Persebaya, Kenangan Masa Bujang: Sepak Bola Gajah, Mike Tyson, dan Treble Winner (17)

17
Persebaya juara perserikatan 1988.

Ada semacam dendam kolektif dari masyarakat Surabaya dan Jawa Timur, khususnya suporter Green Force terhadap kekalahan 0-1 dari PSIS di Grandfinal lalu, seperti ada rasa tidak terima. Maka, akhir tahun 1987 ini sebagai awal dari Kompetisi Divisi Utama 1987-1988 segenap elemen bertekad untuk merebut Piala dan Gelar Juara yang dicuri PSIS.

Kok kebetulan, jadwal laga pertama Persebaya harus tandang ke markas PSIS, maka guna mengamankan hasil, diadakan tret-tet-tet ke stadion Jatidiri (atau Citarum?). Diharapkan, dengan dukungan suporter Persebaya akan main semangat, dan asumsi itu terbukti benar, gol tunggal Syamsul Arifin memenangkan Persebaya 1-0.

Setelah itu, PSIS seperti melempem, tidak pernah memenangi laga dan menempati urutan buncit, untuk sementara legalah hati suporter Persebaya, meski perolehan poin di putaran I ini sangat-sangat ketat, lihatlah tabel berikut :

Persebaya 5 – 3 – 0 – 2 6-4 6
Persiba 5 – 2 – 2 – 1 6-4 6
PSM 5 – 3 – 0 – 2 5-7 6
Persipura 5 – 1 – 3 – 1 7-6 5
Perseman 5 – 1 – 3 – 1 7-6 5
PSIS 5 – 0 – 2 – 3 4-8 2

Menyambut putaran II atmosfir di Surabaya dan Jawa Timur amat meriah dengan demam semboyan “Kami Haus Gol Kamu” atau “Low Profile High Product” yang disablon di dada kaus hijau, topi pet hijau, dan syal hijau, meniru suporter yang disaksikan Dahlan Iskan di Liga Inggris. Kaus, Topi dan Syal itu laris manis, menciptakan hijau-mania, meniru istilah tahun 1964 ketika dunia dijangkiti wabah Beatlemania.

Derita PSIS semakin jadi ketika di laga pertama putaran II harus bertanda ke “Neraka Hijau” yaitu stadion Gelora 10-November yang secara menakjubkan, berubah menjadi lautan hijau oleh membludaknya tifosi, menyamai final Surya Cup 1977 atau Ajax 1975.

Di lapangan basah dan dibawah tekanan 35.000 lebih penonton, PSIS tampil grogi, aku bisa melihat wajah pucat Rochadi, kapten PSIS saat memimpin rekan-rekannya keluar dari ruang ganti. Gol Budi Johanis, Syamsul Arifin dan Totok Anjik memenangkan Persebaya 3-1. Suporter PSIS pun tidak sempat masuk stadion karena jalanan macet dan tidak mungkin untuk memaksakan diri masuk ke dalam stadion yang sudah penuh sesak.

Cerita selanjutnya sungguh di luar dugaan, PSIS yang dikira hampir mati terkubur tiba-tiba bangkit, mereka menekuk PSM 1-0 dan Persiba 2-0, hingga disebut sebagai “Mayat Hidup” (yang harus dibunuh untuk kedua kalinya), caranya, mengalah kepada Persipura 0-12. Suatu peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Sepak bola Gajah” meminjam istilah permainan sepak bola yang dilakukan para gajah di Lampung, di mana skor sudah diatur sebelumnya. Dengan demikian, Persebaya “mengajak” tim yang kira-kira tidak ngriwuk’i dalam usaha mengejar gelar yang “disabet” PSIS 1987 secara menyesakkan.

