Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Final Idaman (5)

Persija di Final Surya cup 1977

Cerita di majalah dan koran tentang kemacetan lalu-lintas di sekitar Senayan dan membludaknya penonton saat final Pre Olympic 1976 rupanya terjadi juga di Surabaya sore itu. Final idaman antara Persebaya vs Persija menyedot perhatian masyarakat. Sejak pagi beredar isu bahwa tiket sudah ludes alias sold out.

Setelah Dhuhur, dengan Rp 200 di kantong, aku bergegas ke Tambaksari, berjalan kaki, tentu. Menelusuri Jalan Simolawang, Jalan Gembong, melintasi rel KA Kapasari, ngebut lagi sepanjang DKA, belok ke Jalan Ngaglik, dan sampai juga di Jalan Salak.

Di sepanjang perjalanan semua arus lalu lintas mengarah ke Tambaksari. Mulai perempatan Ngaglik kemacetan sudah parah. Para penumpang becak sampai tidak sabar, semua turun lalu berjalan kaki, bergegas agar kebagian tiket, bahkan takut tidak kebagian tempat di stadion.

Hatiku menjadi kecut melihat puluhan ribu manusia berdesak-desakan ingin segera masuk stadion, padahal masih pukul 13.00. Karcis kelas anak-anak Rp 200 melonjak menjadi Rp 400 di tangan calo (saat itu, penonton remaja masih boleh membeli tiket kelas anak-anak. Sekejap kemudian habis, tidak ada lagi calo berkeliaran. Aku ingin menangis, meski itu dalam hati.

Aku harus! dan harus menyaksikan laga final itu, utamanya ingin nonton Ronny Pasla. Sebab, aku sudah kecewa, waktu lawan Persipura, tidak diturunkan. Tapi aku bingung bagaimana cara mendapatkan tiket? Mau memanjat tembok, aku gak berani. Apalagi melihat anak yang berhasil naik langsung digebuk petugas, disuruh turun. Sudah berjam-jam aku mencari cara agar bisa masuk, buntu semua.

Hati makin kecut mendengar gemuruh tepuk tangan penonton membahana dari dalam stadion. Wah! Berarti pertandingan sudah dimulai, nih.

Remaja penakut seperti aku, kalau sudah kepepet seperti ini… bisa berubah jadi BERANI.

Aku nekat memanjat tembok SKA/SKI yang hanya setinggi 3 meteran, tempat bertumpu pintu besi, sementara penonton berkarcis yang gak bisa masuk menggedor-gedor pintu dan teriak-teriak tanda protes.

Pintu besi itu bergetar hebat, kulihat di belakangku beberapa remaja yang lain ikut memanjat, tinggal melompat saja ke dalam, eh, beberapa Polisi datang membawa pentungan rotan. Kontan remaja-remaja itu pada melompat keluar lagi. Tapi, aku berfikir cepat, aku putuskan melompat turun ke dalam saja, biarlah digebuk, pasrah.

Aneh, kaki ini tidak berasa apa-apa saat mendarat di lantai. Ketika polisi itu datang hendak menghajarku, tiba-tiba saja suara berderak disusul suara nyaring, berdentang keras. Yah, pintu SKA/SKI berhasil dijebol! dan polisi-polisi itu mengalihkan tugasnya ke arah pintu yang jebol untuk menahan laju penonton yang mau masuk tanpa karcis. Tidak jadi menghajarku.

Kesempatan buatku!

Aku berlari sekencang mungkin menuju ke dalam pintu VIP.   Dasar apes! Di situ ada 2 orang tentara AD berjaga, kontan mereka mengayunkan pentungan kayu ke arahku. Dalam seper sekian detik, aku berpikir, aku tidak akan berbalik arah, TERJANG saja! … dan … Prak! Prak! Dua pukulan telak menghajar tangan dan tubuhku.

BACA:  Jakarta 2005, Sejarah Kelam Persebaya dan Bonek

Bagai puisi Khairil Anwar … aku tetap meradang! Menerjang! … Luka dan sakit … kubawa berlari, berlari! hingga hilang masuk kerumunan VIP. Dan aku lebih tidak perduli. Aku menyelinap di antara orang-orang penting entah siapa.

Alhamdulillah, aku bisa juga nonton final … Tapi? Yaaahh. Yang dipasang Persija kiper Sudarno lagi, bukan Ronny Pasla. Untuk kedua kalinya aku kecewa berat.

Dan yang luar biasa, stadion Gelora 10 November tidak mampu menampung penonton yang membludak, pemandangan yang tersaji, stadion penuh sesak, penonton tumpah dan meluber ke Sentelban, ribuan lagi yang sudah bisa masuk tetapi tidak bisa melihat. Scoring board dan tiap pohon dinaiki orang.

Skor masih 0-0 ketika Hadi Ismanto lolos dari penjagaan Oyong Liza dan melancarkan shooting tetapi masih lemah sehingga bisa didekap Sudarno. Penonton sudah terlanjur berteriak.

Andilala dengan lincah menggiring bola di sayap kiri, tak seorang pun bek Persebaya yang bisa menghentikannya, tetapi apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Andilala tergeletak di lapangan sambil memegang kepalanya, petugas kesehatan datang berlari menolong.   Ternyata ada penonton yang meng-ketapel kepala Andilala. Para pemain Persija melancarkan protes dipimpin oleh kapten Iswadi Idris. Entah bagaimana, akhirnya pertandingan dilanjutkan kembali.

Ketika istirahat, tidak ada lagi undian berhadiah, yang ada adalah pemandangan ratusan orang membuang hajat sambil berdiri di sisi-sisi tribun, tidak ada lagi rasa malu ataupun jijik, mau bagaimana lagi? Penjual kacang goreng dan tahu petis laris manis. Tahun 1977 belum ada Aqua gelas apalagi yang botolan.

Persebaya menurunkan pemain: Suharsoyo, Hamid Asnan, Rusdy Bahalwan, I Wayan Diana, Subodro, Rudy Keeltjes, Johny Fahamsyah, Slamet Pramono (c), Hadi Ismanto, Abdul Kadir dan Yopie Saununu. Mungkin aku salah ingat, tetapi ada nama Aser Mofu dan Waskito, entah siapa yang line up, siapa yang pengganti.

Sampai selesai 2×45 menit skor tetap 0-0, penonton masih menunggu apakah akan dilanjutkan dengan extra time. Tetapi akhirnya diputuskan “Juara Bersama” karena Stadion Tambaksari ini belum dilengkapi lampu untuk main malam hari, walaupun daya tampungnya terbesar kedua setelah GBK (108.200), yakni 35.000. Sedangkan stadion yang lebih kecil semacam Mattoanging dan Teladan Medan saja sudah punya lampu.

Perlu waktu setengah jam untuk bisa keluar dari stadion.   Aku pulang dengan puas meski badan remuk redam dan memar di sana-sini. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments