Ketika Wawali “Menumpang” Kereta

Wisnu Sakti Buana. Foto: Iwan Iwe/Ej

Keberhasilan Wawali Surabaya menjadi ketua Panpel pagelaran turnamen Piala Presiden zona grup C di Surabaya patut mendapatkan apresiasi. Gelora Bung Tomo benar-benar menghadirkan atmosfir sepak bola yang telah lama dirindukan publik sepak bola tanah air.

Bukan Surabaya jika di tiap laga penting Persebaya memaksa mata nasional dan publik Surabaya tertuju pada laga itu dan menjadikan keuntungan rating pemegang hak siar. This is Surabaya.

Di tengah kesuksesan itu ternyata menggelitik naluri cak Wisnu selaku pribadi dan Bonek. Berbekal jabatan publik sebagai Wawali beliau bersedia menjadi panpel lagi dalam gelaran Liga 1 mendatang. Wawali pasti lebih mengedepankan naluri Boneknya ketimbang jabatan politisnya, walau beliau tahu itu bisa dilakukan.

Anggapan publik beragam dalam menerjemahkan pernyataan beliau yang bersedia menjadi panpel. Kebanyakan menduga ini adalah langkah upaya politis menjadikan Bonek sebagai kantung-kantung konstituente yang masif. Maklum, masa mendatang beliau berpeluang penuh menggantikan Ibu Risma, Wali Kota terbaik dunia itu.

Silvio Berlusconi, mantan Perdana Menteri Italia pernah berendam dalam kubangan kombinasi antara sepak bola dan politik. Regulasi FIFA yang berupaya membebaskan sepak bola dari politik, SARA, dan kampanye yang bersinggungan dengan politik, tampaknya hanya sekadar saja.

Berlusconi menjadi figur penting di klub raksasa AC Milan dan orang numero uno di negeri pizza itu. AC Milan seakan menjadi batu loncatan dan kantung masif untuk karir politik beliau.

Jika Wawali disinyalir beberapa anggapan akan menjadi Berlusconi kecil sepertinya wajar adanya anggapan itu. Wawali seakan baru muncul ke permukaan sepak bola Surabaya, ketika mereka tertatih-tatih, mungkin Wawali saat itu masih disibukkan dengan kegiatan partai dan serba-serbi perebutan kekuasaan di Surabaya.

BACA:  I Love You, Bigman

Kereta yang dianalogikan Presiden Persebaya kini telah melaju. Wawali mencoba untuk menjadi penumpang di dalamnya. Kereta tidak berhenti untuk satu orang, termasuk Wawali. Bukankah persebaya telah berwujud klub profesional yang tidak mencicipi sepeserpun APBD dan fasilitas pemkot? Tak ada lagi pundi pundi keuangan klub dari retribusi KTP, PDAM, pasar, dan parkir. Mengapa Persebaya masih berpikir menjalin kemesraan itu?

Tidak ada yang menjamin Wawali akan hadir sebagai pribadi arek pakis dan bonek, bayang bayang jabatan politisnya akan menjadi sorotan bonek dan publik nasional, besar harapan kiranya Persebaya benar benar bersih dari pejabat publik di posisi vital dan penting, sekalipun itu hanya panitia penyelenggara.

Biarkan kereta ini berjalan dengan profesional. Berisikan figur yang memahami sepak bola dan urusan rumah tangga klub. Sebuah klub yang berdiri dengan kedua kaki secara elegan dan dirindukan semua pesepakbola tanah air. Sebab, kita Persebaya.

Salam Satu Nyali!

Facebook Comments