Di tengah cercaan masyarakat dan makian PSIS, Persebaya melenggang ke Senayan dengan optimisme tinggi. Persebaya membuktikan diri tanpa sepak bola gajah mereka masih tetap kuat. buktinya mereka menggasak PSMS 2-0 di laga awal, menggasak Persipura 4-2, lalu menyikat Persiba 1-0 meski sempat bermain adu tensi lawan Persib 3-3. Akhirnya Persebaya bisa bermain santai 0-0 lawan Persija untuk menjejak Grandfinal. Aku setuju!

Oh iya, di tengah berkobarnya Kompetisi 6 besar, ada pertandingan tinju kelas berat antara Mike Tyson vs Tony Tubbs, laga dilangsungkan pukul 10.00 WIB. Setiap orang, termasuk di Indoneisa, tidak akan melewatkan laga idola masyarakat dunia, Mike Tyson, si Raja KO.

Demi, Mike Tyson rapat penting di kantorku bisa di break dulu oleh boss agar pesereta rapat tidak kepikiran, malah disediakan TV di aula pertemuan.

Aku sudah janjian dengan teman-teman kampung untuk Nobar Mike Tyson di Ngagel Tirto, tetapi sampai pukul 09.30 pekerjaanku belum kelar juga, pesan bos, boleh nonton, tapi selesaikan dulu tugasnya. Ketika kantor sepi ditinggal nonton, aku terpaksa “Nyelintung” dikarenakan tugasku masih belum kelar, tapi tinjunya keburu main.

Maka, dari Gayungan PTT aku ngebut dengan Honda Astrea menuju Ngagel Tirto. Tapi nahas, di depan stasiun Wonokromo seorang remaja Tionghoa gugup dan menabrakku, aku tak bisa menghindar “Braakkk!!!” kulihat jempol kakiku retak, kukunya “Njengat keluar” mandi darah dan aku harus digotong ke RSAL Dr. Ramelan Wonocolo. Langsung ke UGD.

Sakit sekali waktu diinjeksi obat pemati rasa (bius lokal) dan kemudian aku dijahit. Ketika kereta dorongku melewati lorong yang ada pesawat TV-nya, kulihat pertandingan tinju sudah selesai dengan kemenangan KO Mike Tyson. Owalah-walah.

BACA:  Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Ronny Pasla (15)

Teman-teman kantor mem-bezoek-ku, “Mangkane tha, marekno dhisik kerjoan kantor, baru nontok Maik Tesen.” Goda mereka sambil tertawa, sementara aku terkapar di ranjang cuman bisa nyengir kuda.

Ketika semua mendaftar ikut tret-tet-tet ke Senayan, aku tidak berdaya dengan kaki dibalut perban dan masih dalam taraf penyembuhan, padahal aku ingin merayakan Persebaya Juara bersama segenap Suporter Persebaya dari segala penjuru tanah air, namun apa daya, aku kudu puas hanya nonton dari layar TV. “Kabeh iki gara-gara Mike Tyson!!!”

Hati ini belum yakin juara meski Budi Johanis sukses dengan penaltinya, terbukti Persija bisa menguasai permainan bahkan bisa meng-equal skor (1-1). Ketika tendangan Mustaqim tak mampu diantisipasi kiper Agus Waluyo, lalu Yongki Kastanya kembali memperdayainya, 3-1

Goooooolllll …..aku berjingkrak-jingkrak di depan TV lupa akan nyeri yang mendera jempol kakiku, aku sudah bisa tersenyum lega menyaksikan Persebaya membawa kembali Piala yang sempat “Dipinjam” PSIS setahun lalu. Cukup 1 tahun saja PSIS meminjamnya.

Owalah nasibku, ketika 1987 aku hadir di senayan, Persebaya kalah, ketika 1988 ini aku tidak bisa hadir, justru Persebaya Juara.

Persebaya kembali menjadi Raja 1988, sama seperti saat aku masih kelas II SMP dulu, sama-sama hanya bisa nonton dari TV. Namun tidak mengurangi perasaan gembira dan bangga.

