Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Ronny Pasla (15)

Ronny Pasla

Antara tahun 1980 sampai 1986, aku sama sekali tidak pernah menyaksikan laga Persebaya secara langsung di stadion seperti dulu, terkecuali membaca beritanya di koran atau majalah. Pesona NIAC Mitra terlampau menyilaukan, membludaknya jumlah penonton di setiap laga home maupun away, tidak menyisakan sejengkalpun tempat duduk. Semua itu membuat suporter sejenak melupakan Persebaya.

Menang dengan skor-skor besar, bahkan sampai 14-0 menciptakan euforia, dihiasi bintang baru berjuluk “Raja Udara” atau “Si Kepala Emas” yang bisa mencetak puluhan gol. Setiap posisi diisi oleh nama-nama tenar, meski bukan pemain asing ala Pardedetex (Steve Tomb dan Paul Smith). Gerombolan penyerang seperti Syamsul Arifin, Sunardi Rusdiana, Joko Malis, dan Dullah Rachim merajalela bagai pasukan Panzer di masa Perang Dunia-II, ganas!

Mereka adalah “Raja Galatama” baru, menumbangkan raja sebelumnya (Warna Agung).

Di kala aku berangsur-angsur mulai melupakan cita-cita menjadi seorang kiper, barulah aku ditakdirkan Allah bisa menyaksikan dari dekat kiper idolaku Ronny Pasla hadir langsung di Tambaksari.

Beliau tetap memperkuat IM, sayang sekali aku tidak mendapatkan tempat di belakang gawang Ronny Pasla karena penonton yang membludak sampai sintelban setengah jam sebelum laga, aku akhirnya mepet di pagar kawat ram-raman persis di garis tengah.

Melihat langsung sang idola kali pertama sejak 5 tahun lalu (final legendaris PSSI Pre Olympic vs Korea Utara), terasa sangat sensasional.

Berdebar hatiku saat menatap gerombolan pemain IM keluar dari kamar ganti dengan putih-merah sebagai seragam. Di antara mereka, ada pria gagah, tinggi besar beraura, berlari-lari menuju lingkaran tengah, kaus lengan panjang biru tua, celana pendek dan kaus kaki hitam serta ber-decker lutut. Meski lawan, mereka mendapatkan applaus meriah dari penonton. Apalagi ketika MC Supangat (?) membacakan susunan pemain.

“Pertama, akan kami bacakan susunan kesebelasan tamu kita, IM Galatama sebagai berikut, … penjaga gawang… sengaja diberi jeda beberapa detik …Ronny … Paslaaaahhh….!!”

Gemuruh tepuk-tangan seantero Gelora 10 November bergema, seakan applaus pada pemain sendiri. Itu tandanya, Ronny Pasla dikagumi masyarakat bola, termasuk publik Tambaksari, dan itulah bentuk penghormatan kepada pemain tamu yang paling meriah yang pernah aku saksikan. Kepada pemain AC Milan pun (1994) sambutan publik tidak semeriah itu.

Sore itu Ronny Pasla bermain cemerlang, kalau tidak entahlah nasib IM. Tidak mengapa Ronny Pasla akhirnya tunduk oleh sundulan kepala Joko Malis dan IM kalah 0-1. Ronny Pasla terbang menyambut tendangan Dullah Rachim, tapi bola itu kena mistar gawang, bola rebound itu disambut kepala Joko Malis yang tidak terjaga.

Dikabulkan melihat langsung Ronny Paslah dan NIAC Mitra menang… Puas dobel!!

Kepuasan lain yang menyenangkan adalah aku berhasil juga lolos tes masuk ke SMA Negeri 3 Surabaya, meninggalkan SMA Swasta dengan menunggak 6 bulan SPP, karena bapak sudah tidak mampu membayar iuran sebesar Rp 4.400, berapa itu kalau dikalikan?

“Istilah kriminalnya, aku ngemplang 6 bulan SPP ke SMA Tritunggal II, di mana seharusnya aku memohon maaf kepada TU mereka, tapi luput aku lakukan, karena takut ditagih dan saking leganya hati diterima di SMA Negeri yang SPP nya murah.”

Kembali membahas NIAC Mitra… mereka makin berkuasa di musim ke III (1982-1983) saat merekrut 2 pemain asing dari Singapura, yaitu Fandi Ahmad Syafei dan David Lee sebagai pengganti Purwono yang lebih banyak di PSSI, mendudukkan Hendriks Montolalu sebagai cadangan. Entahlah, mengapa mengontrak pemain dari negara yang level sepakbola internasionalnya di bawah Indonesia (saat itu), bukan dari Eropa atau Amerika latin.

Ternyata, naluri pelatih M. Basri + Wenas terbukti berhasil gemilang, NIAC Mitra bersama Fandi–David kembali menduduki Singgasana Juara. Di tiga laga akhir mereka menggasak UMS’80 dengan 4-0 dengan salah satu gol volley Fandi Ahmad yang bakal terus diingat publik Surabaya, lalu menaklukkan IM 2-0 dan terakhir di Senayan mengalahkan Arseto 2-0.

