Persebaya, Kenangan Masa Lalu: Malang, Sebuah Lembaran Hitam (20)

87
Stadion Gajayana, Malang.
592Shares

Persebaya adalah sedikit di antara klub legendaris yang mampu menembus final 3 (tiga) kali berturut-turut, (1987 vs PSIS, 1988 vs Persija, 1990 vs Persib).

Maka, musim 1991-1992 ini mencoba mengulang kembali agar bisa menjadi keempat kalinya. Tetapi, sederet awan kelabu yang mendadak berubah menjadi gelap, hitam kelam melanda langit Surabaya.

Apa saja itu?

Aduh, sekadar mengingat saja aku sudah pening, apalagi menceritakannya, tentu akan menguras emosi dan menyebabkan tekanan darah naik. Mas-mas admin, silahkan postingan ini di delete bila dirasakan “Tidak Pantas” dimuat.

Lembaran ini sebenarnya dimulai dengan gemilang ketika pasukan muda Persebaya (Bledug Ijo) mengobrak-abrik PSM dengan 3 gol tanpa balas, dilanjutkan dengan menggasak Persema 2-0, draw vs Persiba, Persegres dan PSIS, masing-masing 1-1. Bledug ijo pun memimpin klasemen seperti yang selalu sukses dilakukan kakak-kakak seniornya tahun-tahun sebelumnya.

Semuanya berubah di putaran II…

Entah dari mana ceritanya, terjadi gejolak di kota Ujung Pandang, bukan kerusuhan tetapi aroma provokasi yang ditujukan kepada lawan-lawannya, terutama ke Persebaya. Buletin khusus PSM pun diterbitkan untuk mendongkrak performa dan semangat Juku Eja asuhan Syamsuddin Umar.

Ketika Persebaya giliran melawat ke Ujung Pandang, sambutan teror luar biasa dialami, semisal saat mencoba lapangan, suporter PSM hadir dan mengepung dengan membentangkan berbagai poster provokasi, padahal (seingatku) hal demikian tidak terjadi di putaran I di Surabaya.

Para pemain Bledug Ijo, merasa sangat terganggu, sekuat apapun mental mereka.

Teror penonton dan pressure ketat PSM terbukti mampu membalas kekalahan mereka, meskipun hanya 2-0.

Persema Malang, yang kali ini mampu bersaing juga mendapatkan teror disana, saat pemanasan, beberapa pemain PSM melakukan pemukulan, Persema pun bisa dikalahkan 1-0.

Panasnya atmosfer kompetisi tidak hanya terjadi di lapangan, di media-media pun berlangsung perang urat syaraf dan juga perang spanduk. Baik antara PSM vs Persebaya maupun Persebaya vs Persema. Gejolak magma mulai menyemburkan awan panas alias wedhus gembel, dan magma itu meleleh panas di stadion Gajayana.

Ketika Persebaya harus melawat ke kandang Persema, aku nekad menyaksikan langsung ke stadion Gajayana seorang diri, masih memakai baju seragam kerja. Ketika masuk pintu stadion, aku sudah mulai merasakan suhu menghangat, ditandai dengan dentuman beberapa drum yang digebuk oleh anggota TNI yang nonton di belakang gawang utara.

Beberapa spanduk kecil muncul di belakangku… tulisannya jelas tidak enak.

Panitia terus menerus memutar sebuah lagu Rock gubahan Ian Antono, intinya berisi puji-pujian terhadap pemuda lokal Malang yang gagah berani. Walau mestinya lagu itu lebih tepat dipakai oleh klub Galatama Arema.

Ketika stadion mulai penuh, dari arah tribun VIP muncul 6 orang membawa 2 spanduk/banner berisi kalimat yang amat provokatif, “Barmen dan Mudayat Haram Masuk Kota Malang.” Saat itu, spanduk belum dipakai segencar sekarang. Tulisan satunya aku tidak ingat, kedua banner itu diarak pelan keliling lapangan dengan tujuan yang jelas… membakar amarah!! dan itu sukses membakar emosi penonton, tidak ada panitia atau aparat yang coba mencegah drama ini.