PERSEBAYA: I gusti Putu Yasa (k), Usman Hadi, Muharom Rusdiana, Subangkit, Aries Sainyakit (Anis Fuad), Nuryono Hariyadi (c), Yongki Kastanya, Budi Johanis, Maura Helly, Mustaqim, Syamsul Arifin. Pelatih: Misbach-Koesmanhadi, Manager: H. Agil H. Ali.

Tahun 1988 benar-benar merupakan tahun “Pesta Bola” bagi rakyat Surabaya dan Jawa Timur, banjir prestasi. Persebaya Juara Divisi Utama Perserikatan, lalu menyusul NIAC Mitra menjadi Juara Galatama untuk ketiga kalinya dengan skuad yang diisi oleh Benny van Breukelen, Hanafing, Yessi Mustamu, Jaya Hartono, Kusnan, Joko Slamet, Muhammad Al Hadad, Freddie Mulli, Eduardo Mangilomi, Wawan Dharmawan, Abdul Khamid dan banyak lagi, dengan tetap M. Basri sebagai entrenador.

Perserikatan dikuasai, Galatama dikuasai, tak ketinggalan, kompetisi antar klub pun dikuasai kala Suryanaga tampil sebagai Juara, sayangnya, aku lupa klub apa yang menjadi pesaing dan berapa skor yang dihasilkan. Mungkin konco-konco bisa membantu?

Sama dengan 10 tahun lalu, sukses Persebaya menjadi Juara berdampak banyak, jika dulu Persebaya membangkitkan gairahku untuk menjadi pemain nasional, kini hanya membawa gairah bersepakbola bersama rekan sekantor.

Kebetulan, Manajemen mengadakan kompetisi antar Instansi se Surabaya, ada 5 tim, Kantor Wilayah (dimana aku berdinas), tim Kantor Surabaya Selatan, Surabaya Utara, Kantor Interlokal, dan Kantor Telegraph-Telex.

Oh, inikah anugerah yang diberikan Allah kepadaku? Aku bisa main bersama beberapa ex pemain Persebaya Yr jaman Old yang bekerja di kantorku. Aku sudah cukup puas sekedar memperkuat kesebelasan kantor, meski tak bisa berdiri di bawah mistar Persebaya atau PSSI seperti dulu cita-citaku semasa anak-anak. Alhamdulillah, semua patut aku syukuri.

Rekan-rekan sekerja, meskipun tidak dikenal publik, dulunya pernah memperkuat Persebaya, Persema, PSBI dan beberapa klub lainnya. Tendangannya masih yahud, tekniknya masih ok, dan yang jadi kiper, meskipun sudah tua, tapi tangkapannya masih lengket. Mereka tak mau kalah dengan aku yang masih 24 tahun, yang sebenarnya masih usia emas di sepak bola.

Singkat cerita, aku dan timku berhasil masuk final yang diadakan di lapangan milik PT SIER Jl Rungkut Industri, penontonnya cukup banyak, termasuk beberapa legenda Persebaya yang kebetulan sore itu latihan disana, ada Aser Mofu, ada Johny Fahamsyah, Joko Irianto dan lain-lain, termasuk kiper Putu Yasa yang hanya nongkrong.

Lawan kami adalah kantor Surabaya Utara dengan skor akhir 1-1, kembali untuk kedua kalinya aku menjalani adu penalti, tetapi kali ini aku tidak berkhayal menjadi Ronny Pasla, dan hasil adu penalti adalah 4-4, masing-masing satu kali gagal. Karena menjelang Maghrib, tidak diteruskan ke Sudden Death, sebaliknya wasit melempar koin undian guna menentukan siapa juaranya, dan Surabaya Utaralah yang bernasib baik.

Selamat kepada Surabaya Utara!! Selamat untuk Suryanaga, selaat untuk NIAC Mitra dan terlebih-lebih, selamat untuk Persebaya Green Force Surabaya. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments