Boling (Bondho Maling), Masalah Klasik Yang Rugikan Citra Bonek

Bonek berada di depan stadion Wibawa Mukti Cikarang, Jumat (10/11). Foto: Iwan Iwe/EJ

EJ – Seorang pedagang minuman di depan stadion Wibawa Mukti, Cikarang, mengeluh beberapa barang dagangan dan peralatannya hilang dicuri. Rupanya, ada laporan yang menyatakan jika ada Bonek yang mengambilnya. “40 kelapa dan dua golok saya hilang diambil Bonek,” keluhnya.

“Bonek langsung mengambil peralatan yang ada di lapak teman saya. Padahal teman saya ada di lapak itu,” tambahnya sambil geleng-geleng kepala.

Hadi, seorang sopir uber di Cikarang juga mengetahui kabar beberapa Bonek yang berkeliaran di jalan-jalan di kawasan Jababeka untuk memalak warga. “Sudah ada laporan dari warga tentang kelakuan mereka. Kami cukup geram dan berencana untuk mendatangi Bonek di stadion Wibawa Mukti,” ujar Pria asal Ponorogo ini kepada EJ.

Ya, Bonek memang berkumpul di stadion yang berada di kawasan industri Jababeka itu untuk mendukung Persebaya. Meski jadwal babak delapan besar saat itu masih belum jelas, mereka tetap nekat datang. Bonek datang sejak Selasa (7/11) lalu terutama Bonek yang datang dengan cara estafet.

Tak hanya Bonek yang datang ke Cikarang, rupanya ada sekelompok orang yang memakai baju Bonek datang dengan niatan ingin “kerja” alias mencuri atau memalak warga. Mereka adalah orang-orang yang dikenal dengan sebutan Boling (Bondho Maling).

Istilah yang dipopulerkan mantan Gubernur Jawa Timur, Basofi Soedirman, ini disematkan kepada mereka yang menyaru sebagai Bonek untuk melakukan tindak kriminalitas seperti pencurian dan pemerasan. Apa yang dilakukan Boling memang cukup meresahkan warga. Seringkali pedagang yang dirugikan dengan kehadiran Boling. Mereka memilih menghindar dan menutup lapaknya untuk mencegah kerugian yang ditimbulkan Boling.

Sepak terjang Boling tak hanya merugikan warga dan para pedagang, namun juga Bonek sejati yang murni ingin mendukung Persebaya. Jika ada tindak kriminalitas yang dilakukan Boling, warga langsung menuduh Bonek yang melakukannya. Mereka menganggap semua Bonek mempunyai kelakuan yang sama dengan Boling.

Padahal mayoritas Bonek tidak akan mungkin berbuat hal-hal negatif karena hal itu akan mencoreng citra Persebaya dan Bonek. Anggapan jika semua Bonek hanya bermodal nekat tidak sepenuhnya benar. Banyak juga Bonek yang datang mendukung Persebaya dengan mengeluarkan harta bendanya. Dan jumlahnya tidak sedikit.

Seperti halnya Rico, seorang Bonek asal Surabaya. Ia datang ke Cikarang menggunakan pesawat. Ia sempat me-reschedule jadwal pesawatnya karena jadwal Persebaya digeser sehari dari Jumat (10/11) menjadi Sabtu (11/11). Ia harus merogoh kocek untuk bisa mengubah jadwal keberangkatan.

Rico yang selalu berpakaian modis ini menginap dua malam di sebuah hotel bintang 3 yang berjarak 4 km dari stadion Wibawa Mukti. “Saya datang bersama teman berniat ingin nonton Persebaya Sabtu besok. Rencananya saya pulang hari Minggu menggunakan pesawat,” ujar Rico.

Rico adalah salah satu contoh Bonek yang tidak seperti gambaran kebanyakan orang. Ia adalah Bonek yang punya bekal cukup saat mendukung Persebaya. Tak hanya Rico, banyak Bonek yang juga rela mengeluarkan harta bendanya demi mendukung tim kebanggaan.

Seperti rombongan Bonek Green Nord yang juga ikut datang ke Cikarang. Dengan menggunakan 9 bus, mereka berangkat Jumat siang. Setiap Bonek yang ikut rombongan diwajibkan membayar uang sebesar Rp 330.000. Uang itu dipakai untuk membayar transportasi dan makan selama satu hari di Cikarang.

