Silenzio Stampa ala Persebaya, Efek Akumulasi Kegaduhan yang Sering Muncul

Sebuah sikap dari Persebaya yang ditandai dengan sebuah tulisan dari sang presiden klub, Azrul Ananda pada halaman pembuka suplemen khusus edisi #33 di Jawa Pos, Selasa kemarin.

100 % untuk TIM

Dengan dalih untuk mencurahkan semua sumberdaya untuk tim, sebuah pilihan yang bijak walau terasa sedikit ekstrim.

Pasalnya dalam tulisan tersebut terdapat kalimat:

“menonaktifkan fitur-fitur comment pada akun media sosial. Kami benar-benar ingin menjaga tim dari kegaduhan-kegaduhan di luar, yang belum tentu ada kaitannya dengan sepak bola, dan bisa jadi ditujukan untuk mengganggu niat Persebaya untuk maju dan berbenah.”

Bisa dilihat pada Official Instagram Persebaya, fitur kolom komentar pun telah di non-aktifkan. Menurut pandangan penulis itu merupakan akumulasi tentang kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini di tubuh pendukung Persebaya, Bonek.

Berikut adalah kronologi singkat:

Sweeping  → Korban luka → Sweeping balasan → 2 Korban tewas → Tensi Meningkat antara PSHT-Bonek → Awayday Jember yang mencekam → Ditetapkannya 4 orang bonek sebagai tersangka  → BOIKOT.

Patut disimak ini bukan merupakan kegaduhan yang pertama kali terjadi sejak Persebaya bangkit, kalau anda ingat sebelumnya saya juga pernah menulis sebuah artikel tentang Kontroversi yang melibatkan Maskot Persebaya, Jojo dan Zoro,

Belum sempat membaca ataupun lupa? Jangan khawatir, sudah saya sertakan link artikel tersebut:Kontroversi Jojo dan Zoro, Selanjutnya Apa?

Sejatinya untuk ukuran klub “Baru rasa Lama”, kinerja manajemen Persebaya patut diacungi jempol.

Dengan jangka waktu yang sangat mepet dari tanggal, Jawa Pos resmi mengakusisi Persebaya yang saat itu punya banyak PR.

Hutang Gaji dll senilai 7,5 Milliar rupiah bukan merupakan angka yang kecil untuk ukuran klub sepakbola nasional, mayoritas saja masih sering nunggak gaji pemain.

Adapun komentar yang paling miris: wajarlah itu tanggung jawab Jawa Pos, kan sudah beli Persebaya ya harus dilunasi. Lagian bos JawaPos duitnya banyak kok.

Soal Tiket

Dari ribut harga tiket yang dianggap sangat menguras kantong, Rp 50 Ribu untuk Fans, Rp 250 Ribu untuk Superfans. Walaupun juga ada alternatif Bonek Card (tiket terusan) yang membuat harga tiket turun hampir separuh harga / pertandingan.

Namun dikarenakan jadwal pertandingan yang kebanyakan pada hari kerja, Bonek Card diartikan sebagai upaya manajamenen Persebaya meraih untung karena pemegang kartunya dianggap bakal jarang menonton pertandingan.

Tuntutan Iwan Out

Tuntutan agar Iwan Setiawan angkat kaki sangat kencang disuarakan. Apalagi setelah kekalahan di kandang Martapura, hadiah jari tengah spesial dipersembahkan untuk pendukung Persebaya khususnya yang jauh-jauh berangkat awayday.

Dalam hal ini saya setuju dengan Iwan Out karena perilaku dan kesombongannya sudah keterlaluan. Sampai-sampai ada yang melakukan pelemparan flare ke dalam lapangan dan tindakan tersebut dianggap sebagai simbol pemberontakan karena manajemen.

Bahkan ancaman hal yang sama bakal dilakukan pada laga selanjutnya gencar disuarakan jika keinginan tidak dipenuhi.

Love Persebaya, Hate Management.

Yap, anda tidak salah baca. Kalimat tersebut muncul karena hal ini. Padahal kalau dirunut kembali, dibandingkan dengan klub lain, manajemen Persebaya masih mau mendengar suara-suara pendukungnya.

Kontroversi Jojo-Zoro

Berlanjut ke topik kontroversi Jojo dan Zoro, foto dengan seseorang yang menggunakan pakaian Curva Sud Arema Malang. Foto yang diambil ketika kedua maskot sedang menjalankan tugasnya dalam sebuah acara milik sponsor Persebaya.

Ribuan cacian pun masuk ke dalam kolom komentar pada akun media sosial Jojo, Zoro dan Persebaya. Ada yang mengatakan badut keliling, harga diri hilang dibeli manajemen, urusan perut lupa dengan jati diri.

Tega sekali berkata seperti itu pikir saya, padahal sejatinya uploader tidak mengunggah suatu yang konroversial dan provokatif. Pernahkan berpikir akankah Maskot Manchester United bakal dihujat apabila foto dengan pendukung Manchester City?

Apakah mereka harus menolak jika ada anak kecil yang ingin berfoto dengan kedua maskot tersebut ditolak karena memakai atribut klub rival?

Konflik Bonek-PSHT

Terakhir dan sedang panas-panasnya, adalah ketika konflik horizontal antara PSHT-Bonek yang mengakibatkan korban tewas, luka-luka dan ketegangan yang belum berhenti sampai saat ini hingga ditetapkannya 4 orang Bonek sebagai tersangka karena dianggap sebagai provokator dan penyebab adanya korban tewas di pihak PSHT.

BACA:  Laga Tanpa Penonton Bukan Jawaban

Salah satunya adalah Cak Joner, salah satu pentolan bonek yang sangat vokal dan juga terkadang kontroversial.