Aku yakin, banyak di antara penonton adalah selundupan suporter dari Surabaya dan kota-kota lain yang berisi pendukung Persebaya. Mereka tidak dikoordinir, tidak bergerombol, karena tahu dan paham, semua itu bisa mendatangkan kerusuhan. Aku yakin juga bahwa suporter Malang mengetahui adanya suporter-suporter lawan yang menyusup.

Kemudian drama kedua adalah munculnya seorang pria paruh baya berambut gondrong, dia maju ke tengah lapangan membawa mik dan memulai orasinya membakar semangat penonton, dalam hal ini suporter Persema, sambil menyindir penonton-penonton gelap yang menyusup.

Puncak dari drama-drama tersebut adalah keluarnya kedua kesebelasan dari kamar ganti, yang pertama keluar adalah Persema, mengenakan seragam putih-biru mirip yang dikenakan PSIS saat Juara 1987, mereka langsung melakukan warming up di salah satu sisi lapangan.

Berikutnya giliran Bledug Ijo keluar diiringi cercaan dan caci maki, langsung mengambil area pemanasan di belahan lapangan sebelahnya.

Biasanya, kedua tim yang akan bertanding melakukan pemanasan di belahan lapangan masing-masing, dan mulanya Persebaya-Persema melakukan yang demikian, tetapi kemudian barisan Persema melintasi garis sehingga berpapasan dengan barisan Persebaya.

Di saat itulah pemain-pemain Persema mempraktekkan apa yang dilakukan para pemain PSM. Beberapa pemain Persema melakukan pemukulan terhadap pemain-pemain Persebaya yang lebih pantas sebagai yuniornya. Yang sempat terekam dalam ingatan adalah kiper Persema, Untung Sudarmoko dan yang sempat kulihat, salah satu pemain yang dipukul adalah Yusuf Ekodono. Benar-benar suasana yang mencekam meski musik rock masih didengungkan keras-keras.

Sebersit rasa sesal menggumpal dalam hati, seharusnya aku tidak pergi ke Malang menyaksikan pertandingan ini. Lebih bijak kalau aku berdiam di rumah sambil mendengarkan siaran RGS atau RRI yang (mungkin) menyiarkannya sebagai laporan pandangan mata.

BACA:  Persebaya, Kenangan Masa Lalu: Perang Bubad (19)

Melihat hal demikian, sebagian besar penonton malah memberikan semangat, “Lukup, Lukup !” sambil bersorak. Tidak terbayangkan, bagaimana gelegak darah mendidih yang dialami para penonton penyelundup??? aku mengira, laga ini bakal tidak terlaksana karena (tentu) Persebaya mogok bertanding. Tetapi anehnya tidak!!, laga tetap dilangsungkan.

Rupanya panitia berhasil membujuk manajemen Persebaya dan dalam keadaan tertekan secara psikis Persebaya bisa tampil merepotkan Persema dengan skill individu yang rata-rata lebih unggul.

Para penonton di dekatku berteriak, “Jangan main teknik!! jangan main teknik!! main kerass!!” dan di antara mereka pun berbincang, wah, kalau main teknik Persema akan dihabisi. Persema kudu main keras, kalau perlu kasar sekalian. Dan pesan itu nyambung ke lapangan, Persema pun mulai main force tapi tidak diladeni Persebaya, kecuali oleh Usman Hadi dan Totok Anjik.

Gol Johanes Geohera cukup memuaskan publik tuan rumah. Persema menang 1-0 dan aku pun bergegas pulang, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Ayo, awasi penonton yang bermuka sedih.” Seloroh beberapa pemuda bertato yang bertelanjang dada. Ketika aku sudah berada di dalam angkot, kulihat belasan atau puluhan sepeda motor ber plat L berjatuhan di area parkir dengan kaca pecah atau rusak dibagian lain.

