Safety First, Bonek Menjadi Lebih Baik Berawal Dari Kita

Rapat Bonek pasca aksi Gruduk Jakarta yang diprakarsai AB1927. (Foto: Nono Gutbaidy/EJ)

Menyandang predikat sebagai suporter dengan basis massa yang cukup besar di Indonesia justru meninggalkan beban serta tanggung jawab yang besar bagi Bonek. Nama besar Bonek terkadang dimanfaatkan untuk mencari keuntungan bagi suatu kelompok maupun individu. Salah satunya adalah media. Jika kita cermati lebih dalam, pemberitaan negatif tentang Bonek akan lebih cepat menyebar luas dibanding pemberitaan postifnya. Itu semua mungkin dikarenakan stigma negatif Bonek yang tumbuh di dalam masyarakat lebih menjual pemberitaannya.

Tapi bukan permasalahan media yang akan saya bahas kali ini, namun lebih ke bagaimana menyikapi perihal yang terpampang pada judul diatas. Yaitu “SAFETY FIRST”. Memang benar, Bonek sudah berubah. Namun itu tidak secara keseluruhan, tidak sedikit oknum Bonek yang masih ugal-ugalan di jalan ketika menuju GBT ataupun away ke luar kota.

Hal itu tentunya menjadi sasaran empuk bagi beberapa media untuk terus menyebar virus negatif Bonek. Bahkan yang saya sayangkan, beberapa media lokal asli Surabaya pun masih sering memberitakan hal negatif tentang Bonek. Lantas salah siapakah semua ini? Apakah salah para pendahulu Bonek yang terlanjur menanamkan stigma neatif di kalangan masyarakat, atau justru ini hanya murni kebobrokan media negara kita?

Jawabannya ada pada diri kalian masing-masing kawan. Sudahkah kita membuktikan kepada khalayak umum bahwa kita benar-benar sudah berubah. Perubahan sejatinya dapat dilakukan lewat hal-hal kecil. Tidak perlu lagi ada konvoi-konvoi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kita harus selalu ingat bahwa jalanan adalah hak masyarakat umum, sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati pengguna jalan yang lain.

Cobalah untuk tidak mengibarkan bendera di jalanan karena dapat menghalangi jarak pandang pengguna jalan lain. Cobalah untuk tidak memainkan suara knalpot karena itu dapat menimbulkan kebisingan dan ketidaknyamanan bagi orang lain. Mari patuhi semua rambu lalu lintas yang ada, karena semua itu dibuat semata-mata untuk keselamatan kita sendiri. Alangkah hebatnya jika kita bisa datang dan pulang dengan selamat sehingga dapat mengawal lagi sang kebanggaan di esok hari.

BACA:  Ruang dan Waktu Persebaya

Saya berharap, tidak ada lagi kabar-kabar yang kurang menyenangkan dari media tentang ulah Bonek di jalanan. Saatnya membuktikan kepada seluruh warga kota, bahwa Bonek sudah berubah dan tidak ada lagi yang perlu ditakutkan dari Bonek. Sepakbola adalah olahraga rakyat, jadi sudah menjadi kewajiban kita sebagai penikmat sepakbola untuk tidak membuat orang lain merasa risih dengan sepakbola.

Perlu diingat juga bahwa mendukung kebanggaan adalah KEWAJIBAN, tapi KESELAMATAN tetap harus kita UTAMAKAN.

Salam Satu Nyali, Wani!