Awaydays Jember yang Mencekam

Mobil-mobil dan angkutan yang membawa Bonek bergerak menuju pintu keluar stadion. Foto: Ninda Sahriyani/EJ

EJ – Sebelum berangkat ke Jember, banyak broadcast berseliweran yang mengabarkan rencana penyerangan kepada Bonek yang akan awaydays mendukung Persebaya di Jember Sport Garden (JSG). Ini sebagai tindakan balasan atas insiden yang terjadi di Surabaya di mana dua anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) harus meregang nyawa.

Namun, kami tetap memutuskan berangkat menuju Jember. Ribuan Bonek ternyata berpikiran sama dengan kami. Los gak rewel, Bonek tetap dukung Persebaya apapun yang terjadi nanti.

Kami pun berangkat sekitar jam 5 pagi. Menggunakan kendaraan pribadi, kami tiba di Jember sekitar jam 11.30 siang. Selama perjalanan, tak ada insiden seperti yang kami khawatirkan. Beberapa kali kami menjumpai Bonek yang berangkat menuju Jember. Ada yang estafetan, naik roda dua, atau roda empat. Mereka kebanyakan memakai atribut Persebaya dan Bonek. Syal hingga bendera mereka pajang di kaca mobil bagian belakang saat berada di kawasan Jember.

Rombongan Bonek Tretes di sebuah pom bensin di Jember. Foto: Minda Sahriyani/EJ
Sayal terpajang di kaca belakang mobil yang ditumpangi rombongan Bonek. Foto: Ninda Sahriyani/EJ

Awal Ketegangan

Kami tidak langsung menuju JSG namun memutuskan untuk makan siang di sebuah warung makan di Jember. Di sinilah ketegangan bermula. Ada laporan yang menyebutkan telah terjadi penyerangan Polsek Ambulu yang dilakukan sekelompok massa yang diduga anggota PSHT. Massa yang berkumpul di depan Polsek hendak menyerang Bonek yang berada di dalam kantor tersebut. Sebelumnya, mobil elf yang ditumpangi Bonek saat berwisata di Pantai Pampuma tiba-tiba diserang ratusan massa. Mobil inilah yang kemudian dilarikan ke Polsek Ambulu.

Tak lama kemudian muncul broadcast tentang kronologis kejadian dan jumlah korban luka-luka. Kami sedikit lega karena tak ada laporan korban tewas dan massa yang menyerang akhirnya bisa dipukul mundur.

Broadcast berupa foto-foto korban yang ternyata sebagian hoax menambah ketegangan di antara rombongan kami. Kami pun segera berangkat menuju JSG karena dua jam lagi pertandingan akan segera dimulai.

Ternyata, JSG telah penuh dengan lautan Bonek. Aparat keamanan sangat ketat dalam melakukan pemeriksaan setiap kendaraan yang memasuki kompleks JSG. Kemacetan tak terelakkan di pintu masuk stadion. Sama seperti awaydays di Pamekasan, pertandingan kali ini tak ubahnya tandang rasa kandang. Para penjual atribut Persebaya dan Bonek tampak menjajakan barang dagangannya sama persis seperti di GBT.

Massa Menyerang Bonek di JSG

Kami pun masuk stadion satu jam sebelum pertandingan. Jelang pertandingan, ada laporan penyerangan sekelompok massa yang juga diduga sebagai anggota PSHT kepada Bonek yang berada di JSG.

“Diperkirakan ada 100 orang yang tiba-tiba menyerang Bonek. Mereka berpakaian hitam dan memakai tali rafia di lengan. Ada yang terkena tusukan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sepasang suami istri diculik dan sempat disandera massa. Tapi untungnya sudah bisa diselamatkan. Massa yang menyerang langsung kabur melalui sawah-sawah,” ujar salah seorang wartawan kepada kami.

Tribun stadion telah ramai dengan kehadiran Bonek terutama di tribun timur dan selatan. Sebagian Bonek yang berada di tribun timur dan selatan bagian atas masih terlihat melongok ke arah sawah yang kabarnya dijadikan pintu masuk massa yang ingin menyerang. Memang benar, ratusan orang mencoba menyerang Bonek dari sisi timur. Untung, Bonek bisa menghalau massa tersebut sehingga mereka lari tunggang langgang masuk ke kampung-kampung.

Bonek mulai bernyanyi saat pemain Persebaya masuk lapangan. Yel-yel dan lagu-lagu dukungan mulai menggema di JSG. Ketegangan yang kami rasakan sebelumnya sedikit mencair.

Hujan deras langsung mengguyur sesaat sebelum kick-off babak pertama dimulai. Sebelumnya, ada pengumuman dari Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo, yang berisi dua hal. Yang pertama, Polres Jember menyediakan angkutan yang akan mengantar Bonek pulang menuju Surabaya. Kedua, Bonek diharapkan melepas atribut Persebaya dan Bonek dalam perjalanan pulang.

Namun permintaan melepas atribut langsung ditolak Bonek dengan menyanyikan sebuah lagu. “Kami ini Bonek Mania. Kami ingin dukung Persebaya. Di mana kau berada di situ kami ada. Kami ini Bonek Mania.”

“Ya sudah, jika tak mau melepas atribut, kami berharap tak ada Bonek yang terpisah dari rombongan. Semua pulang naik kendaraan yang kami sediakan,” tegas Kusworo yang disambut dengan tepuk tangan meriah Bonek.

