Satu Tahun Manajemen Baru, Langkah Awal Persebaya Selamanya

Azrul Ananda saat konpers menjelaskan soal surat terbuka untuk Andik. Foto: Joko Kristiono/EJ

Hari ini setahun yang lalu, tepatnya 7 Februari 2017, menjadi salah satu fase kebangkitan Persebaya. Sebelumnya, selama bertahun-tahun Bonek dan stakeholder lain berjuang mengembalikan klub kota pahlawan ini. Sampai kemudian pada 8 Januari 2017 di Bandung, hak Persebaya dipulihkan oleh federasi. Tepat setahun lalu, PT Persebaya Indonesia (PI) selaku pengelola Persebaya mengalihkan 70 persen saham klub kepada PT Jawa Pos Sportainment (JPS).

Langkah strategis ini ditempuh oleh manajemen PT PI untuk kelangsungan roda Persebaya pada kompetisi yang akan diikutinya yaitu Liga 2 2017. Dengan bergantinya mayoritas pemegang saham maka mengubah pula susunan direksi PT PI. Sebelumnya Cholid Goromah adalah Direktur Utama PT PI. Kemudian setelah PT JPS masuk maka pucuk tertinggi PT PI diduduki oleh Azrul Ananda yang menyebut dirinya sebagai Presiden Persebaya.

Dalam pernyataan pertamanya kepada khalayak, Azrul menekankan bahwa pihaknya akan mengelola Persebaya bukan hanya satu atau dua tahun. “Persebaya Selamanya” menjadi slogan awalnya dengan menekankan pada kata Persebaya yang sustainable.

Selama satu tahun bersama Persebaya, manajemen baru ini banyak hal menarik yang bisa menjadi catatan. Baik terkait tentang prestasi tim, hubungannya dengan stakeholder lain, dan lain sebagainya. Menjuarai turnamen Dirgantara Cup adalah prestasi awal Persebaya. Saat itu Persebaya masih ditangani oleh Iwan Setiawan.

Mengawali Liga 2 2017, yang menjadi sorotan adalah harga tiket. Bonek dan manajemen akhirnya berdiskusi dan mencari solusi sebagai jalan tengah. Lepas setelahnya, kasus di Martapura terkait Iwan Setiawan membuat heboh sepak bola Surabaya. Titik puncaknya adalah demo Bonek menuntut dipecatnya Iwan Setiawan. Manajemen merespon tindakan indisipliner Iwan dengan memberi skorsing selama 2 laga sampai akhirnya benar-benar diberhentikan dan diberi denda Rp 100 juta.

BACA:  Distribusi Tiket Kacau, Siapa Yang Salah?

Tanpa waktu lama, Persebaya menunjuk Alfredo Vera mantan pelatih Persipura. Jejak Vera membawa tim Papua menjuarai TSC A membuat optimis Persebaya. Puncaknya 28 November 2017 di Bandung, Persebaya berhasil merebut juara Liga 2 dan lolos ke Liga 1 musim ini. Suka duka sampai mencapai puncak Liga 2 dialami oleh manajemen maupun Bonek itu sendiri.

Menjelang Liga 1, manajemen memutuskan memboyong banyak pemain asal Persipura dan langsung menjadi ramai di media sosial. Manajemen kembali mendapat sorotan. Sorotan paling tajam juga saat merekrut Otavio Dutra dan Robertino Pugliara. Belum selesai sampai di situ, masuklah Arthur Irawan, sosok yang tiba-tiba dikontrak Persebaya. Sampai hari ini belum ada foto resmi pemain yang banyak dijuluki king atau lord di media sosial saat kontrak dengan Persebaya.

Sikap kritis Bonek terhadap manajemen adalah sebuah energi positif. Artinya Bonek selalu perhatian dan tidak acuh dengan langkah manajemen dan tim untuk tujuan prestasi dan kelangsungan hidup Persebaya. Manajemen juga terus berinovasi dan menjadikan Persebaya sebagai klub yang sehat secara finansial.

Hubungan manajemen dengan Bonek haruslah tetap seimbang. Sama kedudukannya dengan porsi masing-masing. Inilah sejatinya kekuatan Persebaya yg bersiap menuju Liga 1 pertama kalinya sejak 2013. Satu tahun bersama Azrul masih banyak hal yang harus dikerjakan bersama. Sekali lagi bersama bonek dalam satu langkah satu visi satu nyali di posisi masing-masing. Jaga terus komunikasi.

Jayalah Persebaya! Persebaya Selamanya!

Facebook Comments