Kalau Kalian Gagal Move On, Kami Bisa Apa?

Foto: Ninda Sahriyani/EJ

Dahi ini mengernyit saat beberapa hari yang lalu membaca sebuah maklumat yang dikeluarkan Kapolres Tuban. Ada hela nafas panjang yang terjadi kemudian, setelah sepenuhnya memahami isi dari maklumat tersebut. Bukan hal yang menyenangkan memang, dan cenderung menyakitkan. Ini hanyalah sebuah pertandingan sepakbola, sebuah cara sederhana untuk mengusir sejenak kepenatan pikir berurusan dengan pekerjaan dan kesibukan lainnya.

Tidak sekali ini saja Persebaya harus melakukan pertandingan tandang tanpa dukungan manusia-manusia berkaos hijau yang bertebaran di penjuru tribun stadion. Saat melawan Persinga Ngawi hal yang sama pun terjadi, bahkan saat melawan PSBI Blitar kedua tim harus terusir jauh sampai Bantul. Kami bersimpati pada suporter kedua tim yang tidak bisa berbahagia menyaksikan tim asli daerahnya bertanding, kami juga bersimpati pada para pedagang yang berharap berkah rezeki dari ribuan manusia yang (seharusnya) hadir.

Berbagai bayangan berkecamuk dalam pikiran, semuanya berujung pada satu pertanyaan “Apa Salah Kami?”. Apakah kami masih menyakiti kalian? Apakah ada dosa yang tak bisa dihapuskan dari masa lalu kami yang tak bisa kalian maafkan? Kelakuan kami yang mana? Peristiwa yang mana? Tunjukkan pada kami, tolong berikan pada kami alasan-alasan logis yang bisa kami terima dengan akal sehat. Jangan hanya sekedar berucap lalu pergi begitu saja tanpa ada penjelasan yang kuat.

“Perubahan” itu kata kerja, percayalah kami memahaminya dengan sangat baik. Kurang lebih 5 tahun kami harus menahan gejolak emosi jiwa untuk mendukung tim kebanggaan, kami harus melatih kesabaran melihat suporter tim lain bersorak bergembira mendukung tim kesayangannya, sementara kami berjuang di jalanan untuk kebangkitan Persebaya. Tidakkah kalian melihatnya saat itu? Tidakkah kalian melihat bahwa tidak ada kerusuhan saat aksi kami di Jakarta, Bandung dan Surabaya? Lalu saat kami sudah kembali ke stadion, apakah ada kejadian luar biasa yang menyertai? Kerusuhan mungkin? Penjarahan? Tindak kejahatan? Tertutupkah mata kalian akan fakta? Tertutupkah hati kalian untuk memahami apa yang sudah terjadi?

BACA:  Persebaya dan Bonek Membutuhkan “Kekalahan”

Masa lalu kami buruk, kami pahami itu bahkan kami sadari. Kami pun tak akan mengelak dan mengatakan itu ulah oknum. Sekarang kami melangkah bersama menuju masa depan, kami berjuang untuk membayar lunas kesalahan-kesalahan masa lampau yang mungkin melukai banyak orang baik hati maupun raga. Kami berproses untuk menjadi baik dan lebih baik lagi. Tak bisakah kalian ikut berubah? Mengusir ketakutan masa lalu yang menghantui benak kalian? Menerima kami dengan tangan terbuka dan memperlakukan kami sewajarnya sebagai sesama manusia? Atau setidaknya lihatlah kami sebagai orang-orang yang ingin berbahagia menonton hiburan yang tak datang setiap harinya.

Terima kasih kami untuk mereka yang sudah berkenan menyambut kami dengan tangan terbuka, Madiun dan Pamekasan yang membuka pintunya lebar-lebar untuk kedatangan kami menghijaukan kotanya. Untuk kalian yang mungkin masih terpenjara rasa sakit di masa lalu sungguh kami tidak akan berhenti berjuang untuk berubah menjadi lebih baik dan menunjukkannya pada mata dunia, tapi kalau kalian gagal move on lalu kami bisa apa?