Bonek memadati pertandingan Persigo Semeru FC vs Persebaya. Foto: Iwan Iwe/EJ

Pertandingan babak pertama dimulai. Atmosfer pertandingan sama seperti saat Persebaya bermain di GBT. Tercatat, 15.652 tiket terjual pada pertandingan itu. Sayangnya, hasil akhir tak seperti yang diharapkan. Persebaya hanya mampu bermain seri 0-0 melawan tuan rumah, Persigo Semeru FC.

“Tetap kita syukuri hasil ini. Kita bisa membawa pulang satu poin,” ujar kapten Rendi Irwan saat konferensi pers usai laga.

Kapten tim Rendi Irwan bersama Manajer Persebaya, Chairul Basalamah. Foto: Ninda Sahriyani/EJ

Tertahan Dua Jam

Setelah konpers selesai, kami memutuskan bergegas menuju mobil kami. Pikiran kami seperti halnya Bonek lainnya hanya ingin segera pulang ke Surabaya. Apalagi hari mulai malam, sementara isu penyerangan mulai menguat.

Semua Bonek diarahkan aparat untuk menumpang angkutan-angkutan yang disediakan. Bonek menaiki bus, truk, mobil pribadi dengan tertib.

Hari mulai gelap, saat itu jam menunjukkan pukul 17.30 WIB, mobil yang kami tumpangi hanya sedikit bergerak. Kami dan mobil lainnya memberi jalan agar bus pemain Persebaya bisa lewat. Namun setelah itu, mobil kami tak bisa bergerak dan berhenti.

Puluhan Bonek tiba-tiba berlarian kembali menuju lobi stadion diikuti Bonek-Bonek lainnya. Informasinya, massa yang menyerang bisa menyusup masuk kompleks JSG. Mereka dikabarkan membawa senjata tajam seperti parang, samurai, hingga bondet. Seorang Bonita terlihat menangis tapi bisa diamankan rekan-rekannya. Namun kabar penyusupan massa itu tidaklah benar dan hanya isu semata.

Begitulah, malam yang mencekam di antara isu-isu yang berseliweran. Kompleks JSG dikelilingi pagar kawat setinggi tiga meter. Pagar inilah yang membuat kami sedikit lega dan merasa aman.

Isu penyerangan menguat lagi. Kali ini dari samping jalan di mana mobil kami berada. Para pemain Persebaya terlihat berjalan kaki kembali menuju lobi. Informasinya, ada massa yang ingin mencoba menyerang kembali. Aparat keamanan sedang menghalau massa yang kabarnya berkumpul di sebuah lapangan dekat kompleks JSG.

Sebagian dari kami memutuskan turun untuk mengamankan diri dan berlari menuju lobi stadion. Beberapa Bonek tampak menggotong Bonita yang terlihat pingsan. Ia digotong dan diamankan di lobi stadion. Hal ini menambah ketegangan kami.

Beberapa Bonek mengajak yang lain untuk keluar menghadapi massa yang menyerang. Namun, aparat bisa mencegahnya. Kali ini, Bonek mematuhi himbauan aparat.

Sementara di ruang ganti Persebaya, para pemain sedang menunggu proses evakuasi. Manajer Persebaya, Chairul Basalamah, masih sibuk menerima telpon masuk. Misbakhus Solikin dan para pemain lainnya juga tampak melakukan pembicaraan melalui handphone. Yogi Novrian baru saja masuk lobi stadion karena ia sempat tertinggal rombongan pemain.

Proses Evakuasi

Setelah dua jam bertahan di kompleks JSG, tampaknya aparat berhasil mengamankan akses keluar. Bonek yang berada di lobi stadion berjalan menuju angkutan yang membawa mereka pulang termasuk kami. Ada satu orang perempuan yang ikut dalam rombongan kami. Rupanya ia saudara Sidik Saimima yang juga ikut awaydays ke Jember.

“Mobil kami sempat digedor-gedor Bonek agar segera kembali ke lobi. Saya ketakutan dan akhirnya berlari menuju ruang ganti pemain. Jersey Persebaya yang saya pakai sempat saya berikan kepada Saimima. Saya dipinjami jaket. Entah siapa yang meminjami,” ujarnya saat berada di dalam mobil.

Truk polisi juga dipakai mengevakuasi Bonek. Foto: Iwan Iwe/EJ

Mobil yang kami tumpangi akhirnya bisa keluar dengan lancar meski ada kemacetan di pintu keluar kompleks JSG. Sebagian Bonek memutuskan berjalan kaki keluar kompleks stadion. Situasi sepertinya sudah kondusif. Meski begitu, kami tetap waspada.

Di pinggir-pinggir jalan keluar, banyak aparat yang berjaga-jaga. Mereka mengamankan semua kendaraan yang hendak keluar. Malam itu, aparat keamanan bekerja keras, tak hanya menghalau massa yang hendak melakukan penyerangan namun juga mengevakuasi puluhan ribu Bonek dari kompleks stadion. Di pertigaan dan perempatan, aparat keamanan juga disiagakan menjaga iring-iringan kendaraan yang membawa kami dan Bonek pulang ke Surabaya.

Satu jam kemudian, rombongan kami bisa keluar dari Jember dan memasuki Lumajang. Akhirnya, awaydays yang mencekam dan menegangkan bisa kami lewati. Meski Persebaya hanya bermain seri, kami dan puluhan ribu Bonek lainnya bangga bisa mengawal sang kebanggaan. (iwe)