Saat mengalahkan IM 2-0 itulah untuk kedua kalinya, aku kembali menyaksikan Ronny Pasla hadir di Surabaya. Bahkan bisa lebih dekat, karena aku nonton dari tribun VIP (saat itu aku bertugas sebagai penjual karcis di loket). Kini, Ronny Pasla harus dua kali dijebol Fandi Ahmad (?) dan Yance Lilipaly, gol Yance Lilipaly bahkan sangat buruk. Bola bergulir lurus di rumput basah, tidak terlalu keras, tetapi entahlah, begitu akan didekap, mendadak bola itu terlompat seperti terkena gundukan tanah, lolos dari dekapan Ronny Pasla dan…Gol!!

BACA:  Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Hancur Lebur (13)

Ketika laga usai, aku menunggu Ronny Pasla dari atas pintu lorong ganti. Beliau datang sambil berbincang dengan staf IM (tentang gol kedua), semua orang yang berdesakan di atas lorong (termasuk aku) meneriakkan namanya…”Ronny!! Ronny!! Ronnyyy!!!” Ronny Pasla berhenti sejenak melihat ke atas, tersenyum, melambaikan tangan dan terus berlalu.

Tidak sampai setengah menit, tapi momen itu amat berbekas di dalam hati, dan itulah terakhir kali aku melihatnya secara langsung. Alhamdulillah!! Kalau di zaman Now, histeria seperti itu biasa terjadi pada kehadiran Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Waktu itu belum ada HP bercamera, bahkan camera pun jarang ada yang bawa ke stadion, kecuali wartawan foto, oleh karenanya, tidak terpikir olehku untuk minta berfoto selfie bareng Ronny Pasla.

Sepanjang berkibarnya NIAC Mitra, aku lebih banyak nonton sendirian, aku kehilangan dua sahabatku yang dulu sama-sama bercita-cita menjadi pemain bola Nasional, Basuki dan Suryanto. Basuki ‘HILANG’ di gunung Welirang ketika kami, siswa SMA 3 camping dan mendaki ke puncak, 28 Desember 1982, sedangkan To (Suryanto) banting setir menjadi sopir L-300 jurusan Surabaya-Malang, tuntutan ekonomi tidak bisa dihindarinya.

Kenangan terindah bersama keduanya adalah ketika kami, IM Remaja beruji-coba melawan PS Putri Setia, yang para pemainnya mendominasi skuad Persebaya Putri.

Kebetulan hujan membasahi lapangan IM sebelumnya sehingga lapangan becek. Karena melawan tim cewek teman-teman lalai mencetak gol, tampak lebih banyak berkutak-kutik menggoda cewek-cewek itu yang lebih pantas sebagai kakak, atau sengaja body charge, bahkan banyak yang main sliding tackle, sehingga kalau cewek-cewek itu terjatuh, akan menimpa tubuhnya. Kecuali aku karena posisiku kiper. Ini semua jadi bahan tertawaan penonton. Akhirnya pak Ismanu menghentikan uji coba itu, membariskan kami seraya marah-marah.

“Maksud uji coba ini ya untuk adu ketrampilan walau mereka cewek, koq malah kalian main-main, dasar pikiran kalian CABUL semua!!! sedikit-sedikit sliding tackle…” sindir pak Ismanu.

Kami hanya bisa menundukkan kepala, Basuki dan To tidak dapat menahan senyum nakalnya. Kini, keduanya tidak bersama aku lagi.

Bagaimana dengan Persebaya?

Setelah masa Hibernasi berlangsung tahun 1980 sampai 1982, Persebaya dengan Hartono sebagai Goalgetter, sempat tampil perkasa di Kompetisi Divisi Utama 1983, bahkan sampai 4 besar di Senayan, sayang di laga pamungkas Persebaya terjungkal gol Suherman (PSMS), jika menang, Persebaya akan tampil di grandfinal.

Hehehe, sejarah sudah menggariskan, Persib-PSMS yang menghiasi final 1983.

Hanya saja, kegemilangan Persebaya 1983 itu masih belum bisa menandingi pesona NIAC Mitra, sehingga tidak begitu melekat dalam memory masyarakat umum. Saat itu muka lama hanya tinggal beberapa, semisal Hartono dan Subodro, lainnya diisi muka-muka baru seperti Ferril Raymond Hattu, Budi Juhanis, Djudjuk Darmanto, Sasono Handito, Usman Hadi, maupun Yongki Kastanya.

Memperhatikan nasib bahwa Sasono Handitolah yang sampai di skuad Persebaya senior, sedang Mustofa dan kiper yunior lain menghilang, dari situ aku makin yakin bahwa seorang kiper mutlak membutuhkan keunggulan fisik minimal 175 cm, kalau perlu 182 cm seperti Ronny Pasla, tidak hanya tinggi, tapi juga berisi dan berotot.

Dengan demikian, sudah sampailah kepastian pada diriku bahwa cita-cita menjadi kiper terkenal 99,99% …sudah SIRNA.

Balas dendam atas kekalahan menyakitkan tahun 1976 tidak akan terealisasi meski sebatas mimpi, apalagi untuk berangkat menuju Olimpiade, lupakan semua. Aku juga lupa, kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di lapangan IM yang gersang sebagai seorang kiper.

Tetap berjalan tegak, menyongsong masa depan. You’ll Never Walk Alone. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments