Federasi yang Konsisten dalam Ketidakkonsistenan

pssi
Kantor PSSI. (Foto: liputan6.com)

87 tahun yang lalu tepatnya 19 april tahun 1930, beberapa persatuan sepakbola dari kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Magelang, Madiun, Solo dan Yogyakarta sepakat mendirikan organisasi sepakbola sebagai upaya menentang penjajah pada masa itu lewat olahraga. Soeratin Soesrosogondo terpilih menjadi ketua umum pertama pada awal pembentukannya dengan periode menjabat 10 tahun lamanya dari 1930-1940.

Sempat menjadi wakil asia pertama yang berlaga di piala dunia yang diselenggarakan di Prancis pada tahun 1938 dengan menggunakan nama Hindia-Belanda dan meraih emas terakhir kalinya di ajang SEA Games pada tahun 1991, PSSI juga kerap menimbulkan kontroversi selama perjalanan hidupnya. Tak hanya prestasi saja yang dihasilkan oleh federasi sepakbola tertinggi ditanah air ini namun inkonsistensi regulasi dan kontroversi sangat melekat pada organisasi sepakbola ini.

Pernah Dipimpin Ketua Umum dari Balik Jeruji Besi

Nurdin Halid, ialah sosok satu-satunya yang pernah memimpin federasi sepakbola didunia ini yang bisa mengendalikan PSSI dari penjara. Tersangkut skandal korupsi tentang pengadaan minyak goreng dan divonis bersalah pada 13 agustus 2007 yang mengharuskan sang Ketua Umum menginap di hotel Prodeo selama dua tahun. Atas kasus ini PSSI menabrak sendiri aturan yang sudah ditetapkan oleh FIFA bahwa seorang narapidana/pelaku criminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum federasi sepakbola. Desakan untuk mundur dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, klub-klub hingga masyarakat tak mampu menggoyahkan kursi ketua umum.

Diskriminasi Unifikasi Antara IPL dan ISL

Pada tahun 2013 ketika PSSI dipimpin rezim Djohar Arifin Husin, PSSI menggulirkan liga resmi pengganti ISL yang berstatus liga resmi sebelumnya dengan nama Indonesian Premier League. Liga yang pada masa tersebut tercatat sebagai liga resmi dibawah naungan FIFA beranggotakan 16 klub dengan format kompetisi penuh. Beberapa klub kenamaan tanah air turut serta dalam liga tersebut antara lain Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Semen Padang, Arema Indonesia, Persibo Bojonegoro, Persema Malang dan Persiba Bantul. Tak sempat menyelesaikan 1 musim penuh, IPL ditiadakan dan diunifikasi oleh ISL yang dibentuk PSSI tandingan kala itu. Beberapa klub tidak diperbolehkan mengikuti proses unifikasi dengan berbagai alasan yang seakan mengada-ada. Persebaya, Persema, Persibo, Arema Indonesia menjadi korban kebijakan yang tidak menjunjung azas fair-play tersebut.

BACA:  Sebaiknya Iwan Setiawan Minta Maaf ke Bonek

Inkonsistensi Regulasi Liga 1 Hingga Liga 2

Dengan mengusung semangat baru dan dipimpin oleh nahkoda baru dari figur militer, PSSI sempat memunculkan asa bahwa akan terjadi perubahan persepakbolaan menuju kearah yang lebih baik dengan dipimpin Edi Rahmayadi yang menjabat sebagai Pangkostrad diharapkan mampu membenahi permasalahan-permasalahan akut PSSI selama ini seperti Match Fixing, keterlambatan gaji hingga kerusuhan antar supporter yang tak kunjung usai.

Dalam perjalanannya PSSI menerapkan regulasi yang “ nyeleneh “ dari biasanya mulai pergantian pemain hingga 5 kali dalam 1 pertandingan dengan alasan untuk pembinaan pemain muda, mengharuskan memainkan pemain berusia dibawah 23 tahun dengan minimal menit bermain kemudian dengan tanpa salahnya mengubah kebijakan tersebut ditengah kompetisi yang mengindikasikan menguntungkan salah satu klub peserta. Tak hanya di Liga 1,yang terbaru satu level di bawahnya yaitu Liga 2 juga banyak sekali kontroversi-kontroversi yang muncul bahkan isu kontroversi tersebut lebih menarik dibahas daripada persaingan tim-tim Liga 2 sendiri. Inkonsistensi tersebut semakin terlihat ketika penetapan venue 8 besar liga 2 yang berubah-ubah dalam waktu yang berdekatan. Pada awalnya tim yang lolos ke 8 besar berhak mengajukan sebagai tuan rumah namun diubah menjadi di tempat netral, jadwal yang mundur hingga semua grup tidak memainkan laga yang bersamaan. Alangkah fair play-nya jika grup X berhenti sejenak menunggu laga grup Y bergulir untuk menjunjung tinggi azas fair play kompetisi.

Apapun kontroversi yang dihadirkan oleh federasi sepakbola ini, masyarakat pun akan selalu mencintai suguhan-suguhan yang tersaji karena cinta dan loyalitas mereka untuk sepakbola negeri ini sudah terbawa hingga ajal menanti

Cepat Sembuh Liga Busuk yang Kami Cintai!

Facebook Comments