Terjebak Banjir dan Macet di Surabaya, Saksikan Persebaya ke Liga 1 di Bandung

Selebrasi Persebaya usai mengalahkan Martapura. Foto: Joko Kristiono/EJ

Siang itu, Jumat 24 November 2017. Mulai pagi, langit Surabaya mendung gelap. Gelap sekali. Hujan deras baru mengguyur kawasan Kenjeran sekitar pukul 11.00 WIB. Tepat sebelum orang-orang pergi menunaikan solat Jumat. Hujan sangat deras pada siang hari. Tak sampai dua jam atau setelah sholat Jumat pun, beberapa kawasan Surabaya mulai banjir.

Setelah sholat jumat, saya yang sebelumnya berencana naik ojek online ke Graha Pena batal. Saya putuskan membawa motor sendiri di bawah siraman air hujan. Sepanjang jalan, banyak motor mogok karena banjir. Saya menghindari kawasan depan Stadion Gelora 10 November yang memang langganan banjir. Bus di Graha Pena direncanakan akan berangkat pukul 15.00 WIB menuju Bandung. Jalan frontage depan DBL arena banjir. Pemberangkatan menuju Bandung molor sambil menunggu Bonek lainnya datang. Bisa dimaklumi karena seluruh Surabaya sore itu banjir karena curah hujan yang sangat tinggi.

Sekitar pukul 17.00 WIB, bus mulai bergerak pelan ke arah RSI. Sangat pelan. Jalanan super padat dan ada kereta api lewat. Bus membelok ke kiri arah tol gunungsari. Jalan tetap pelan sampai akhirnya memasuki tol. Apa yang diharapkan jauh dari kenyataan. Begitu masuk tol, kami langsung bertemu dengan ribuan mobil yang merambat pelan.

Sopir memutuskan turun tol Satelit dan membelokkan bus menyusuri Darmo Satelit menuju Tanjungsari. Di sana kondisinya makin parah ke arah Margomulyo. Puluhan Bonek dari rombongan empat bus turun. Mencarikan jalan agar bus bisa jalan. Dari Graha Pena sampai pertigaan Margomulyo memakan waktu hampir 4 jam. Luar biasa.

Selepas pertigaan Margomulyo, bus bergerak ke arah Sememi. Pertama lumayan lancar tapi langsung berhadapan dengan jalanan banjir dan macet lagi di Benowo. Banjir di kawasan ini sangat parah. Sungai sampai meluap. Terlihat ratusan motor mogok di tepi jalan. Bus sempat berhenti lama di kemacetan ini. Baru sekitar pukul 22.30 WIB, kami bisa bernafas lega selepas daerah Cerme Gresik.

Salah satu koordinator bus memberikan pengumuman. Karena waktu sudah terbuang sangat lama maka pemberhentian pertama yang direncanakan di Tuban batal. Bus terus bergerak ke barat. Terlihat wajah capek dari para penumpang bus. Ada keluarga yang membawa dua anak kecilnya. Sampai akhirnya sekitar pukul 05.00 pagi bus sampai Kendal. Semua Bonek turun untuk sarapan dan membersihkan badan.

Satu setengah jam berhenti di sebuah restoran di Kendal. Bus melanjutlan perjalanan panjangnya menuju Gelora Bandung Lautan Api. Semua gelisah karena malamnya kami mendengar kabar bahwa laga Persebaya melawan Martapura diubah menjadi pukul 15.00 WIB dari sebelumnya pukul 20.00 WIB. Diselingi berhenti untuk buang air kecil bus terus melaju. Terlihat satu bus sempat berhenti di tol Kanci. Mesin kepanasan. Bus yang saya tumpangi juga sempat salah turun tol di daerah sebelum arah Cikampek. Sampai akhirnya putar balik masuk tol lagi.

Sekitar pulul 13.15 WIB, rombongan kami 4 bus memasuki pintu tol Buah Batu, gerbang terdekat menuju stadion. Setelah keluar dari tol, jalanan kota Bandung macet. Saat weekend, Bandung selalu macet. Gelisah. Apa bisa sampai stadion sebelum kick-off ? Semua wajah gelisah. Beberapa di antaranya sambil berteriak menyemangati supir agar lebih cepat. Sang sopir pasti berpikiran sama. Tapi jalanan tetap macet.

Tepat pukul 14.30 WIB atau setengah jam sebelum kick-off bus memasuki area stadion. Semangat para Bonek terlihat dari raut muka yang cerah dan bahagia sampai tujuan. Tiket pertandingan langsung dibagi. Satu persatu mulai memasuki area stadion melalui gerbang merah. Ribuan Bonek sudah memadati atrian masuk.

Kami tiba. Kami datang. Persebaya kau tak kan sendirian. Begitu mungkin benak semua Bonek yang hadir sore itu. Saya tak akan nulis hasil pertandingan . Semua sudah mengetahuinya. Saat gol pertama Irfan Jaya tanpa terasa air mata saya menetes. Bahkan beberapa bonek membelakangi lapangan saat pemain asal Bantaeng ini mengambil tendangan penalti. Saya tidak sendiri. Banyak Bonek juga yang saling berpelukan dan meneteskan air mata. Bahagia. Sungguh bahagia. Jika pada 8 Januari 2017, air mata menetes di GOR Padjajaran Bandung, maka sore ini 25 November 2017, GBLA menjadi saksi.

Pertandingan ini mungkin akan jadi kenangan panjang bagi Bonek yang datang. Panjang dan lamanya perjalanan dari Surabaya terbalas tuntas. Semua belum berakhir karena kami tetap harus pulang menyusuri jalanan yang sama kembali ke Surabaya. Persebaya telah menyatukan kita.

Masih ada laga final menghadapi PSMS Medan. Tapi bagi saya, itu hanya bonus jika Persebaya juara. Karena target awal adalah lolos Liga 1. Ini sudah tercapai. Bandung selalu punya cerita untuk Persebaya dan Bonek. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih buat warga Bandung.

Tidak ada kebahagiaan lain saat ini melihat dan menjadi saksi Persebaya kembali ke kasta tertinggi. Jalan ke depan lebih berat dan menantang. Romantika ini akan jadi kenangan karena kenyataan esok sudah menunggu kita semua. Untuk menjadi lebih baik. Selamat datang Persebaya.

Kita Persebaya. Kami Bonek.

Bandung 26 November 2017
Rafsanjani

Facebook Comments