Drama Menegangkan di Masa Perpanjangan Waktu

Para pemain Persebaya memprotes keputusan wasit Very Permana yang menghadiahi Kalteng Putra tendangan bebas. Foto: Joko Kristiono/EJ

EJ – Manajer Persebaya, Chairul Basalamah, memegang kepalanya saat wasit Very Permana memberi hadiah tendangan bebas tepat di depan kotak penalti. Saat itu, pertandingan memasuki masa perpanjangan waktu dan telah berjalan 3 menit. Ini adalah tendangan bebas kedua yang diberikan wasit kepada tuan rumah di masa perpanjangan babak kedua. “Saya kira wasit memberi mereka penalti,” ujarnya.

Chairul meradang karena tak ada pemain Kalteng Putra yang dilanggar para pemainnya. Pelatih Persebaya, Alfredo Vera, juga geleng-geleng kepala melihat keputusan wasit asal Garut tersebut. Memang, sepanjang pertandingan berlangsung, banyak keputusan wasit yang merugikan tim tamu. Setiap pemain Kalteng Putra terjatuh, wasit mudah sekali meniup peluitnya. Sebaliknya, wasit jarang meniup peluit saat pemain Persebaya dilanggar.

Para pemain sibuk memprotes keputusan wasit. Sepanjang pertandingan, mereka berusaha menahan gempuran serangan Kalteng Putra ditambah “bantuan” wasit. Tentu bukan hasil akhir yang indah jika tendangan bebas itu bisa dikonversi menjadi gol.

Manajer Persebaya, Chaiul Basalamah, meminta pemain keluar lapangan. Foto: Joko Kristiono/EJ

Melihat situasi memanas, Chairul meminta para pemain untuk keluar lapangan. Sebagian pemain menuruti perintah sang manajer. Rishadi Fauzi masih terlihat memprotes wasit di luar kotak pinalti Persebaya. Rendi Irwan, Misbakhus Solikin, dan beberapa pemain masih mengerubuti wasit. Terlihat ada adu argumen antara wasit dan para pemain. Wasit berulangkali mengancam pemain dengan kartu jika mereka masih memprotesnya. Misba-lah yang kemudian terkena kartu kuning.

Di pinggir lapangan, Abu Rizal “Rodeg” terlihat emosional dan berusaha mendatangi asisten wasit. Ia sampai harus dipegangi dan ditahan oleh Dimas Galih. Chairul dan dokter tim, Adhimas Hapto, berusaha menenangkan Rodeg. Para pemain terlihat emosional melihat keputusan wasit.

Abu Rizal “Rodeg” nampak dipegangi Dimas Galih. Ia berusaha mendatangi asisten wasit. Foto: Joko Kristiono/EJ

Chairul sadar jika para pemain harus didinginkan. Karenanya, keputusan untuk meminta pemain keluar sangat tepat. “Keputusan menarik pemain keluar sudah sesuai regulasi,” tuturnya. Semua pemain telah keluar lapangan untuk mendapat pengarahan dari Alfredo dan Chairul. Setelah tenang, para pemain melakukan tos. “Persebaya! Green Force! Persebaya! Wani!” teriak para pemain dengan suara lantang. Mereka kembali masuk lapangan dan bersiap menghadapi tendangan bebas Kalteng Putra.

BACA:  Persebaya Akan Laporkan Wasit Pertandingan Ke PT LIB

Pagar betis dibuat para pemain. Andri Muliadi sibuk berdoa di antara ketegangan yang menyelimuti rekan-rekannya. “Astaghfirulloh, ya Alloh,” doa-doa dipanjatkan pemain asal Aceh itu.

Dua pemain Kalteng Putra, Ade Suhendra dan Fauzi Fajri yang akan mengambil tendangan bebas tersebut. Bola tendangan bebas itu sempat dimajukan satu meter mendekati garis kotak penalti sehingga pagar betis pemain Persebaya harus mundur. Sempat ada protes tapi keputusan wasit tidak berubah.

Ade Suhendra mengecoh seolah-seolah ia yang akan menendang bola. Namun, Fauzi Fajri-lah yang menendangnya. Beruntung, bola tendangannya masih melambung di atas gawang yang dijaga Miswar Saputra. Fauzi tampak tak percaya jika ia gagal menjebol gawang Persebaya. Padahal itu peluang terakhir yang bisa membuat timnya meraih kemenangan perdana di babak 16 besar. Ia memegangi kepalanya dan tampak bersujud di kotak penalti.

Bola tendangan gawang ditendang Miswar jauh ke tengah lapangan. Tak lama kemudian, wasit akhirnya meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Para pemain Persebaya melakukan sujud syukur atas hasil yang mereka raih sore itu. Drama dan ketegangan di Stadion Tuah Pahoe telah berakhir. Persebaya berhasil mencuri satu poin.

Wajah gembira terpancar dari wajah sang manajer di depan bangku cadangan. Meski tidak menang, namun timnya berhasil mencuri poin melawan klub asal Kalimantan. Seri rasa menang, sebuah hasil yang patut disyukuri di antara ketegangan-ketegangan yang menyelimuti para pemain dan “teror” dari wasit. (iwe)