Persebaya, Kenangan Masa Kecil: Dikalahkan Korea Selatan (1)

Koh San.

Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika pertama kali menonton Persebaya melawan Korea Selatan pada 1976. Waktu itu, aku membeli tiket khusus anak-anak sebesar Rp 100 bersama adikku (alm) yang masih belum mengerti sepak bola. Persebaya mengundang Korea Selatan dalam laga persahabatan usai mereka mengikuti Anniversary Cup di Jakarta.

Melihat Korea Selatan keluar dari ruang ganti, ingatan penonton terbang beberapa bulan sebelumnya saat Indonesia (PSSI) kalah tragis dari RRD, Korea (Utara), dalam drama adu penalti Pre Olympic 1976 di Senayan (GBK).

Karena tidak ada yang berbeda model pemain Korea, antara Selatan maupun Utara. Kulit putih kekuningan, rambut lurus, mata sipit, dan jersey merah celana putih. Sedangkan Persebaya memakai kaus hijau, celana putih, dan kaus kaki putih. Kiper Didik Nurhadi memakai lengan panjang oranye, celana hitam, dan kaus kaki hitam memakai decker lutut.

Sebelum permainan dimulai, ada pertunjukan Drum Band dan sambutan panitia, entah oleh siapa. Sedang ketika istirahat, ada penarikan undian dengan hadiah sepeda motor dan sepeda jengki. Pemenangnya disuruh mengendarai hadiah sepeda/motor keliling lapangan, Banyak penonton menyoraki, ada yang melempar berbagai benda ke arah sang pemenang undian.

Line up Persebaya, aku lupa-lupa ingat susunannya, yang jelas kipernya Didik Nurhadi. Lalu ada nama-nama Hamid Asnan, Nyoman Slamet Witarsa, Rusdy Bahalwan, Rudy William Keeltjes, Burhan Harahap, Lukman Santoso, Hadi Ismanto, Waskito, Abdul Kadir … lalu ingatan yang kurang jelas, ada Slamet Pramono, Imam Rifai, Subodro, Ngurah Gede Rai … entah siapa yang line up, siapa yang jadi pengganti.

Belum ada Joko Malis dan Johnny Fahamsyah, masih Persebaya Yunior.

Tribun penonton masih belum diberi pagar kawat, demikian pula lapangan permainan, belum ada pagar kawat keliling.   Penonton masih berpakaian bebas, tidak ada yang memakai kaus hijau-hijau seperti sekarang. Tidak ada bendera, tidak ada spanduk penyemangat, apalagi penampilan aneh-aneh, tidak ada sama sekali.

Ketika laga mendekati usai, penonton banyak yang melompat turun ke sentelban, bahkan hampir mendekati garis. Banyak juga penonton yang membawa radio.

Sampai selesai pertandingan, Korea Selatan menang 1-0 yang dicetak oleh salah satu pemain kembarnya, Kim Kang Nam dan Kim Jung Nam. Kami pulang dengan kecewa. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments