Cerita Psikolog Persebaya Satukan Visi Pemain Jelang Final Lawan PSMS

Foto: Joko Kristiono/EJ

EJ – Masih ada cerita menarik di balik gelar juara yang diraih Persebaya di Liga 2. Tak hanya tim pelatih yang membuat performa pemain begitu moncer saat melawan PSMS Medan. Namun, peran psikolog Persebaya, Afif Kurniawan, yang tak kalah besar.

Usai laga semifinal melawan Martapura FC yang mengantarkan Persebaya lolos ke Liga 1, sikap pemain terbelah menjadi dua. Ada yang tetap ingin mengejar gelar juara, namun ada juga yang sudah cukup puas dengan capaian prestasi lolos ke Liga 1. Kondisi ini yang membuat Afif gelisah. Ada sesuatu yang salah jika dua sikap ini bertahan hingga laga final digelar.

Untuk itulah, pria yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini mencoba menyatukan visi pemain dengan sebuah cara yang unik. Sehari jelang laga, dia mengumpulkan pemain dalam kelas psikologi.

“Saya meminta para pemain untuk memilih antara kata bagus dan baik. Semua pemain yang hadir dalam kelas mulai memilih. Yang memilih baik beralasan jika baik levelnya berada di atas bagus. Yang memilih bagus merasa pilihannya paling benar,” ucap Afif kepada EJ usai latihan Persebaya di GBT (6/12).

Setelah semua mengungkapkan alasannya, Afif menjelaskan jika kedua kata itu sama. Tak ada yang lebih baik atau lebih jelek. Semua tergantung mindset masing-masing memandang dua kata itu.

“Sama halnya dengan “mau lolos” atau “mau juara”. Keduanya tergantung mindset,” lanjutnya.

Dari situlah para pemain menyadari bahwa mereka harus menyatukan mindset dan visi yang nantinya diterapkan pada laga final. Dan terbukti, meski sempat tertinggal dari PSMS, para pemain tetap tenang dan fokus sehingga memenangkan pertandingan lewat gol di babak perpanjangan waktu.

BACA:  Ritual Unik Persebaya, Berlutut dan Melingkar di Tengah Lapangan, Apa Tujuannya?

“Biasanya jika ketinggalan, Persebaya hanya bisa bermain seri. Tapi waktu itu kita tetap tenang dan akhirnya bisa menang. Kekalahan di kandang lawan Kalteng Putra cukup membantu kita mengevaluasi performa yang nantinya bisa dikoreksi di laga selanjutnya,” kata bapak satu putra ini.

Untuk Liga 1, tim psikolog Persebaya tetap akan menggelar kelas-kelas psikologi wajib untuk para pemain. Namun, timnya akan menggelar psikotest sebelum kompetisi dimulai. (iwe)

Facebook Comments