“Perjudian” Sempurna Sang Presiden Persebaya

Foto: Joko Kristiono/EJ

“Perjudian” yang saya maksud bukanlah perjudian dalam konotasi negatif namun spekulasi yang dilakukan oleh Presiden Klub Azrul Ananda ketika akan mengakuisisi Persebaya dari manajemen lama. Saat itu, PT Jawa Pos Sportainment (JPS) harus menyediakan dana sebesar Rp 7,5 miliar untuk melunasi tunggakan belasan gaji pemain Persebaya era IPL. Setelah pelunasan, tentu ada PR lain yang harus dikerjakan oleh Azrul, yaitu menyiapkan tim untuk berlaga di Liga 2 dengan target lolos ke Liga 1.

Tak hanya itu, Azrul juga harus mencari sponsor untuk mengarungi kompetisi liga 2 di musim 2017. Mencari dan meyakinkan sponsor untuk Persebaya bukanlah hal mudah. Sponsor harus diyakinkan bahwa Persebaya adalah tim besar dan punya “nilai jual yang tinggi”. Bonek sebagai suporter yang memiliki konotasi negatif harus dirubah image-nya agar memiliki citra positif. Akan susah mencari sponsor apabila klub sepak bola memiliki penggemar fanatik, namun memiliki citra yang negatif. Dan akhirnya, Azrul mampu meyakinkan beberapa brand seperti Kapal Api, Honda, Antangin, dll untuk menjadi mitra Persebaya selama 2017. Dibandingkan klub liga 2 yang lain, jersey Persebaya lebih banyak “iklan”-nya dibanding dengan jersey tim lain.

Sang presiden klub sendiri bukanlah orang asing di dunia olahraga. Dia pernah menjabat sebagai komisioner NBL (national basketball league). Di tangannya, penonton basket naik 300 persen! Sejak tahun 2000-an pula, dia menggagas Deteksi Basketball League (DBL), sebuah kompetisi basket antar sekolah yang cukup populer. Saat saya masih SMA, DBL merupakan event bergengsi bagi para pelajar. Berkat tangan dinginnya pula, Bonek pelan-pelan mulai berubah. Dari Bonek yang memiliki konotasi negatif, menjadi kelompok suporter yang bondo/bermodal, nekad, dan kreatif. Tentu, perubahan citra positif Bonek tersebut bukanlah karena peran manajemen semata, namun juga atas peran bonek sendiri yang terus menerus berbenah kearah yang lebih baik.

Saya masih ingat ketika saya mbonek ke tambaksari pada 2000-an. Tidak ada kampanye “No Ticket No Game”. Menjadi sebuah kebanggaan, ketika kita nonton Persebaya tanpa tiket. Pemandangan penonton memanjat stadion dan menunggu bobolan (menjebol pintu stadion) adalah hal yang biasa. Saya sendiri pernah merasakannya. Hehehe… Ketika pertandingan pembukaan Liga Indonesia 2004 di Tambaksari antara Persebaya yang kala itu juara Divisi 1 melawan Persik Kediri, juara divisi utama. Pertandingan baru berjalan 10 menit, penonton sudah menjebol pintu stadion dan masuk tanpa tiket.

Dulu amat jarang kita temui seorang bapak mengajak istri dan anaknya yang balita untuk menonton bola atau beberapa gadis manis menonton bola di tambaksari. Namun kini, pemandangan sekeluarga menonton bola bukanlah hal yang aneh. Bidadari tibun kini juga bukan pemandangan asing di Gelora Bung Tomo. Lihat juga program edukasi “safety riding”, yang memberikan pemahaman berkendara secara tertib kepada Bonek saat menonton bola. Program tersebut bekerjasama dengan salah satu sponsor klub.

BACA:  Persebaya, Mes Que Un Club

Perlahan, paradigma “Bonek zaman old” sudah mulai ditinggalkan. “Bonek zaman old” itu ya nonton Persebaya tanpa tiket, rasis, tidak tertib, dan kerap berbuat rusuh. Saya masih ingat ketika menonton Persebaya di tahun 2000-an, banyak penonton datang ke stadion dengan memakai helm. Selain karena takut helmnya dicuri di parkiran, helm juga berfungsi sebagai alat pelindung ketika terjadi kericuhan di dalam stadion. Namun pemandangan seperti itu sudah jarang kita lihat di GBT. Berkat tangan dingin manajemen dan pentolan pentolan Bonek, mereka perlahan mulai berubah. Bonek zaman now itu membeli tiket, kreatif, dan tidak ricuh. Dalam beberapa laga home, kita bisa menyaksikan bagaimana atraksi koreo yang ditampilkan tribun utara dan selatan. Malah kadang penonton tidak fokus melihat ke lapangan, justru asyik melihat atraksi yang ditampilkan Green Nord dan tribun kidul. Lihat juga penjualan ticket box di beberapa tempat yang selalu sold out. Kalau ada yang menonton Persebaya tanpa tiket kemudian eksis di medsos, pasti di-bully habis-habisan oleh para Bonek.

Perlahan, tangan dingin manajemen di bawah kepemimpinan Azrul mulai mendapat tempat di hati Bonek. “Menaklukkan” bonek bukan perkara mudah. Kita tentu masih ingat slogan “Love Persebaya Hate Management”. Manajemen sendiri pernah mendapat tekanan saat awal penentuan harga tiket yang terlampau mahal bagi tim yang bertanding di Liga 2. Tak hanya itu, ketika Persebaya masih dilatih Iwan Setiawan, Bonek juga memberikan tekanan kepada manajemen. Penampilan buruk, dan acungan jari tengah Iwan menyulut permusuhan dengan Bonek. Konflik tersebut akhirnya bisa diredam. Iwan diganti dengan Alfredo Vera.

Menjadi presiden klub dan mengurusi klub sebesar Persebaya bukan perkara mudah. Meyakinkan sponsor, menjalin hubungan dengan kepolisian, memenuhi tuntutan Bonek, dan berhadapan dengan kebijakan federasi yang terkadang merugikan klub, benar-benar membutuhkan energi ekstra. Benar-benar sebuah “perjudian”. Dan “Perjudian” itu akhirnya berakhir dengan sempurna. Persebaya kembali berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional. Bonusnya, menjadi jawara Liga 2 2017.

Selamat kepada Persebaya, selamat kepada Bonek, selamat kepada manajemen, dan tentunya selamat kepada sang presiden klub Azrul Ananda. Menarik kita tunggu kiprah dan terobosan terobosan baru manajemen dalam mengarungi liga 1 musim depan.

Forza Green Force!

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi saya sebagai seorang penggemar Persebaya Surabaya. Saya menerima kritik dan tanggapan terhadap tulisan saya. Tulisan harus dilawan dengan tulisan, gagasan harus dilawan dengan gagasan.

*) Penulis: Hendraven, penggemar Persebaya Surabaya. Bisa ditemui di akun facebook hendraven “john” saragih, dan akun instagram @hendravendm.

Facebook Comments