Bonek dan Dunia Politik

8
Foto: Yosia for EJ

2018-2019 adalah tahun politik bagi warga Indonesia. Salah satu ritual demokrasi politik Indonesia memasuki masa pemilihan umum baik pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden beserta legislatifnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, ini akan berhubungan langsung dengan sepak bola dan stakeholder-nya.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. Juga bisa diartikan sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama seperti teori Aristoteles. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik berarti antara lain (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan) atau juga segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.

Kompetisi Liga 1 musim ini jadwalnya sedikit banyak akan terpengaruh dengan agenda politik. Banyak juga pengurus klub ataupun pemilik klub yang masuk dalam kepartaian. Begitu juga dengan para suporternya, tak terkecuali bonek sebagai suporter Persebaya. Semua individu yang sudah memenuhi syarat memiliki hak politik yang sama sebagai warga negara.

Belakangan banyak beredar foto tokoh politik yang mulai memasuki dunia suporter. Bukan sesuatu yang baru memang, setiap musim politik selalu ada yang seperti itu. Begitu juga di dalam Bonek sendiri juga mengalami hal serupa. Bonek memang bukan suatu organisasi resmi. Setiap orang bisa mengakui bahwa dirinya Bonek. Karena di dalam dunia Bonek ada quote yang bunyinya “tidak ada Bonek yang lebih Bonek”. Bonek sebagai individu mempunyai hak berpolitik dan memilih ataupun dipilih. Itu dilindungi dan dijamin oleh undang-undang. Sebagai contoh dalam sebuah elemen atau komunitas Bonek juga ada proses politik. Seperti pemilihan ketua komunitas.

BACA:  Mbonek dengan Niat Nonton Persebaya

Yang menjadi persoalan adalah jika dalam berpolitik, individu ataupun kelompok Bonek membawa atribut atau simbol-simbol Bonek itu sendiri. Ini tentu masih debatable. Tapi sebagai etika yang sebenarnya bahwa untuk kegiatan politik praktis siapa pun wajib untuk tidak beratribut Bonek. Bukan berarti melarang individu untuk berpolitik tetapi lebih sebagai menjaga posisi Bonek sebagai suporter Persebaya bukan hal lain dalam politik praktis.

Saat para tokoh politik yang selalu “mengaku” sebagai Bonek tentu tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah mengingatkan para tokoh tersebut agar tidak memakai atribut Bonek. Kemudian massa atau peserta kampanye atau sosialisasi partai juga lebih baik untuk memakai atribut dari partai atau tokoh yang didukungnya.

Prinsip “seduluran saklawase” dalam dunia Bonek juga harus tetap terjaga. Bonek sebagai individu sudah pasti berbeda-beda dalam sikap dan pilihan politik. Di tahun politik ini, kedewasaan Bonek teruji kembali antar Bonek sendiri. Tetaplah menjaga silaturahmi dengan sesama walaupun beda pandangan politik. Stadion sepak bola adalah sebuah tempat yang menjadi semacam kuil bagi semua tanpa membedakan pilihan politik apapun.

Berpolitik bukan jalan sesat, ini adalah salah satu proses demokrasi ketatanegaraan Indonesia. Banyak tokoh sepakbola di dunia juga berpolitik. Bahkan George Weah bisa menjadi seorang presiden Liberia. Memisahkan dunia sepak bola Indonesia dari politik adalah sebuah keniscayaan. Dalam kehidupan bernegara semua pasti tersentuh oleh politik. Jadi bisa menempatkan diri dan melepaskan simbol-simbol Bonek dalam berpolitik adalah jalan lebih baik. Tetaplah berpolitik jika ingin memasuki dunia politik dan tetaplah menjadi Bonek dengan jalan yang baik untuk semua.

Salam Satu Nyali!

Facebook Comments