Bila ada pembaca yang bertanya kepada penulis, “Bagaimana perasaanmu???”

Kalau secara tertulis, aku tidak mau menjawab!! tidak mau!! aku ingin mewakilkan jawabanku kepada seorang pemuda china totok, jika ada. Tapi, sebelum ia menjawab mewakili aku, dia lebih dulu harus membaca sebuah buku yang berjudul “The Rape of Nanking” yang ditulis oleh Irish Chang, diterbitkan oleh NARASI, Jogjakarta.

Di buku itu diceritakan tentang Perang Asia Timur Raya, bagian dari Perang Dunia II, di mana tentara Dai Nippon menginvasi daratan China, meski rakyat dan tentara China melawan sekuat tenaga, tetapi mereka dikalahkan dan kota Nanking pun dikuasai 1937-1938. Lalu terjadilah peristiwa pembantaian massal, ratusan ribu pemuda dan tentara China ditembak, dipenggal atau disiksa, sedang ratusan ribu kaum perempuannya diperkosa secara massal oleh tentara Jepang.

Setelah membaca buku itu, tanya saja bagaimana perasaan pemuda China itu.

Entah mengapa aku tidak mau diajak oleh (alm) Syamsuddin untuk berangkat ke Gresik melihat laga Persegres vs Persema yang amat menentukan. Aku hanya mendengarkan radio RRI saja dari rumah, sungguh mengerikan mendapat laporan pandangan mata laga itu, bukan jalannya laga itu sendiri, tapi drama yang ditampilkan oleh puluhan ribu suporter Persebaya yang ngluruk ke Gresik dengan hati panas, menyesaki stadion Tridharma, membuat panitia tidak berdaya, sekaligus membuat Persema tidak berdaya mengatasi Persegres, 1-0 (Zainul Arifin).

Paginya aku terpana membaca JP yang penuh foto peristiwa Gresik, dalam hati aku berkata, “Kemarin itu sungguh peristiwa besar, terbesar yang pernah terjadi di sepak bola Gresik.”

Sebelum ini, publik Surabaya dan Jawa Timur juga dilanda mendung pekat dengan “Bubar” nya klub Galatama kebanggaan kita semua NIAC Mitra karena banyak sebab. Pemilik NIAC Mitra, A. Wenas, sudah tidak bisa dibujuk lagi dengan kalimat apapun, beliau berujar “Saya sudah tidak gila bola lagi.” Sejak saat itu, klub legendaris penuh cerita itu hanya tinggal kenangan.

Di babak 6 besar, Persib kembali jadi ganjalan Bledug Ijo 2-1 (Kekey Zakaria, Robby Darwis/ Yani Faturrahman). Sambil nonton TV Persib vs Persebaya, aku tiba-tiba merindukan jaman Hadi Ismanto-Joko Malis yang lebih superior ketika berhadapan dengan Persib. Untung Persebaya kemudian bisa mengatasi PSDS 3-2 dan maju ke Semi final melawan PSMS. Sekilas, beberapa tahun belakangan ini PSMS mudah diatasi, tapi kali ini PSMS melawan dengan keras via extra time, “Bledug Ijo” pun digagalkan ke grandfinal oleh Suharto cs dengan skor 2-4.

Aku langsung teringat akan tetanggaku pak Arie Junaedi di Pondok Maritim, dia fans PSMS dan dia yakin PSMS akan Juara, “Kalau sampai PSMS kalah lagi lawan Persebaya, aku janji nggak potong rambut 3 bulan.” Selorohnya. Terbukti, dengan perjuangan keras di babak extra time, Persebaya bisa dikalahkan. Esoknya, pak Ari Junaedy sudah tersenyum selesai potong rambut.

Sayang pak Arie Junaedy harus gigit jari, PSM lah yang keluar sebagai Juara 1992. Dan Bledug Ijo bisa sedikit tersenyum setelah berhasil menekuk Persib 2-1 untuk nangkring di urutan III. (bersambung)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Facebook Comments