Persebaya, Kenangan Masa Lalu: Tur Maut (21)

Gesekan antara arek Surabaya dan arek Malang sangat luar biasa gemanya, menjadi pembicaraan hangat di segenap lapisan masyarakat dengan tema “Apa latar belakang penyebab terjadinya gesekan tersebut.” Lalu, dibumbui berita tentang sweeping KTP di Malang dan Surabaya, serta pelemparan dan perusakan mobil plat L banyak terjadi, lalu berbalas tindakan serupa di Surabaya.

Persebaya, Kenangan Masa Lalu: Malang, Sebuah Lembaran Hitam (20)

Lembaran ini sebenarnya dimulai dengan gemilang ketika pasukan muda Persebaya (Bledug Ijo) mengobrak-abrik PSM dengan 3 gol tanpa balas, dilanjutkan dengan menggasak Persema 2-0, draw vs Persiba, Persegres dan PSIS, masing-masing 1-1. Bledug ijo pun memimpin klasemen seperti yang selalu sukses dilakukan kakak-kakak seniornya tahun-tahun sebelumnya.

Persebaya, Kenangan Masa Lalu: Perang Bubad (19)

Sebenarnya, aku malas menulis episode ini, tapi bagaimana lagi, aku sudah komitmen dalam hati mau berbagi pengalaman menjadi suporter Persebaya, menjadi Bonek (Lawas) mumpung sedang “Mood” untuk menulis, yah setidaknya sampai cerita tahun 2004.

Persebaya, Kenangan Masa Bujang: Final Lagi (18)

Di lapangan PT SIER, Rungkut Industri, aku bertemu teman lama dari IM tapi lupa namanya (Mardiyanto? mungkin), dia menyapaku, bersalaman erat dan bercerita. “Tak kiro kamu yang jadi kiper Persebaya, waktu aku nonton Persebaya, ingatanku langsung kepadamu kalau melihat potongan rambutnya Putu Yasa, aku lupa namamu hanya ingat wajah saja serta nama belakangmu yang berbau Bali. Eh, ternyata bukan.” Katanya sambil tersenyum.

Persebaya, Kenangan Masa Bujang: Sepak Bola Gajah, Mike Tyson, dan Treble Winner (17)

Ada semacam dendam kolektif dari masyarakat Surabaya dan Jawa Timur, khususnya suporter Green Force terhadap kekalahan 0-1 dari PSIS di Grandfinal lalu, seperti ada rasa tidak terima. Maka, akhir tahun 1987 ini sebagai awal dari Kompetisi Divisi Utama 1987-1988 segenap elemen bertekad untuk merebut Piala dan Gelar Juara yang dicuri PSIS.

Persebaya, Kenangan Masa Bujang: Stasiun Senen (16)

Jika kisah-kisahku sebelumnya selalu berisi cerita kurang duit melulu, kali ini agak mendingan, karena sudah punya uang sendiri, hihihi. Ceritanya, meski nilai ijazah SMA-ku termasuk kurang memuaskan, tapi ilmu eksakta yang aku terima, lumayan melekat di otak. Buktinya, aku mampu lolos tes masuk ke sebuah BUMN terkenal milik negeri.

Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Ronny Pasla (15)

Antara tahun 1980 sampai 1986, aku sama sekali tidak pernah menyaksikan laga Persebaya secara langsung di stadion seperti dulu, terkecuali membaca beritanya di koran atau majalah. Pesona NIAC Mitra terlampau menyilaukan, membludaknya jumlah penonton di setiap laga home maupun away, tidak menyisakan sejengkalpun tempat duduk. Semua itu membuat suporter sejenak melupakan Persebaya.

Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Hibernasi (14)

Tahun 1979 berlalu via serangkaian kenangan pahit, sumpek bener, Persebaya hancur lebur dan PSSI Sea Games “Tak Mampu” membalas sakit hati masyarakat bola akan perlakuan Malaysia di Sea Games 1977. Justru kita dipermalukan 0-1 oleh Soh Chin Aun dkk di partai final, padahal skuad PSSI didominasi oleh banyak pemain NIAC Mitra.

Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Hancur Lebur (13)

Tahun sudah berganti dari 1978 ke 1979, ketika aku pulang dari sholat Jumat di Masjid Al Abror, Jl Simolawang, sambil melirik kios penjual koran yang memajang koran Kompas dan Jawa Post. Di situ ditulis “Simpson Akan Kawal Abdul Kadir.”

Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Juara Paruh Musim (12)

Kekalahan telak dari Persija dan PSMS di Piala Fatahillah membuat para pendukung pesimis Persebaya bisa mempertahankan gelar. Apalagi di laga pertama Persebaya berhadapan dengan PSM yang terkenal ngotot. Kembali, radio menjadi alat monitoring langsung, karena live streaming di internet belum ada. Bahkan zaman Old hal yang demikian tidak terbayangkan sama sekali. Masih dalam taraf (dianggap) khayalan.

PALING BARU