Persebaya, Mes Que Un Club

“Lebih dari sekadar kesebelasan” atau dalam bahasa Catalan berbunyi, Mes Que Un Club. Bukan hanya sebatas semboyan. Lebih dari itu, kalimat tersebut mempunyai tempat tersendiri di dalam hati setiap pendukung Barcelona. Frasa itu pula yang memantik ekspresi nasionalisme bangsa Catalan yang disalurkan melalui pertandingan-pertandingan sepakbola di Nou Camp.

Tak hanya melalui sepakbola-bagi saya-kalimat tersebut telah merasuk dalam segala sisi kehidupan masyarakat Catalan. Melalui kalimat itu, bangsa Catalan menegaskan bahwa: Barcelona bukan hanya sekadar kesebelasan, Barcelona adalah alat pemersatu, Barcelona adalah simbol perlawanan bangsa Catalan yang ingin merdeka dari rezim Spanyol.

Beribu-ribu mil jaraknya dari kota Barcelona. Di Surabaya, kota yang juga mempunyai sejarah panjang perlawanan, memiliki kesebelasan sepakbola yang begitu dicintai, kesebelasan yang telah mengukir berbagai prestasi di kancah persepakbolaan nasional.

Tak heran, ketika kesebelasan kebangaan bonek itu coba dihilangkan oleh federasi, dengan tegas bonek melawan, dengan berteriak lantang mereka menolak takluk. Sebab, seperti Barcelona. Persebaya adalah mes que un club.

Berbagai aksi telah dilakukan bonek untuk mengembalikan eksistensi Persebaya. hingga puncaknya, pada tanggal 8 Januari 2017. Melalui kongres PSSI, Persebaya diakui kembali legalitasnya sehingga bisa berlaga di kompetisi resmi.

Pun di Catalunya, sebagian besar pendukung Barcelona adalah mereka yang ikut berjuang untuk kemerdekaan catalan, meskipun dalam konteks perjuangan yang berbeda. Akan tetapi, setiap perjuangan tetap lahir dari rahim yang sama. Ia dilahirkan dari satu ibu, yaitu keadilan.

Bonek, juga pendukung Barcelona, sama-sama pernah merasakan terik panas matahari saat harus berjuang di jalanan, pedihnya gas air mata dari tindakan represif aparat, hingga menderita luka lebam akibat hantaman pentungan karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

BACA:  Federasi yang Konsisten dalam Ketidakkonsistenan

Semua yang mereka lakukan bukan tanpa alasan, bahwa sepakbola bukan hanya urusan menendang bola, tidak juga selesai dalam waktu 90 menit. Sepakbola juga bisa dijadikan sebagai alat perjuangan dalam melawan kebobrokan suatu rezim.

Awal bulan Oktober lalu, Catalunya menggelar referendum untuk menentukan nasib bangsa mereka : memilih merdeka atau tetap di bawah pemerintahan Spanyol. Hasil jejak pendapat mendapati bahwa warga Catalan lebih banyak yang menghendaki kemerdakaan.

Jauh sebelum itu, Persebaya sudah bisa dikatakan “merdeka” ditandai dengan ikut serta-nya Persebaya di kompetisi liga 2. Nyatanya, semenjak awal kompetisi bergulir hingga kompetisi telah memasuki babak 8 besar. Persebaya-juga bonek-masih dihantam dengan hal-hal di luar nalar yang banyak merugikan klub ataupun suporter.

Pada kenyataanya persebaya belum benar-benar “merdeka”, sepakbola Indonesia juga tidak sedang baik-baik saja. Kampanye “profesional bermartabat” ala PSSI hanya sebatas ilusi. Jika mengaku sepakbola kita sudah maju selangkah, nyatanya sepakbola kita melangkah ke belakang.

Persebaya dan Bonek adalah satu kesatuan. Mempermainkan persebaya bukan hanya melukai hati para Bonek. Tapi juga menodai perjuangan panjang yang telah dilakukan bonek serta warisan kultural yang telah melekat dalam diri Arek Suroboyo.

Semangat juang Bonek tidak akan luntur, usaha untuk memerdekakan persebaya dari jajahan kolonialis sepakbola akan terus disemai. Jika kalimat pembukaan UUD 1945 mengatakan “kemerdekaan ialah hak segala bangsa”. Maka, Persebaya-juga bonek-berhak untuk merdeka. Sebab, Persebaya lebih dari sekadar klub sepakbola, Persebaya mes que un club!

Facebook Comments