Lebih Dekat dengan Dokter Persebaya, Adhimas Hapto Prakoso

Adhimas Hapto Prakoso. Foto: Iwan Iwe/EJ

EJ – Pada era sepak bola modern saat ini, tidak hanya kualitas pemain dan pelatih yang menentukan sukses atau tidaknya klub meraih prestasi. Namun di balik itu semua, ada satu peran yang sangat vital untuk menjaga kondisi kesehatan para pemain dalam menjalani kompetisi yang sangat panjang yaitu seorang dokter tim. Ia hanya terlihat ketika ada seorang pemain yang mengalami cedera.

Di sepak bola Indonesia sendiri belum banyak klub-klub yang menggunakan dokter khusus. Persebaya merupakan salah satu klub yang menggunakan jasa dokter tim dalam mengarungi kompetisi Liga 2. Bajol ijo memiliki seorang dokter tim bernama Adhimas Hapto Prakoso.

Berikut wawancara EJ dengan Dokter tim Persebaya:

Di Persebaya sejak kapan?
Sejak 1 Juli 2017

Tinggalnya saat ini di mana?
Di Surabaya, saya asli Surabaya daerah Menanggal

Sebelum di Persebaya bekerja di mana?
Sebelumnya saya di Denpasar, proses adaptasi di Udayana (UNUD, Red).

Awal mula bisa di Persebaya bagaimana?
Sebelumnya kenal sama pak Puji (Puji Agus Santoso, Direktur Operasional Persebaya, Red). Kemudian beliau menawarkan saya bekerjasama di Persebaya. Akhirnya saya mau dan full di Persebaya.

Sebelumnya pernah menangani tim olah raga?
Tidak pernah, apalagi sepak bola dan ini baru pertama kali. Cuma modal ilmu yang saya pelajari dan membaca buku-buku. Kalau sebelumnya, kalau olah raga menangani diri sendiri dan temen-temen.

Spesialisasinya apa?
Melenceng jauh sih dari olah raga, spesialisasi saya adalah kandungan namun masih sedikit berhubungan terkait hal asupan nutrisi. Untuk menjaga kondisi para pemain.

Tugas dokter dalam sebuah tim itu apa saja?
Yang utama sih menjaga kondisi dan stamina pemain terutama untuk jadwal pertandingan yang berdekatan jaraknya. Yang kedua penanganan pertama untuk pemain yang kena sesuatu ketika latihan misalnya benturan atau napaknya kurang bener. Kita bisa melakukan penanganan selanjutnya kalau diperlukan seperti Opan, Rendi. Kalau dibiarkan sih bisa main tapi mereka tentu sakit. Di situ kita masuk dan minta mereka stop latihan. Kita lakukan pemeriksaaan lebih lanjut, hasilnya bagaimana. Kita sarankan begini-begini, dari manajemen juga ada saran gimana. Itu yang dikerjakan. Dokter tim juga membuat program makan dan gizi untuk pemain.

Apakah setiap latihan selalu hadir?
Insha Allah kalau tidak ada halangan saya pasti hadir karena nanti bisa memantau bagaimana cedera seorang pemain sehingga mengerti penanganan apa yang harus diberikan dan lebih cepat memberikan penanganan. Takutnya kalau gak datang, ada yang bilang sakit tapi sebetulnya gak papa. Kalau datang dan ada benturan, langsung bisa tanya ke dokter. Penanganan dan recovery-nya lebih cepat.

BACA:  Mat Drai Berbicara Persebaya Dulu dan Sekarang

Apa tantangan terbesar bekerja sama dengan tim besar seperti Persebaya?
Pastinya menjaga kondisi anak-anak agar gak berkurang sama sekali. Mungkin 100 persen susah tapi di atas 90 persen karena pelatih, manajemen Persebaya, dan Bonek tentunya menginginkan penampilan terbaik. Kita tahulah orang Indonesia meski atlit pola hidupnya, terutama pola makannya kayak gimana. Jadi PR terbesar adalah menjaga pola makan.

Apakah ada program makan untuk pemain Persebaya?
Sudah mengarah kesitu, kita kerjasama dengan perusahaan catering untuk mengatur program makan pemain. Ini sudah jalan dua bulan. Dari catering kita bisa atur namun ternyata anak-anak kadang suka jajan, penyetan. Sekali-sekali boleh lah. Kalau di program diet, ada namanya cheat day, satu hari di mana kita bisa bebas makan. Memang agak susah mindsetnya anak-anak diubah. Saya dan teman-teman berusaha ngasih tahu. Do or don’t-nya sudah kita kasih tahu namun mungkin harus personal.

Apakah tim pelatih selalu berkosultasi dengan dokter tim cara meningkatkan fisik?
Mungkin kerjasamanya kita dari belakang. Kalau taktik pelatih yang sekarang lebih hemat stamina. Kalau kita di belakang layar kita bantunya lewat diet makanan. Agar energi yang dipakai di babak kedua mungkin tidak sehabis sebelumnya. Dulu mungkin habis di menit-menit 70, kalau sekarang menit-menit 80. Kan lumayan nambah 10 menit.

Tantangan di 16 besar yang memiliki jadwal yang padat, apakah ada program lebih ketat?
Insha allah nanti dengan izin manajer kita akan memperketat pola makan serta menambah asupan nutrisi seperti susu. Yang terpenting pola makannya.

Apakah tim dokter mas Dhimas saja?
Sementara ini hanya saya.

Apakah merasa kerepotan?
Kerepotannya saat perlu MRI kadang orangnya banyak. Sementara yang bawa saya saja. Misal empat orang, satu orangnya per jam. Kalau orang pertama nunggu orang terakhir, nunggunya lama. Kalau mau pulang duluan bisa, tapi kalau mau nunggu saya juga bisa. Cuma kalau saya gak di Surabaya misal ke luar kota, saya hanya bisa minta tolongnya kepada temen-temen yang ada.

Kenapa pesepak bola sering mengalami cedera lutut?
Karena gerakan-gerakan mereka selalu membutuhkan fungsi lutut. Seperti lari kemudian berhenti itu membutuhkan beban lutut. Kemudian faktor lapangan juga berpengaruh. (eka/iwe)

Data diri:

Nama: Adhimas Hapto Prakoso
TTL: Surabaya, 22 Februari 1987
Anak: 1