Seputar Rencana Pembentukan “Bonek Marshalls”

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol M. Iqbal SIK MSi. Foto: Joko Kristianto/EJ

Orang akan bertanya untuk pertama kali jika melihat, membaca atau mendengar dua kata itu: “Apa itu Bonek Marshalls?”

Itu pertanyaan wajar, terlalu sering, dan sebetulnya bukan sebuah pertanyaan. Bonek Marshalls adalah hanya sebuah nama, istilah dan spontanitas penyebutan suatu kelompok, yang nantinya terserah pembaca mau memberi sumbang saran untuk penamaannya.

Istilah Bonek Marshalls mungkin pertama disuarakan oleh Kapolrestabes Surabaya pada saat awal kancah persepakbolaan Liga 2 PT LIB, khususnya laga-laga Persebaya Surabaya. Tepatnya saat-saat Persebaya Surabaya menjalani laga Home di GBT.

Saat itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M. Iqbal SIK MSi berkomitmen akan mengawal, menjaga dan mengamankan setiap laga sepak bola khususnya Persebaya baik laga Home maupun Away. Ini tentunya juga harus didukung oleh seluruh stake holder TNI, Polri dan Pemerintah Daerah, termasuk di dalamnya manajemen dan Suporter.

Nah, keterlibatan suporter (baca: Bonek) untuk menciptakan situasi yang aman dan tertib tadi juga punya andil besar. Memang selama ini Bonek Hoofdbureau (Hoofy) selalu melekat ke komunitas Bonek untuk mereduksi potensi gangguan keamanan dan ketertiban selama ada Event Persebaya Surabaya maupun giat internal Bonek.

Pemikiran Kapolrestabes Surabaya tersebut adalah bagaimana jika komunitas Bonek ini membentuk suatu wadah kecil, sebut saja Bonek Marshalls untuk tujuan membantu manajemen kegiatan suporter terutama saat ada sepak bola. Keanggotaan Bonek Marshalls tentunya diambil dari Bonek itu sendiri, bisa per-komunitas atau per-Tribun.

Ide Kapolrestabes ini atau mungkin sudah pernah ada ide di kepala kita waktu itu langsung direspons oleh beberapa punggawa Tribun (Utara, Timur, Selatan) dengan rembug santai seusai Rapat Koordinasi Pengamanan, saat ngopi bareng dan kongkow. Memang tidak mudah mengumpulkan punggawa tiap Tribun dalam kesempatan yang sama mengingat banyak punggawa yang punya aktivitas masing-masing.

Namun, Hoofy dan Koordinator Suporter dari Persebaya Surabaya tidak patah arang, dalam suatu kesempatan bisa mengumpulkan punggawa ini duduk bersama dalam suasana santai penuh keakraban membahas rencana awal “Bonek Marshalls” ini.

Pembahasan masih seputaran peran Bonek Marshalls, keterlibatan personil dan tugas kewajiban. Saat itu disampaikan bahwa Bonek Marshalls tidak ubahnya seperti “Polisinya Bonek” yaitu untuk mengelola, mengawal, mengatur, me-manage dan sebagai sarana komunikasi/konsolidasi di setiap event yang melibatkan Suporter Bonek.

Misal, jika ada tindakan dari (maaf) Bonek yang melanggar aturan, membawa barang-barang yang dilarang, mendapat kesulitan, nah Bonek Marshalls inilah sebagai kelompok terdepan yang akan membantu, menegur, mencegah dan koordinasi dengan pihak terkait.

Tentunya pertemuan pertama ini belum bisa merumuskan suatu kesepakatan, harus terus di follow up oleh Koordinator Suporter dari Manajemen Persebaya, oleh Komunitas Bonek, dan tentunya support dari Polrestabes Surabaya.

Pemikiran Hoofy, bahwa Bonek Marshalls atau apalah nanti namanya, keberadaan Bonek Marshalls ini nantinya dari Bonek, oleh Bonek dan untuk Bonek sendiri. Punya nilai positif ke depannya. Sehingga tugas dan keberadaan Bonek Hoofdbureau atau Hoofy pelan-pelan akan mundur dari keterlibatan di Komunitas Bonek.

Semoga pemikiran Kapolrestabes Surabaya ini mendapat respon positif dan tentunya butuh sumbang saran dari seluruh pecinta sepakbola di tanah air.

Salam Satu Nyali!