer Pulau Jawa di tahun lalu. Gelombang demi gelombang yang datang dari jantung perlawanan berduyun-duyun menggerakkan hatinya tuk berangkat ke “medan perang” selanjutnya. Pasukan nekat timur Pulau Jawa yang berjanji untuk bangkit dan terus melawan. Yang bersumpah bahwa mundur adalah sebuah pengkhianatan. Tak gentar dan membuktikan bahwa kami menolak untuk takluk dan menyerah begitu saja.

Tak hanya Surabaya sebagai jantung perjuangan, hampir kantung hijau di seluruh Sabang hingga Merauke menggerakkan infanterinya untuk berhimpun di satu titik laga selanjutnya. Sokongan simpati empati dari puluhan kelompok suporter lain dengan membentuk posko-posko penampungan bagi yang sedang menempuh perjalanan ke Jakarta.Rrasanya perjuangan Persebaya bukan hanya Bonek dan rakyat Surabaya, tetapi seluruh Indonesia juga memperjuangkan dengan takaran dan porsi yang berbeda-beda. Membuktikan bahwa Persebaya adalah aset nasional yang tidak bisa serta merta dimatikan paksa begitu saja.

Yang terjadi di Jakarta hari ini, setahun yang lalu, tak bisa hanya disampaikan dengan rentetan kalimat. Pembuktian, di manapun medan laga itu digelar, Bonek akan mendatangi di mana pun, kapan pun, apa pun. Tamparan keras bagi federasi, bahwa merenggut kebanggaan kami adalah sebuah kesalahan besar, sebuah kekeliruan. Itu sama saja dengan federasi sedang menggali liang lahatnya sendiri. Federasi harus berfikir seribu kali untuk mengulanginya kembali.

Gruduk Jakarta adalah sekian dari jilid-jilid semangat perjuangan yang akan menjadi cerita sejarah ke anak cucu, ke generasi selanjutnya. Bahwa Arek Suroboyo masih menjaga nilai luhur semangat perjuangan bahwa lebih baik lapar tapi bertahan harga dirinya, daripada kenyang meskipun dijadikan budak. Lebih baik hancur lebur daripada menyerah begitu saja. Merawat ingatan, bahwa mundur adalah sebuah pengkhianatan!

BACA:  Surat Untuk Kesayangan di Surabaya