Romantisme Itu Bernama Surabaya-Sleman

11
Aksi Bonek dukung PSS Sleman. Foto: Joko Kristiono/EJ

Selama ini kita seringkali mendengar atau bahkan melihat cerita fiksi, dongeng maupun film yang berceritakan tentang sebuah persahabatan. Entah itu dalam bentuk manusia maupun hewan yang memberikan pesan moral bagi kita tentang indahnya sebuah persahabatan. Dari judul yang terkenal hingga yang tersebar melalui cerita turun temurun.

Dalam dunia persepakbolaan pun mungkin sudah jamak sekali kita dengar persahabatan antara kedua kubu supporter yang bertanding. Namun kali ini lebih istimewa, tepatnya di Surabaya pada pertandingan “ Celebration Game “ antara sang juara Liga 2 2017 Persebaya Surabaya menjamu tamunya PSS Sleman. Bagaimana dua kelompok suporter berbasis massa besar bertemu di dalam satu stadion yaitu Bonek, Slemania dan Brigata Curva Sud ( BCS ). Tentu semua sudah mengenal betapa aktraktif dan kreatifnya Sleman Fans, mulai dari koreografi yang mengundang decak kagum hingga tanpa lelah bernyanyi 2×45 menit. Begitupun juga dengan Bonek baik itu dari Tribun Utara (Green Nord 27) hingga Tribun selatan (Tribun Kidul) yang tak kalah aktraktifnya. Dan bisa dibayangkan atmosfer stadion saat itu sangat meriah sekali.

Bukan tanpa alasan jika manajemen memilih PSS Sleman sebagai lawan tanding mereka pada laga perayaan juara terebut, Sleman menjadi salah satu klub yang getol sekali memperjuangkan Persebaya kembali diakui dan berlaga dikompetisi resmi. Hal itu dibuktikan dengan memboikot pertandingan pada laga melawan Persita Tangerang di gelaran ISC B 12 November 2016. Para Sleman fans tetap hadir di stadion Singaperbangsa namun hanya berkerumun dan menyanyikan chants di luar stadion dengan membentangkan spanduk “Save Persebaya”

Selain itu kedua tim juga pernah merasakan pahitnya sepak bola gajah, Persebaya terlebih dahulu mengalami pada tahun 1987-1988 dengan mengalah 0-12 kepada Persipura untuk menyingkirkan lawan beratnya PSIS Semarang. Kejadian tersebut di luar nalar penggemar sepak bola karena kala itu Persebaya menjadi salah satu tim yang disegani dan bermateri pemain hebat. Hal serupa juga dialami oleh Super Elang Jawa, pada 2014 pecinta sepak bola nasional juga dihebohkan dengan laga yang mempertemukan PSS Sleman melawan PSIS Semarang, bukan jalannya pertandingan yang menarik melainkan semua gol yang tercipta pada laga tersebut dari hasil gol bunuh diri. Pertandingan tersebut berkesudahan dengan skor 3-2 untuk PSS Sleman. Kedua tim berusaha untuk mengalah agar terhindar dari tim kuat Pusamania Borneo FC.

BACA:  Beri Aku Sebelas Abu Rizal Maulana, Maka Akan Kuguncangkan Liga 1!

Bumi Sembada pun juga menjadi saksi ketika bajul ijo meraih trofi pertamanya setelah mendapat pengakuan dari PSSI. Kala itu Persebaya yang diasuh Iwan Setiawan berhasil mengalahkan Cilegon United dengan skor 2-0 di Stadion Maguwoharjo pada partai puncak.

Dan masih membekas di ingatan ketika Bonek menunjukkan rasa empatinya ketika PSS Sleman gagal lolos ke 8 besar Liga 2 dengan spanduk penyemangat untuk Sleman Fans pada laga melawan Kalteng Putra di Gelora Bung Tomo.

Acungan jempol patut diberikan oleh Sleman Fans yang me-ludeskan jatah 3.500 tiket serta tambahan 500 tiket. Di luar itu banyak sekali Sleman Fans yang belum mendapat kepastian jatah tiket namun tetap away ke Surabaya. Dan romantisme itu semakin terasa ketika bentangan spanduk ucapan selamat untuk Green Force yang telah naik kasta ke Liga 1 serta berkumandangnya anthem Sampai Kau Bisa dan Song For Pride secara bergantian.

Celebration Game lalu tak ubahnya ajang bertemunya dua sahabat setelah sekian lamanya tidak berada satu tribun. Karena pada hakikatnya sepak bola adalah tentang persahabatan, persaudaraan dan rasa empati. Dan romantisme itu bernama Surabaya-Sleman.

Tangio man, ndang nyusul Liga 1!

Facebook Comments