Sayangnya postingan pada akun sosial media beliau juga yang membuatnya ditahan oleh pihak kepolisian Surabaya. Hastag #KamiBersamaCakJoner pun segera viral. Desakan agar manajemen juga turun tangan dan tidak diam saja pun disuarakan.

Setelahnya bantuan hukum diberikan oleh manajemen Persebaya untuk mendampingi kasus yang menimpa Cak Joner.

Ternyata hal tersebut belum membuat para pendukungnya puas, mereka malah balik menuduh kalau manajemen Persebaya bergerak hanya karena takut diboikot.

Well, kalau begini ibarat kata maju salah, mundur pun salah. Nggak dibantu salah, dibantu pun salah. Terus maunya bagaimana?

***

Hasilnya laga tandang, rasa kandang melawan PSBS Biak di Gelora Bung Tomo hanya dipadati sekitar 10 ribuan penonton. Padahal laga ini diadakan pada hari minggu yang mana seharusnya mampu menyedot animo penonton yang lebih banyak.

Aksi walk out dan membisunya Tribun Utara, boikot, starting eleven yang dirotasi, hasil imbang tanpa gol menjadi penutup laga tersebut.

Alhasil kegaduhan mewarnai kolom komentar yang menyalahkan mereka yang melakukan boikot. Penulis bisa dibilang menjadi salah satunya, sorry to say.

Kenapa?

Karena menurut saya hal itu tidak tepat dilakukan, mem-boikot klub kesayangan karena salah satu pentolannya ditetapkan menjadi tersangka. Menyalahkan manajemen? Tentu juga tidak bisa karena hal ini sudah masuk kedalam ranah hukum.

Masih ingatkah tentang kasus hukum yang menimpa Dahlan Iskan? Founder Jawa Pos yang juga dianggap bapaknya Bonek ini juga baru saja tersangkut kasus hukum.

Beliau pun harus menjalani pemeriksaan dan proses yang panjang dan sempat menghuni jeruji besi sama seperti yang menimpa Cak Joner saat ini.

***

Jadi janganlah mengkorbankan salah satu dari Cak Joner dan Persebaya karena keduanya juga tidak dapat dipisahkan.

Cak Joner adalah salah satu yang setia mengawal dan membangkitkan Persebaya dan Pihak Persebaya pun tidak lupa dengan cara memberikan bantuan hukum (pengacara) kepada Cak Joner.

Kalau anda merasa itu belum cukup, mau bagaimana lagi? Toh walaupun anda berdemo berjilid-jilid berat rasanya Cak Joner akan langsung bebas begitu saja.

Bukan bermaksud mengecilkan tapi sekelas Dahlan Iskan saja harus ikhlas menjalani proses hukum yang sangat panjang. Serahkan semua pada yang lebih berkompeten yakni pengacara yang ditunjuk mendampingi beliau.

***

Kalau anda tidak suka pada manajemen Persebaya yang sekarang, apakah anda bisa sebutkan manajemen yang lebih baik khususnya di liga domestik ini?

Bali United?

Hmm. Tiket mahal bro, ya walaupun untuk renovasi stadion. Mau situ bayar Rp 50 Ribu buat nonton Persebaya dan Suporter tim tamu yang biasa situ anggap dulur untuk bayar Rp 75 Ribu buat nonton langsung di GBT?

Persib Bandung? 

Tiket mahal tapi cuma demi menonton tim kebanggaannya imbang kalau kata si @mafiawasit

Persija Jakarta?

Ribut karena sulitnya mendapatkan tiket dengan harga normal kalau bukan anggota korwil (bukan tiket terusan).

*) Sepengetahuan penulis saja, mohon dikoreksi jika ada salah. Yang pasti tidak ada manajemen yang sempurna tapi kita wajib bersyukur punya manajemen yang sekarang. Cheers.

***

Jadi marilah fokus kepada impian kita semua, termasuk Cak Joner agar membawa Persebaya kembali ke Liga 1! Karena jadwal pun sangat mepet, sebuah pilihan yang tepat oleh manajemen Persebaya yang melakukan Silenzio Stampa.

Menghindari terpecahnya fokus, karena percayalah para pemain juga sering memantau kolom komentar media sosial Persebaya.

Bagaimanapun mereka juga manusia biasa, fokus dan mentalnya bisa terganggu apabila membaca keributan antara bonek yang mengajak dan menolak boikot, komentar yang menganggap manajemen Persebaya yang tidak peduli pada suporternya, apalagi seringnya melihat komentar protes jadwal kick-off pada jam dan hari kerja meskipun surat pemberitahuan dari PT. LIB sebagai operator liga kali ini di-upload pada Media Sosial Persebaya.

Sekian dan Salam Satu Nyali!

*) Penulis dengan akun twitter @BukanPegawaiJP

  • Sujatno Tanidjan

    100% setuju! Hanya menghabiskan energi dan perseteruan sing gak perlu, memperdebatkan yg tdk bisa kita selesaikan, karena sdh masuk ke ranah yg bukan ranah kita.
    Persebaya adalah puncak monumen. Pemain & Pelatih, Management, Bonek adlah Pilar-pilar yg penopang. Klo pilar kuat dan solid terikat, maka Persebaya akan tegak di angkasa. Bila siji ae berantakan, maka tinggal nunggu waktu Persebaya runtuh.. ojo sampe, rek. Ayo bersekutu maneh saling menguatkan. Salam satoe nyali!

  • rosihan

    gembar gembor bonek sudah berubah…. saperti yang saya bilang, berubah kalo pas menang atau heppy,…. kalau pas kalah?,,,, terbukti kembali kemasa jahiliyah… walaupun itu oknum tapi sudah mencoreng citra bonek yg sudah mulai baik