Laga Tanpa Penonton Bukan Jawaban

Laga Persebaya vs PSBI di SSA, Bantul.

Persebaya memang dipastikan lolos ke babak 16 besar Liga 2 dengan kalahnya Persatu Tuban kala berhadapan dengan Madiun Putra. Berada di puncak klasemen sementara grup 5, Persebaya masih menyisahkan 1 laga away dan 1 laga home di babak grup.

Pertandingan terdekat, 28 Agustus nanti, Persebaya akan bertandang ke kandang Persatu, Stadion Lokajaya. Sempat berhembus adanya wacana pemindahan laga di Lamongan, Gresik, dan Surabaya, teka-teki terjawab dengan tetap dilaksanakan di Tuban dengan syarat tanpa kehadiran penonton di dalam stadion. Ini adalah ketiga kalinya Persebaya berlaga di kandang lawan tanpa kehadiran separuh jiwanya, Bonek yang selalu setia mendampingi di manapun Persebaya Surabaya berlaga. Setelah sebelumnya melawan PSBI Blitar yang diungsikan di Stadion Sultan Agung, Bantul. Kemudian lagi-lagi tanpa penonton kala bertandang ke kandang Persinga Ngawi. Kali ini, Persebaya harus kembali berlaga tanpa kehadiran langsung separuh jiwanya di dalam tribun yang dibangun untuk media suporter yang mendukung penuh tim kebanggaannya.

Salah kaitan memang terlihat dari sebelum digulirnya liga, ketidakkonsistenan dan formalitas verifikasi peserta Liga yang dilakukan otoritas berdampak menjadi melebarnya masalah-masalah lain ketika kompetisi berlangsung. Otoritas Liga sama sekali tidak mempunyai tolak ukur tegas seperti apa tim dengan segala persiapannya bisa dikatakan layak untuk mengarungi kompetisi sepakbola yang sering dikampanyekan sebai liga paling profesional.

Kembali lagi, keputusan untuk melangsungkan pertandingan terdekat tanpa penonton bukanlah sebuah jawaban dari sebuah persoalan yang berulang-ulang. Yang patut dipertanyakan, apakah panitia pelaksana dan juga aparat keamanan yang berwenang di wilayah calon lawan Persebaya  tidak belajar kepada panitia pelaksana dan juga aparat keamanan tim lainnya bagaimana upaya-upaya untuk memberikan solusi yang mampu menjadi kelegaan bersama.

Tak bisa dibantah memang, bagaimana masif dan militansinya Bonek ketika Persebaya berlaga. Tapi yang harus dicermati lagi, ada aspek-aspek yang belum sepenuhnya tuntas dikaji oleh panitia pelaksana. Perubahan Bonek ke arah lebih baik yang begitu drastis seharusnya menjadi pertimbangan bagi panitia pelaksana untuk menjalankan pertandingan dengan penonton. Lihat bagaimana ketika puluhan ribu Bonek menghijaukan Madiun dan hampir 3/4 kapasitas stadion menjadi lautan hijau. Ditambah lagi masih banyak ribuan Bonek yang tertahan di luar stadion. Apa kemudian Bonek melakukan tindakan kekerasan ketika tak bisa masuk ke dalam stadion yang sudah penuh sesak? Tidak. Bonek mempunyai kesadaran kolektif lebih tinggi, mempunyai pemikiran, dan tingkat kedewasaan yang semakin meningkat. Bahkan Kapolres Madiun pun memberikan apresiasi atas sikap Bonek yang santun dan tertib selama berada di kota orang.

BACA:  Surat Untuk Kesayangan di Surabaya

Review ketika pertandingan tanpa penonton dilaksanakan di Bantul dan Ngawi, apa lalu sikap Bonek hanya mantuk-mantuk begitu saja? Sekali lagi jawabannya tidak. Sebaliknya, Bonek malah semakin bersemangat untuk berangkat ke kota tujuan, walaupun harus pinter-pinteran dengan aparat keamanan agar lolos dan bisa mendukung Persebaya dengan tidak memaksa untuk menjebol batas dinding tembok stadion yang menjulang. Meskipun urusan memanjat stadion adalah hal yang remeh-temeh bagi Bonek.

Jika minimnya kapasitas stadion yang menjadi pertimbangan keputusan laga tanpa penonton, apa panitia pelaksana dan aparat kepolisian tidak mempunyai keberanian untuk berkompromi memberikan kuota kepada Bonek, dengan solusi cadangan memberikan ruang nobar untuk Bonek yang terlanjur datang namun tidak mendapatkan kesempatan masuk ke stadion. Apalagi, awayday bagi suporter Indonesia adalah menjadi tradisi untuk saling bersilaturahmi dan mempererat persaudaraan antar supporter yang sudah terjalin. Tak bermaksud egois atau memaksakan pendapat, tetapi saya yakin bahwa Bonek akan mampu memegang komitmen sekaligus kembali menjadi pembuktian jika panitia pelaksana dan aparat keamanan serta kedua suporter urun rembuk untuk bersama menemukan solusi terbaik.

Kemudian poin pertimbangan kedua adalah karena laga tersebut disiarkan langsung oleh TV swasta, itu akan menjadi alibi yang diulang-ulang jika bertemu kembali dengan persoalan yang sama. Saya kira harus dikaji kembali, harus didiskusikan kembali dengan melibatkan seluruh komponen yang berkepentingan.

Sepak bola ada untuk rakyat, tidak bisa kemudian dengan alasan yang debatable rakyat tidak diperkenankan masuk ke dalam stadion untuk mencurahkan segala kerinduan kepada tim kesayangannya. Itu sama saja diartikan sebagai pengingkaran terhadap esensi dari sepak bola itu sendiri.

Untuk Bonek, solusi hanya satu. Tetap kawal Persebaya di mana pun kapan pun dengan segala cara, sebaik-baiknya, sebenar-benarnya, sehormat-hormatnya. Trabas Tuban!