Sayangnya, kelakuan Boling menutupi hal-hal positif yang dilakukan sebagian besar Bonek. Masyarakat sudah terlanjur memberi stigma negatif kepada Bonek. Mereka menganggap semua Bonek gemar melakukan tindakan kriminalitas. Karena banyaknya keluhan masyarakat atas kelakuan Bonek, maka aparat kepolisian pun tidak mau mengambil resiko dan kemudian melarang Bonek untuk datang ke stadion.

Saat babak penyisihan grup Liga 2 lalu, beberapa kali aparat kepolisian menolak kehadiran Bonek dan hanya memberi rekomendasi jika pertandingan digelar tanpa penonton. Laga melawan PSBI Blitar, Persinga Ngawi, dan Persatu Tuban menjadi bukti di mana aparat keamanan masih trauma dengan kehadiran Bonek. Mereka khawatir jika Bonek melakukan tindakan-tindakan kriminalitas. Padahal, Boling-lah yang melakukannya. Ironisnya, jumlah mereka hanya sedikit namun merugikan mayoritas Bonek.

Media officer Persebaya, Roky Maghbal sedang mengumumkan keluarnya surat PT LIB yang memindahkan laga grup Y ke Bandung. Foto: Iwan Iwe/EJ

Media Officer Persebaya, Roky Maghbal, saat mengumumkan perpindahan venue grup Y juga meminta kepada Bonek untuk menindak Boling. “Kami dari manajemen meminta kepada Bonek untuk tidak membela mereka yang kedapatan berbuat kriminal. Saya mendapat laporan dan bukti jika masih ada Bonek yang melakukan tindakan kriminal. Jika masih dibela, yang rugi teman-teman Bonek. Terutama Bonek yang tinggal di Cikarang,” ujarnya.

“Dulur-dulur enak setelah acara selesai langsung pulang. Tapi kasihan buat Bonek-Bonek yang tinggal di Cikarang. Mereka tentu akan disalahkan,” tambahnya.

Kelakuan Boling memang sangat meresahkan. Tentu masih ingat bagaimana Boling membobol warung-warung yang ada di GOR Padjajaran saat kongres PSSI di bandung Januari lalu. Juga pencurian warung-warung sekitar stadion oleh Boling yang dilakukan saat Piala Dirgantara di Sleman, Yogyakarta, Maret lalu.

Tak hanya kepada warga, Boling juga menyasar Bonek murni. Tak peduli sesama Bonek, mereka tega mencuri atau memalak. Bonek Jabodetabek yang mengurus Bonek selama di Cikarang juga menjadi korban Boling. Dua elpiji dan kompor yang disiapkan untuk keperluan dapur umum juga disikat Boling. “Mereka mengambil elpiji dan kompor yang kita letakkan di tenda yang kita dirikan. Mereka melakukannya saat hujan ketika tak ada satu pun dari kita mengawasi,” cerita salah satu anggota Bonek Jabodetek.

Permasalahan Boling memang harus segera diselesaikan. Apalagi jika nantinya Persebaya naik kasta ke Liga 1. Tentu Bonek tak ingin jika laga Persebaya di luar kandang harus dimainkan tanpa penonton karena tidak adanya izin keamanan akibat kelakuan Boling.

Aparat keamanan diharapkan tegas menghadapi kelakukan Boling. Jika ada Boling yang terbukti mencuri atau memeras, pihak kepolisian harus segera menangkap mereka seperti halnya para pelaku kriminal lainnya. Karena wewenang menangkap para pelaku ada di tangan aparat keamanan. Jika aparat tidak berani menangkap Boling, maka permasalahan ini akan berlarut-larut dan semakin merugikan citra Bonek.

Di tengah perubahan positif yang dilakukan Bonek di segala bidang, kehadiran Boling tentu membuat citra Bonek tetap jelek. Sudah sepatutnya, para stakeholder Persebaya serius menyelesaikan permasalahan Boling. Jika tidak, nama Persebaya dan Bonek akan tetap jelek. Siapa yang rugi? (iwe)

Ralat: Ada kekeliruan istilah Boling yang sebelumnya tertulis Bonek Maling seharusnya Bondho Maling. Boling bukanlah Bonek karena mereka hanya memanfaatkan atribut Bonek untuk melakukan tindak kriminalitas seperti mencuri dan memeras.

Facebook Comments